Cara Masyarakat Muna Merawat Kaghati Kolope, Layang-Layang Purba dari Daun dan Serat Alam
Desi Triana Aswan July 13, 2026 12:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), terus menjaga keberadaan Kaghati Kolope, layang-layang purba yang menjadi bagian dari jejak peradaban di kawasan cagar budaya Goa Liangkobori.

Upaya merawat warisan budaya berusia sekitar 4.000 tahun tersebut dilakukan melalui pengenalan kembali tradisi kepada generasi muda.

Salah satunya melalui Festival Layang-Layang Kaghati Kolope yang digelar Pemerintah Kabupaten Muna di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Minggu (12/7/2026).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna, LM Masrul mengatakan, festival tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali tradisi lokal agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Menurutnya, layang-layang Kaghati Kolope ini merupakan layang-layang purba. 

Baca juga: VIDEO Jejak Sejarah Kaghati Kolope, Layang-layang Purba Asal Muna Sulawesi Tenggara

Jejak sejarahnya terekam jelas pada situs Goa Liangkobori, terdapat lukisan dinding prasejarah yang menggambarkan orang sedang menerbangkan layang-layang.

Adapun keunikan Kaghati Kolope terletak pada bahan bakunya yang sepenuhnya memanfaatkan hasil alam secara turun-temurun. 

Daun umbi hutan (kolope) yang dikeringkan digunakan sebagai bahan utama badan layangan, bambu sebagai rangka, serta serat nanas atau serat kulit pohon sebagai talinya.

“Penggunaan bahan alami tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Muna mempertahankan karakter asli Kaghati Kolope,” kata Masrul saat dikonfirmasi, Senin (13/6/2026).

Dalam pelestariannya, bahan yang digunakan juga menjadi salah satu aspek penilaian dalam perlombaan di festival, yakni seluruh bagian layangan harus menggunakan bahan tradisional.

Selain mempertahankan bahan pembuatannya, pelestarian Kaghati Kolope juga dilakukan dengan menjaga pengetahuan dan keterampilan para perajin. 

Proses pembuatan layang-layang ini membutuhkan ketelitian dan kemahiran karena setiap bagian dibuat secara tradisional.

“Layang-layang ini menggunakan daun kolope yang diambil langsung dari hutan oleh perajin. Lama pembuatannya sangat tergantung pada kemahiran. Ada yang selesai dalam satu hari, namun ada juga yang membutuhkan waktu sampai lima hari,” tuturnya.

Selain bernilai sejarah, Masrul menyebut bahwa tradisi Kaghati Kolope juga memiliki filosofi mengenai keharmonisan antara manusia dengan alam, semangat gotong royong, serta penguatan identitas budaya daerah.

Dalam Festival Layang-Layang Kaghati Kolope, terdapat tujuh layang-layang tradisional yang mengikuti lomba dan sekitar 20 layang-layang kreasi. 

Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari penggunaan bahan alami, kemampuan terbang, hingga aksesori yang digunakan pada layangan.

Kata dia, Dinas Pariwisata Muna berkomitmen untuk mengampanyekan warisan budaya ini agar masyarakat, khususnya generasi muda, tertarik dan familiar dalam menjaga eksistensi Kaghati Kolope.

“Kami berharap, konsistensi dalam pelestarian Kaghati Kolope tidak hanya mampu menjaga eksistensi budaya leluhur Muna, tetapi juga dapat didorong menjadi daya tarik wisata budaya strategis. Ke depan, tradisi ini diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara ke panggung nasional hingga internasional,” jelasnya. (*)

(Tribunnewssultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.