Penjual Tahu Gejrot Cekcok dengan Penjual Es Teler di Tasikmalaya, Mantan Napiter Bikin Ledakan
Erik S July 13, 2026 11:36 AM

TRIBUNNEWS.COM, TASIKMALAYA –Cekcok antara seorang penjual tahu gejrot berinisial U dengan pedagang es teler berinisial G di Tasikmalaya, Jawa Barat, berujung terjadi ledakan.

Ledakan tersebut terjadi di Kawasan pedestrian Komplek Olahraga Dadaha, Cihideung, Kota pada Sabtu (11/7/2026) menjelang tengah malam.

Keributan bermula sekitar pukul 23.00 WIB ketika keduanya adu mulut. Suasana memanas selama hampir setengah jam. Situasi kian pelik saat pedagang jagung berinisial S ikut campur guna membela G, yang rupanya masih kerabat dekatnya.

Keadaan kian tak terkendali sewaktu keributan mereda. Seorang penjual es teh berinisial A mendatangi area tersebut dan secara tak terduga memicu sebuah ledakan di jalur pedestrian.

Dentuman keras itu spontan membuat para pedagang lain panik ketakutan, berhamburan menyelamatkan diri, sembari berteriak histeris.

Pascaledakan, situasi berangsur sepi dan keempat pedagang yang terlibat memilih pulang ke rumah masing-masing sekitar pukul 01.10 WIB, sementara pedagang lain mencoba melanjutkan aktivitas mereka.

Pihak UPTD Dadaha yang mendapat laporan segera meneruskan informasi ini ke Polres Tasikmalaya Kota. Personel Polres Tasikmalaya Kota bersama Polsek Cihideung tiba di lokasi sekitar pukul 01.30 WIB guna melakukan penanganan awal.

"Awalnya cuma cekcok aja antara pedagang tahu gejrot sama es teler. Tapi selang beberapa menit, pedagang lain inisial S melerai kejadian. Usai dilerai, ada pedagang lagi si A dan langsung melakukan peledakan," ungkap Yuda, pedagang cireng yang lapaknya bersebelahan dengan U, saat ditemui Minggu (12/7/2026).

Yuda menceritakan bahwa situasi awalnya landai sejak para PKL menggelar lapak pada sore hari. Namun, ketegangan mendadak pecah saat larut malam.

"Kalau cekcok sih sebentar paling 30 menit, tapi pedagang lain si A malah bikin rame dengan melakukan peledakan, padahal sama saya sudah dilerai," tambahnya.

Baca juga: Ledakan Toko Bangunan di Purwakarta Tewaskan Satu Orang, Polisi Belum Ungkap Penyebab

Ia mengonfirmasi keempat orang tersebut langsung membubarkan diri di tengah malam setelah ditenangkan warga sekitar.

"Pukul 01.30 mulai datang polisi banyak, dari Brimob, Polsek juga nanyain kejadian. Karena posisi dagangan saya samping tahu gejrot yang cekcok sama pedagang es teler," jelas Yuda.

Ia mengatakan sosok penjual es teler adalah seorang ustaz yang dikenal supel, sementara pihak lawan bicaranya diduga dalam kondisi mabuk.

"Kalau pedagang es teler itu ustaz, tapi yang mulai adu pedagang mulut tahu gejrot dan mulutnya bau minuman," tuturnya.

Menindaklanjuti kekacauan ini, aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan tiga orang yang diduga kuat terlibat langsung dalam insiden yang mengguncang kawasan olahraga tersebut pada Minggu (12/7/2026).

Ketiganya, yakni S, U, dan A atau AAS, kini tengah menjalani pemeriksaan intensif penyidik.

"Kami dari Polres Tasikmalaya Kota bahwa pada Sabtu malam ada lapdu UPTD Dadaha terjadi permasalahan mengakibatkan adanya ledakan," ucap Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Andi Purwanto.

Baca juga: Iran Dibombardir Pasukan AS, Ledakan Guncang Kota-kota Strategis di Tiga Provinsi

AKBP Andi menerangkan bahwa jajarannya langsung menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama personel Satuan Brimob sejak malam kejadian demi menyisir sisa-sisa material ledakan.

"Saat ini kami melakukan penyelidikan hasilnya akan kami sampaikan. Karena, untuk sementara kami mengamankan tiga orang terkait peristiwa tersebut," tegasnya.

Perkembangan terbaru menunjukkan tim gabungan dari Densus 88 Antiteror turut diturunkan untuk menyisir dua lokasi berbeda sekaligus menyita sejumlah barang bukti dari kediaman salah satu terduga pelaku.

"Tadi kami sudah melakukan olah TKP dan tidak ada korban jiwa, tapi ada beberapa barang bukti yang diamankan dari rumah salah satu terduga kejadian pada Sabtu malam," tutur AKBP Andi.

Kapolres mengimbau publik untuk tidak panik dan bersama-sama menjaga kondusivitas wilayah demi kenyamanan bersama.

"Tetap menjaga ketertiban dan saling bisa mengerti dan memahami, sehingga lingkungan di masyarakat bisa kondusif," pungkasnya.

Mantan Napi Terorisme

Densus 88 kemudian menangkap A di kediamannya di kawasan Cilembang, Cihideung, Kota Tasikmalaya, pada Minggu (12/7/2026).

Aparat turut menyita beberapa barang bukti penting, termasuk sebilah senjata tajam jenis belati, senapan mimis, serta beberapa buku.

A disebut warga merupakan mantan narapidana terorisme (Napiter) dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Nurdin (54), seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa identitas A sebagai mantan narapidana kasus terorisme kelompok JAD sebenarnya sudah diketahui, terlebih statusnya masih berada di bawah program pembinaan.

Guna menyambung hidup, A sehari-hari mendorong gerobak dagangannya menjajakan es teh manis di trotoar Komplek Dadaha.

Baca juga: Kronologi 3 Warga Bandung Barat Tewas Akibat Ledakan Mortir, Hendak Bongkar dan Ambil Logam

"Pelaku memang mantan Napiter, tapi selama ini sudah kembali ke NKRI serta memilih berdagang es teh di Dadaha," ucapnya kepada TribunPriangan.com, Minggu (12/7/2026).

Nurdin mengisahkan, di balik kesehariannya berdagang, A dikenal mempunyai kemampuan khusus dalam merakit petasan, yang biasanya diproduksi dan dijual sebagai usaha sampingan saat momen hari raya Lebaran maupun pergantian tahun baru.

"Asalnya Tasikmalaya, tapi domisili di Cilembang bareng istrinya mengontrak di sini," tuturnya.

Ketua RT Terkejut

Di sisi lain, Ketua RT 02/13, Ade Mumu, mengaku terkejut dengan adanya penggeledahan dan penangkapan pada Minggu (12/7/2026) ini. 

Ia memaparkan bahwa koordinasi penangkapan memang berawal dari riwayat keributan di Dadaha yang berbuntut pada penemuan barang terlarang milik tersangka.

"Sudah berkeluarga dan mengontrak dua bulan dan saya juga sebagai RT baru tahu tadi. Ada barang bukti yang ditemukan, tapi tidak ada bahan peledak, hanya ada buku dan senapan mimis," jelas Mumu.

Saat disinggung perihal rekam jejak tersangka yang kerap memproduksi petasan, Mumu mengaku tidak mengetahuinya lantaran sang tetangga dikenal sangat tertutup dalam kehidupan sosial.

"Kalau jual petasan tidak tahu, malah tahunya penjual teh manis. Dan beliau juga orangnya tertutup tidak bersosialisasi dengan warga sekitar," ungkapnya.

Suasana di sekitar lokasi penangkapan terpantau cukup terisolasi. Rumah kontrakan yang ditempati A tergolong sederhana dengan ukuran yang kecil, bercat dinding putih bersih dipadu pintu berkelir biru.

Akses menuju bangunan tersebut pun harus melewati gang yang sangat sempit dan hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan roda dua saja.

Faktor aksesibilitas yang terbatas ini ditambah dengan sikap apatis terduga pelaku membuat jajaran pengurus RT maupun RW tidak mendeteksi asal-usul maupun aktivitas mencurigakan sejak awal, sampai akhirnya pasukan antiteror mengepung lokasi tersebut.

"Informasinya baru ngontrak dua bulan, dan istrinya juga dagang di pasar," ucap warga sekitar Yedi kepada TribunPriangan.com.

Yedi mengonfirmasi bahwa pola hidup harian terduga pelaku memang sangat berjarak dari komunitas warga di permukiman tersebut, di mana ia selalu langsung masuk ke dalam rumah setiap kali selesai berjualan.

"Terduga pelaku juga pedagang tapi orangnya tertutup, dan setiap pulang dagang langsung ke rumah. Karena jarang bersosialisasi dilingkungan sekitar," jelasnya.

Rangkaian penyidikan di lapangan kini ditindaklanjuti dengan penggeledahan menyeluruh oleh personel Densus 88 Antiteror di dalam area rumah kontrakan A.

Langkah sterilisasi dan pengumpulan dokumen serta senjata tersebut diprioritaskan demi mengungkap motif utama di balik aksi nekat peledakan di ruang publik.

 

dan

Rekam Jejak Penjual Es Teh Pemicu Ledakan Cekcok PKL di Tasikmalaya: Warga Kenal Sebagai Eks Napiter

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.