Pala dan Serat Pogah Fakfak: Dari Kearifan Lokal Menuju Pasar Dunia
Hans Arnold Kapisa July 13, 2026 12:44 PM

 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Kekayaan alam Kabupaten Fakfak, Papua Barat, kembali menarik perhatian pelaku usaha nasional maupun internasional.

Ketertarikan itu datang dari Pemilik Mom's Bakery Indonesia dan Greens and Beans (GnB), Fransisca Indriyana, bersama Direktur Global Business asal Korea Selatan, Jinho Jeffry Shin.

Keduanya menaruh minat pada dua komoditas khas Fakfak, yakni Pala Tomandin dan Pohon Pogah.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, menjelaskan bahwa pala Fakfak telah lama dikenal sebagai komoditas unggulan yang menembus pasar dunia.

Sementara itu, pohon pogah menghadirkan daya tarik berbeda karena menyimpan nilai budaya, ekonomi, dan lingkungan.

“Sejak dahulu, mama-mama Fakfak memanfaatkan serat pohon pogah sebagai bahan baku tas anyaman tradisional yang menjadi identitas budaya sekaligus sumber penghasilan keluarga,” ujarnya, Senin (13/7/2026).

Baca juga: Disbun Fakfak Tanam 10 Pohon Pala Tomandin Grafting di Median Jalan Dr Salasa Namudat 

Menurut Widhi, kunjungan Fransisca dan Jinho ke Fakfak bertujuan melihat langsung proses produksi pala serta pembuatan tas anyaman berbahan serat pohon pogah.

Mereka bertemu dengan Milton Iba, pengrajin pohon pogah, serta Mama Bernadeta dan kelompok mama-mama pengrajin di Kampung Mananmur.

“Serat pohon dipisahkan secara tradisional, dibersihkan, lalu dijemur hingga kering sebelum diolah menjadi bahan baku kerajinan. Semua dilakukan alami tanpa mesin maupun bahan kimia,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengambilan serat dilakukan pada waktu tertentu, biasanya saat bulan purnama, agar kualitas tetap terjaga.

Pohon pogah juga dapat tumbuh kembali setelah serat diambil sehingga pemanfaatannya tidak merusak hutan.

“Kearifan lokal ini menjadi kekuatan masyarakat Fakfak dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan peningkatan ekonomi,” kata Widhi.

Fransisca mengaku terkesan menyaksikan langsung proses tersebut.

Baca juga: Disbun Fakfak Catat Stabilitas Retribusi dan Perdagangan Pala Tomandin, Ini Penyebabnya

Selama ini ia telah menggunakan tas berbahan serat pohon pogah dan membawanya ke berbagai pameran internasional.

“Produk alami seperti serat pohon pogah memiliki daya tarik kuat karena memadukan nilai budaya, keaslian, keberlanjutan, dan konsep ramah lingkungan yang kini semakin diminati dunia,” ujarnya.

Ia menilai, dengan peningkatan kualitas, pengemasan menarik, serta strategi promosi yang tepat, produk anyaman mama-mama Fakfak berpeluang menembus pasar nasional hingga internasional, sebagaimana Pala Tomandin yang telah lebih dahulu dikenal dunia.

Fransisca juga menyampaikan apresiasi kepada Milton Iba, Mama Bernadeta, dan seluruh pengrajin yang menjaga keterampilan turun-temurun.

“Pelestarian pohon pogah harus menjadi perhatian bersama karena selain menjaga hutan, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.