TRIBUNNEWS.COM - Pergerakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) diawasi secara ketat oleh aparat keamanan nasional, terutama keterlibatan para mantan anggotanya.
Namun, insiden di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi alarm keras setelah seorang mantan Narapidana Terorisme (Napiter) dari kelompok tersebut melakukan teror ledakan pada Sabtu (11/7/2026) malam.
Pelaku berinisial A merupakan penjual es teh di area pedestrian Kompleks Olahraga Dadaha, Tasikmalaya.
Tidak ada korban jiwa maupun korban luka akibat ledakan, namun para penjual serta warga panik mendengar ledakan.
Selain itu, sejumlah lampu trotoar dilaporkan rusak akibat ledakan.
Area pedestrian di sepanjang Jalan Lingkar Dadaha merupakan pusat berkumpulnya para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan menggunakan gerobak, khususnya pada sore hingga larut malam.
Jalur pedestrian ini dilengkapi dengan fasilitas penerangan publik berupa deretan lampu trotoar jalan untuk kenyamanan pengunjung malam hari.
Baca juga: Ledakan Toko Bangunan di Purwakarta Tewaskan Satu Orang, Polisi Belum Ungkap Penyebab
Hasil pemeriksaan sementara, ledakan dipicu perselisihan antara A dengan pedagang kaki lima lain.
A ditangkap di rumahnya di kawasan Cilembang, Cihideung, Kota Tasikmalaya, pada Minggu (12/7/2026).
Rumah kontrakan yang dihuni A tampak sederhana dengan cat dinding putih.
Penangkapan dilakukan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto, menerangkan petugas kepolisian mendapat laporan dari warga terkait ledakan di dekat Alun-alun Tasikmalaya.
"Kita sedang memintai keterangan seputar kejadian dari ketiga orang ini. Alhamdulillah kalau situasi sudah kondusif dan sedang ditangani kasusnya oleh Kepolisian," bebernya, Minggu, dikutip dari TribunJabar.id.
Baca juga: Kronologi 3 Warga Bandung Barat Tewas Akibat Ledakan Mortir, Hendak Bongkar dan Ambil Logam
Salah satu pedagang kali lima, Deni (47), menyatakan A sempat berkelahi dengan pedagang di sampingnnya.
"Kejadiannya itu tukang es teh (A) dan tukang bakso goreng di depan saya berkelahi tadi malam (Sabtu). Bahkan, sempat dipisah oleh pedagang lain dan warga setempat," ucapnya.
Ia tak mengetahui penyebab perkelahian yang terjadi sekitar pukul 23.00 WIB.
"Kalau saya kenal sih orangnya baik. Tidak terlihat yang curiga-curiga apa. Cuman, saat berkelahi semalam memang ramai dan tiba-tiba ada ledakan saja gitu. Sampai lampu trotoar jalan juga pecah," tukasnya.
Menurutnya, suara ledakan cukup keras meski daya ledaknya tidak seperti bom.
"Terus niatnya mau apa (meledakkan), saya dan pedagang lainnya di sini juga kurang tahu," lanjutnya.
Salah satu warga, Nurdin (54), menyatakan A masih dalam masa pembinaan setelah jadi napiter.
"Pelaku pun masih setiap bulannya menerima uang pembinaan dari lembaga pemerintah terkait. Saya tahu dari beliau yang bilang dan selama ini sudah kembali ke NKRI serta memilih berdagang es teh di Dadaha. Warga di sini juga pada tahu itu," ucapnya.
Baca juga: Ledakan Mortir di Cipatat Bandung Barat, 3 Warga Tewas
Tak hanya berjualan es teh, A sempat berjualan petasan rakitannya menjelang lebaran serta tahun baru.
"Asli sini, domisili sini satu kelurahan. Cuman pelaku dan keluarganya baru 2 bulanan mengontrak di sini," tuturnya.
Ketua RT setempat, Ade Mumu, mengaku terkejut A melakukan peledakan.
"Sudah berkeluarga dan mengontrak dua bulan dan saya juga sebagai RT baru tahu tadi. Ada barang bukti yang ditemukan, tapi tidak ada bahan peledak, hanya ada buku dan senapan mimis," imbuhnya.
(Tribunnews.com/Mohay) (TribunJabar.id/Jaenal)