BANGKAPOS.COM, BANGKA - Warga yang bermukim di pesisir Kepulauan Bangka Belitung diminta meningkatkan kewaspadaan dalam sepekan ke depan, terutama pada malam hari.
Banjir pesisir atau rob diprediksi mengepung sejumlah wilayah hingga 17 Juli 2026 karena fenomena super new moon yang terjadi pada 14 Juli 2026.
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Depati Amir Pangkalpinang, Bimo Satria Nugroho, mengatakan super new moon merupakan kondisi ketika fase bulan baru bertepatan dengan posisi bulan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi atau perigee.
Fenomena tersebut diperkirakan memicu peningkatan pasang maksimum air laut mulai 12 hingga 17 Juli 2026, dengan ketinggian pasang diprediksi mencapai 3,1 meter pada pukul 19.00–21.00 WIB.
Bimo menambahkan, fenomena tersebut berbeda dengan gerhana. Dia menyebut gerhana hanya terjadi apabila posisi Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus yang tepat.
“Kalau posisi matahari benar-benar sejajar memang bisa terjadi gerhana, tetapi pada fenomena super new moon kali ini tidak terjadi gerhana,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan data historis serta prediksi pasang surut yang dilakukan BMKG, banjir rob berpotensi terjadi di sejumlah wilayah pesisir Bangka Belitung, meliputi pesisir Mentok (Kabupaten Bangka Barat), Sungailiat dan Merawang (Kabupaten Bangka), Taman Sari, Gabek, Pangkalbalam, dan Bukit Intan (Kota Pangkalpinang), Koba (Kabupaten Bangka Tengah), Tanjungpandan (Kabupaten Belitung), serta Manggar dan Gantung (Kabupaten Belitung Timur).
BMKG mengingatkan kondisi tersebut berpotensi mengganggu berbagai aktivitas masyarakat di kawasan pesisir, mulai dari kegiatan bongkar muat di pelabuhan, aktivitas permukiman pesisir, hingga kegiatan perikanan dan tambak.
BMKG pun mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, pelaku usaha perikanan, serta wisatawan yang beraktivitas di kawasan pantai dan laut agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat pasang maksimum pada petang hingga malam hari.
“Masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir diimbau tetap waspada, terlebih apabila pasang maksimum bertepatan dengan cuaca buruk maupun angin kencang. Sebaiknya mengurangi atau menghindari aktivitas di laut pada waktu-waktu tersebut,” tutur Bimo.
BMKG juga meminta masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan kondisi maritim melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak pasang maksimum air laut. (t2)