TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Mataram (Unram), Maulana, menantang Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk berdiskusi langsung mengenai hasil kajian mahasiswa terhadap sejumlah program pemerintah pusat.
Tantangan tersebut disampaikan Maulana setelah berhasil menyerahkan dokumen kajian kepada Presiden Prabowo saat kunjungan kerja meresmikan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/7/2026).
"Menyikapi penyerahan langsung kajian Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Mataram kepada Presiden Republik Indonesia, saya berharap dan menantang kepada Presiden Republik Indonesia untuk membaca dan mendiskusikan langsung bersama kami Dewan Perwakilan Mahasiswa Unram," ujar Maulana, Senin (13/7/2026).
Ia menegaskan, aksi menghentikan iring-iringan kendaraan Presiden dilakukan merupakan gerakan murni mahasiswa dan tidak ditunggangi oleh kepentingan pihak mana pun.
"Dan saya menegaskan gerakan yang kami lakukan pada hari Jumat tersebut, tidak pernah ditunggangi dan ada yang ditunggangi oleh pihak atau oknum mana pun," katanya.
Maulana berharap aksinya dapat menjadi contoh bagi mahasiswa dan elemen masyarakat di berbagai daerah untuk memanfaatkan kunjungan Presiden sebagai momentum menyampaikan hasil kajian secara langsung.
"Dan saya berharap kepada seluruh elemen masyarakat, elemen mahasiswa, menjadikan gerakan tersebut sebagai contoh ketika Presiden RI datang ke daerah kalian dan menjadikan momentum tersebut sebagai proses penyampaian kajian dari teman-teman mahasiswa serta elemen masyarakat," ungkapnya.
Sebelumnya, aksi Maulana menghadang iring-iringan mobil Presiden Prabowo yang dikawal Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) viral di media sosial. Dalam video berdurasi sekitar 14 detik, mahasiswa yang mengenakan almamater Universitas Mataram itu terlihat menerobos ke tengah jalan sambil membawa sebuah dokumen.
Baca juga: Mahasiswa Unram Bongkar Isi Kajian yang Diserahkan Langsung ke Presiden Prabowo
Dokumen tersebut kemudian diterima langsung oleh Presiden Prabowo. Tak lama berselang, seorang anggota kepolisian mengamankan Maulana sehingga iring-iringan Presiden dapat kembali melanjutkan perjalanan.
Maulana mengatakan aksinya dilakukan untuk menyampaikan secara langsung hasil kajian mahasiswa mengenai evaluasi terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
"Saya langsung menemukan di jalan Presiden Prabowo. Niatnya saya mau ke Meninting, tapi bertemu di jalan," ujarnya.
Menurut dia, dokumen tersebut memuat evaluasi terhadap berbagai program pemerintah, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, hingga persoalan dugaan gratifikasi.
"Untuk kajian itu isinya tentang evaluasi total kebijakan Prabowo serta beberapa kondisi MBG di NTB, termasuk masalah gratifikasi," katanya.
Presiden Prabowo Subianto mengakui masih terdapat berbagai persoalan dalam pelaksanaan MBG, termasuk potensi penyimpangan anggaran.
"MBG kita teruskan, tapi kita mengerti dan kita sadar, banyak juga yang nyusup ke tubuhnya MBG untuk jadi maling di situ," kata Prabowo saat kunjunga d meresmikan Bendungan Meninting.
Karena itu, Prabowo meminta seluruh kepala daerah aktif mengawasi pelaksanaan program tersebut.
"Maka saya minta, gubernur, bupati, camat, kepala desa boleh meriksa semua dapur MBG. Saudara periksa, laporkan ke Kepala BGN, kalau perlu lapor langsung ke saya," tegasnya.
Presiden juga mengajak masyarakat memanfaatkan media sosial untuk melaporkan dugaan penyimpangan.
"Gampang ngomong di TikTok, langsung aku kirim tim untuk selesaikan, enggak usah susah-susah nomor telepon ini," ujarnya.
Selain itu, Prabowo meminta aparat penegak hukum ikut melakukan pengawasan tanpa menghambat jalannya program.
"Dandim, Kapolres, Kapolsek, silakan periksa, yang artinya baik. Jangan manggil-manggil ngerjain, jangan," katanya.
(*)