Prabowo Beberkan Asal-usul Koperasi Merah Putih: Solusi Jeratan Utang
Darwin Sijabat July 13, 2026 11:04 AM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, membagikan sebuah kisah personal yang mendalam di balik lahirnya cetak biru Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nasional Merah Putih (KNMP). 

Di hadapan ribuan insan koperasi, Kepala Negara menegaskan sistem ekonomi kerakyatan ini merupakan jawaban atas jeratan utang lintah darat yang masih menghantui para petani di akar rumput.

Visi besar tersebut dipaparkan secara gamblang oleh Presiden Prabowo saat memberikan pidato pada peringatan Hari Koperasi Nasional yang digelar di Indonesia Arena, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Presiden Prabowo mengungkapkan embrio konsep Koperasi Merah Putih ini sebetulnya sudah mengendap di dalam benaknya sejak puluhan tahun silam, tepatnya sewaktu ia masih aktif berdinas sebagai perwira militer. 

Pengalaman melihat kemiskinan ekstrem di pelosok wilayah penugasan meninggalkan bekas yang mendalam.

“Saya lihat di situ rakyat kelaparan, saya lihat ada rakyat yang mati kelaparan dan saya tidak bisa berbuat apa-apa karena makan saya terbatas untuk kompi saya,” kenang Prabowo emosional.

Pengalaman getir di desa-desa terpencil dan kawasan pegunungan itu menuntunnya pada satu kesimpulan: desa wajib memiliki kemandirian pangan. 

Namun, di saat bersamaan, Indonesia juga harus bertransformasi menjadi negara industri agar bisa melompat menjadi negara maju.

Baca juga: Daftar Lengkap Dana Desa 2026 di Jambi, DD Dipotong Untuk Koperasi Merah Putih

Baca juga: Misteri di Balik Kasus Jampidsus Febrie: Siapa Pemilik Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M?

“Nah untuk itu akhirnya dari dulu saya semakin yakin satu-satunya jalan untuk menjaga rakyat yang paling bawah adalah kekuatan koperasi,” tegasnya.

Paradoks Petani: Produktivitas Naik, Utang Mencekik

Kendati ide ini sudah lama matang di kepalanya, Prabowo mengakui bahwa eksekusi berskala nasional baru bisa diwujudkan saat ini setelah dirinya memegang tongkat estafet kepemimpinan tertinggi negara. 

Tanpa adanya otoritas dan wewenang politik yang kuat, membangun benteng ekonomi bagi masyarakat kecil dinilainya akan memakan waktu yang sangat lama.

“Kalau orang modalnya kecil atau tidak punya modal, susah dapat kredit di mana-mana,” imbuhnya.

Di awal masa jabatannya, Prabowo langsung menekan tuas kebijakan guna mengejar swasembada pangan. Langkah nyata diambil lewat penurunan harga pupuk secara masif serta menaikkan harga pembelian gabah agar para petani bersemangat meningkatkan produktivitas. Strategi ini berhasil meningkatkan hasil panen.

“Kita jamin hasil petani naik,” kata Kepala Negara.

Namun, lompatan produktivitas itu ternyata menciptakan paradoks baru di lapangan. 

Prabowo Subianto terkejut saat menerima laporan bahwa lonjakan hasil panen tidak serta-merta mengerek kesejahteraan petani akibat jeratan utang dengan bunga yang tidak masuk akal.

“Tapi saya dapat laporan: Pak, percuma Pak, hasil mereka naik. Kenapa? Karena hutang mereka banyak. Karena pertanian itu panennya itu 100 hari. Nah selama 100 hari anaknya ada yang sakit, anaknya harus sekolah, mungkin ada kerusakan ini, dia butuh uang, dia pinjam uang dan bunganya luar biasa gila,” ungkap Prabowo menjabarkan realitas getir di pedesaan.

Target 81.000 Desa dan Pintu Penyaluran Subsidi

Merespons jeratan tersebut, Prabowo menilai ketersediaan akses kredit berbunga ringan di tingkat tapak menjadi hal yang mendesak. 

Dari sinilah lahir kebijakan untuk mendirikan koperasi simpan pinjam di setiap jengkal wilayah Indonesia.

Baca juga: 5 Calon Manajer Meninggal saat Latsarmil, Berapa Gaji Manajer hingga Pengurus Koperasi Merah Putih?

Baca juga: Kronologi Lengkap Buruh Asal Palembang Gasak Motor Teman Wanita di Hotel Jambi

“Karena itulah angka 81.000 muncul, karena desa dan kelurahan kita di seluruh Indonesia jumlahnya adalah 81.000,” urai Presiden merujuk pada target sebaran Koperasi Merah Putih.

Dalam perkembangannya, fungsi koperasi ini diperluas tidak hanya untuk urusan simpan pinjam, melainkan juga diplot sebagai agen penyalur resmi barang-barang kebutuhan pokok yang disubsidi oleh negara. 

Skema ini sengaja diterapkan untuk memotong rantai mafia ekspor-impor maupun spekulan yang kerap menyelewengkan hak rakyat kecil.

“Dan akhirnya muncul lagi bahwa oh ya pupuk bersubsidi bisa di koperasi. Kemudian gas tabung-tabung gas itu bisa di koperasi. Kemudian hampir semua barang-barang subsidi bisa kita salurkan melalui koperasi supaya tidak diselewengkan!” pungkas Presiden Prabowo.

Naskah Akademik

Saat ide sudah final, kata Prabowo ia lalu menyusun langkah langkah implementasinya. Saat rapat bersama anggota kabinet ia dihadapkan pada beberapa pilihan.

Di antaranya dengan pembentukan secara bertahap dimulai menyusun naskah akademik, lalu pilot project.

“Pak sebaiknya bikin naskah akademik dulu Pak. Naskah akademik itu biasanya 8 bulan. Rapat sini rapat situ, rapat sini rapat situ ya kan. Dari naskah akademik nanti kita bikin pilot project Pak. Pilot project itu 2 tahun. Habis itu kita coba di 100 desa dulu Pak,” katanya.

Prabowo mengaku tidak mau mengikuti pilihan tersebut karena memakan waktu yang lama. Apabila diikuti, 81 ribu Koperasi Merah Putih baru terwujud setelah 8 tahun.

“Ada 81.000 desa dan kelurahan, rakyat itu suruh nunggu 8 tahun? Saya... saya tidak mau,” katanya.

Akhirnya kata Prabowo dirinya mengambil langkah praktis, dengan langsung mengimplementasikan pembentukan Koperasi Merah Putih, tanpa naskah akademik dan pilot project terlebih dahulu. Hal itu karena ia menilai rakyat tidak bisa menunggu lama.

“Mereka memerlukan tindakan cepat, kita tidak bisa dengan cara-cara biasa saudara-saudara sekalian. Kita harus berpikir besar, berpikir cerdas, berpikir praktis, jangan teoritis,” pungkasnya.

Baca juga: Harga Sawit di Jambi Hari Ini Rp3.856 per Kg di Pabrik, Di Petani Kisaran Berapa?

Baca juga: Misteri di Balik Kasus Jampidsus Febrie: Siapa Pemilik Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M?

Baca juga: Rencana Politik Demokrat Jambi untuk Pemilu 2029, Pengurus hingga Tingkat RT

Baca juga: halocoko Bisa Mengubah Es Krimmu Jadi Jersey Authentic Piala Dunia, Begini Caranya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.