Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka, drg. Paskalia Frida Fahik, merespoms kecaman Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) atas komentar yang diduga dibuat oleh dokter RSUPP Betun, Dionisius Christian Bria Seran, sebagai komentar pribadi.
Alih-alih memberikan penjelasan mengenai langkah institusi yang dipimpinnya, drg. Paskalia menilai komentar yang menjadi polemik tersebut merupakan persoalan pribadi sehingga dapat langsung dikonfirmasi kepada pihak yang bersangkutan.
Hal itu disampaikannya saat dikonfirmasi POS-KUPANG.COM melalui pesan WhatsApp pada Senin (13/7/2026). Konfirmasi dilakukan mengingat Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka merupakan organisasi perangkat daerah yang membidangi urusan kesehatan, termasuk membina pelayanan di Rumah Sakit Umum Penyangga Perbatasan (RSUPP) Betun.
Sebelum menghubunginya melalui WhatsApp, wartawan POS-KUPANG.COM terlebih dahulu mendatangi Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka. Namun, seorang pegawai yang ditemui di kantor tersebut menyampaikan bahwa Kepala Dinas sedang mengikuti rapat di Kantor Bupati Malaka sehingga tidak berada di tempat.
Baca juga: Keluarga Dokter Icha Kenakan Pakaian Adat Datangi Kantor DPRD Kabupaten TTU
Saat pertama kali dimintai tanggapan terkait kecaman IDI NTT terhadap komentar seorang dokter di Kabupaten Malaka yang diketahui merupakan anak kandung Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran, drg. Paskalia mengaku belum mengetahui adanya persoalan tersebut.
Setelah kembali dikonfirmasi mengenai sikap Dinas Kesehatan terhadap polemik yang berkembang, drg. Paskalia menegaskan bahwa apabila komentar tersebut merupakan komentar pribadi, maka persoalan itu sebaiknya langsung ditanyakan kepada pemilik komentar.
"Jika komentar pribadi bisa langsung dengan yang komen," tulisnya.
"Tidak usah pas lagi sibuk juga," balasnya singkat.
Ia juga menegaskan bahwa saat ini pihaknya memilih memusatkan perhatian pada pelayanan kesehatan.
"Kita fokus ke pelayanan saja," pungkasnya.
Baca juga: Victor Mambait Kuasa Hukum Keluarga dr. Icha Desak Badan Kehormatan DPRD TTU Taat Asas
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena polemik yang berkembang bukan hanya menyangkut pendapat pribadi di media sosial, tetapi juga telah memicu kecaman dari organisasi profesi dokter di tingkat provinsi yang menilai komentar tersebut berpotensi mencederai solidaritas tenaga kesehatan serta mengabaikan pentingnya kesehatan mental.
Sementara itu, hingga kini POS-KUPANG.COM masih terus berupaya mengonfrimasi langsung Dokter Dionisius Christian Bria Seran terkait komentar yang viral di media sosial tersebut.
Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi NTT, dr. Syebenheser Hetingwati, Sp.PA, mengecam keras komentar yang ditulis akun dengan nama Dionisius Christian Bria Seran.
Dionisius Christian Bria Seran merupakan seorang dokter dan putra Bupati Malaka, Stef Bria Seran. Komentar yang beredar itu diduga berkaitan dengan peristiwa yang dialami dr. Icha Pakaenoni.
Pernyataan Dionisius Christian Bria Seran itu memicu kemarahan dan kekecewaan di kalangan tenaga kesehatan karena dinilai merendahkan persoalan kesehatan mental yang diduga menjadi bagian dari rangkaian kasus meninggalnya dokter Icha.
Dalam tangkapan layar yang viral, akun yang menampilkan nama Dionisius Christian Bria Seran membalas sebuah unggahan dengan kalimat disertai emoji tertawa.
"Dokter itu urus pasien, urus masyarakat, urus olahraga. Bukan duduk2 (duduk-duduk) pergi bunuh diri," tulis akun @Dionisius Christian Bria Seran, yang diperoleh Pos Kupang, Sabtu (11/7).
Unggahan tersebut disertai emoji tertawa dan kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial. Menanggapi hal itu, dr. Syebenheser Hetingwati menilai pernyataan tersebut sangat tidak pantas, terlebih apabila benar disampaikan seseorang yang juga berprofesi sebagai dokter.
Baca juga: LIPSUS: Golkar TTU Bebastugaskan Lazakar, Diduga Terlibat Intimidasi dr. Icha
"Sangat disayangkan kalimat ini keluar dari sesama rekan dokter. Depresi dan beban psikologis tenaga medis itu nyata, bukan lelucon," kata dr. Syebenheser Hetingwati, kepada wartawan.
Menurutnya, seorang dokter semestinya memahami bahwa kesehatan mental memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Karena itu, komentar yang bernada mengejek terhadap seseorang yang meninggal dunia dalam situasi yang masih menjadi perhatian publik dinilai tidak mencerminkan empati sebagai tenaga medis.
"Sebagai seorang profesional yang mengurus masyarakat, seharusnya paham bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik," ujar Syebenheser Hetingwati.
Syebenheser Hetingwati menambahkan, tugas seorang dokter bukan hanya memberikan pelayanan medis, tetapi juga menjaga etika, empati, dan sikap profesional dalam setiap ucapan, termasuk di media sosial.
"Mengurus pasien dan olahraga memang penting, tetapi menjaga lisan dan memiliki rasa empati terhadap tragedi kemanusiaan jauh lebih utama. Tidak sepatutnya seorang tenaga medis mengeluarkan pernyataan seperti ini," kata Syebenheser Hetingwati.
Baca juga: LIPSUS: Nakes Ultimatum PKB dan Golkar Kasus dr Icha, Gelar Aksi Damai di DPRD NTT
Syebenheser Hetingwati mengatakan, saat ini IDI NTT masih fokus mengawal penanganan dugaan intimidasi terhadap dr. Icha yang sedang diproses oleh aparat penegak hukum dan sejumlah lembaga terkait.
Karena itu, Syebenheser Hetingwati mengimbau seluruh dokter yang belum memahami secara utuh duduk perkara kasus tersebut agar tidak melontarkan komentar yang dapat melukai perasaan keluarga maupun rekan sejawat.
"Saat ini IDI fokus mengawal kasus intimidasi yang terjadi pada dr. Icha. Teman-teman dokter yang mungkin tidak paham kasus ini kami imbau tidak usah berkomentar," ujar Syebenheser Hetingwati.
Terkait komentar yang viral tersebut, dr. Syebenheser Hetingwati menyatakan pihaknya akan lebih dahulu melakukan koordinasi dengan IDI Kabupaten Malaka untuk memastikan status yang bersangkutan dan menentukan langkah organisasi apabila memang terbukti merupakan anggota IDI.
"Kami harus cek dulu ke IDI Malaka agar bisa mengambil tindakan terhadap dokter tersebut," kata Syebenheser Hetingwati. (ito)