Ada Anggota Keluarga Positif TB? Yuk, Manfaatkan Terapi Pencegahan Gratis dari Negara
Content Writer July 13, 2026 11:36 AM

TRIBUNNEWS.COM - Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu diwaspadai.

Berdasarkan Global TB Report 2025, Indonesia menempati posisi kedua di dunia dengan jumlah pasien TB terbanyak setelah India. Diperkirakan terdapat sekitar 1.080.000 kasus dan 126.000 kematian setiap tahunnya, dan setiap menit, 2 orang didiagnosis menderita TB; setiap 4 menit, 1 orang meninggal.

Tingginya angka kesakitan dan kematian akibat TB tidak terlepas dari sifat penyakit ini yang mudah menular, terutama pada orang yang memiliki kontak erat dengan pasien karena bakteri TB mudah menyebar melalui udara saat pasien batuk, bersin, atau berbicara.

Oleh karena itu, ketika seseorang dinyatakan positif TB, perhatian juga perlu diberikan kepada orang-orang terdekat  yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan TB. Menurutnya, penyakit ini bisa disembuhkan jika terdeteksi sejak dini sehingga pasien bisa menjalani pengobatan sampai tuntas.

“TB ini menular dan jangan dianggap remeh. Tapi pengobatannya ada. Kalau ketahuan sejak awal, dikasih minum obat pasti sembuh dan tidak menularkan lagi,” kata Menkes Budi usai peluncuran ‘Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG)’ di Lapas Kelas IIA Ngaseman, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Senin (29/6/2026). 

Baca juga: Kemenkes Sebut Stigma Jadi Penghambat Utama Penanganan TB di Indonesia

Kenapa Orang Serumah Wajib Skrining?

TB menular melalui udara ketika seseorang dengan TB aktif batuk, bersin, atau berbicara. Orang yang berada dalam jarak dekat dan menghirup udara yang mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis berisiko tertular.

Ada dua kondisi infeksi TB yang perlu diketahui:

  • TB laten

Kondisi ketika bakteri TB berada di dalam tubuh, tetapi belum menyebabkan gejala dan tidak menular. Namun, apabila daya tahan tubuh menurun, TB laten dapat berkembang menjadi TB aktif.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin Paulus Octavianus, pernah mengatakan bahwa kuman TB bisa berada dalam kondisi tidak aktif atau “dormant” di tubuh seseorang yang terlihat sehat.

  • TB aktif

Kondisi ketika bakteri berkembang dan menyebabkan gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, keringat malam, tubuh terasa lemas, hingga penurunan berat badan. Pada tahap ini, TB dapat menular kepada orang lain.

Karena itulah, pemerintah mendorong langkah penting pemeriksaan kontak erat melalui proses skrining, agar orang yang berisiko dapat segera diketahui kondisinya.

“Selama ini, yang diobati hanya mereka yang terdiagnosis. Padahal, semua orang berisiko tertular. Untuk itu, program kami sekarang, mendorong agar seluruh anggota rumah tangga pasien TB harus diperiksa melalui CKG, termasuk tensi darah, gula darah, dan rontgen. Jika negatif, wajib terapi pencegahan (TPT) seminggu sekali selama 12 minggu,” ujar Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus saat mengunjungi Puskesmas Way Halim II, Selasa (14/4/2026).

Baca juga: Bukan Cuma Paru-paru, TB Bisa Serang Jantung pada Anak, Kenali Gejala Perikarditis

Apa Itu Terapi Pencegahan TB (TPT)?

Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) adalah serangkaian pengobatan yang diberikan kepada orang yang berisiko tinggi tetapi belum menunjukkan gejala mengidap TB. 

Tujuan dari terapi ini adalah untuk mematikan kuman ‘tidur’ sebelum mereka berkembang menjadi TB aktif yang berbahaya.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pemberian TPT menjadi salah satu strategi penting dalam memutus rantai penularan TB, terutama bagi orang yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan pasien TB aktif.

Kabar baiknya, masyarakat tidak perlu khawatir soal biaya. Pemeriksaan skrining TB dan pemberian TPT bagi kelompok yang memenuhi kriteria dapat diakses secara gratis melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). 

Saat ini, kegiatan tersebut dilakukan secara masif hingga ke tingkat desa dan kelurahan melalui posyandu dan kantor pedukuhan. Berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengakses fasilitas tersebut.

1.  Mendatangi fasilitas kesehatan terdekat

Masyarakat dapat mengakses puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan di daerah setempat untuk menceritakan riwayat kontak dengan pasien TB.

2.  Mengikuti pemeriksaan skrining TB

Tenaga kesehatan kemudian akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah terindikasi gejala TB atau tidak. Pemeriksaan dapat mencakup evaluasi kesehatan, pemeriksaan penunjang sesuai kebutuhan, hingga rontgen.

3. Mendapatkan terapi sesuai hasil pemeriksaan

Jika terdeteksi TB aktif, pasien akan mendapatkan pengobatan TB. Namun, jika tidak ditemukan TB aktif tetapi termasuk kelompok berisiko, masyarakat akan mendapatkan terapi pencegahan TB (TPT).

Mengingat tingginya risiko penularan TB, melakukan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) adalah langkah deteksi dini yang perlu diambil untuk melindungi diri dan orang-orang terdekat.

Mari cegah penyebaran TB dengan memanfaatkan pemeriksaan skrining TB dan TPT melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Kemenkes.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.