Harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Senin (13/7). Kenaikan ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah usai Iran memperluas serangan ke negara-negara Teluk menyusul serangan Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari , harga minyak mentah berjangka Brent naik US$ 2,34 atau setara 3,08% menjadi US$ 78,35 per barel pada pukul 23.11 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,21 atau setara 3,09% menjadi US$ 73,62 per barel.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas komersial, namun pernyataan tersebut berlawanan dengan pihak Iran. Iran sempat menutup selat tersebut usai ada kapal yang melintasi rute terlarang dan sempat mendapat serangan.
Akibat simpang siur informasi tersebut, hanya enam kapal yang melewati Selat Hormuz pada Minggu kemarin berdasarkan data Kpler. Angka tersebut menjadi terendah dalam lima pekan terakhir.
Meningkatnya serangan ini memicu keraguan mengenai perjanjian AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu. Padahal kesepakatan tersebut bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang usai 60 hari masa negosiasi.
Dalam laporan bulanannya pada Jumat lalu, International Energy Agency mencatat pasokan minyak dunia meningkat 4,1 juta barel per hari (bpd) pada Juni usai perjanjian sementara tersebut diteken. Namun, angka ini masih 9,4 juta bpd di bawah tingkat sebelum perang terjadi.
Analis pasar IG Tony Sycamore, mengatakan kenaikan harga minyak masih relatif terkendali. Menurutnya, hal tersebut masih menunjukkan bahwa pasar beranggapan gejolak saat ini hanyalah eskalasi di tengah gencatan senjata yang rapuh, bukan berarti gencatan senjata tersebut telah runtuh total.
"Seberapa akurat hal itu, masih harus kita lihat," ujarnya.
Saksikan Live DetikPagi :





