Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen Usai Konflik Amerika dan Iran Memanas Lagi
Wawan Akuba July 13, 2026 02:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin (13/7/2026).

Lonjakan harga terjadi setelah memanasnya kembali hubungan Amerika Serikat dan Iran yang menyebabkan ketidakpastian di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu pintu utama ekspor minyak dunia.

Kekhawatiran pasar muncul setelah kawasan itu kembali diwarnai aksi militer kedua negara.

Sepanjang perdagangan, dua kontrak acuan minyak dunia sempat menguat hingga 4,5 persen.

Penguatan itu mengakhiri tren pelemahan yang sebelumnya terjadi setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara.

Pelaku pasar menilai eskalasi terbaru berpotensi mengganggu arus distribusi energi.

Baca juga: Emas 74 Kg, Uang Rp476 Miliar dan Misteri Febrie Adriansyah, Berikut 4 Hal yang Belum Terungkap

Jika pasokan terganggu, harga minyak dikhawatirkan kembali terdorong naik dan memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.

Kondisi tersebut juga membuka peluang bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat, kembali mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga untuk meredam kenaikan harga.

Pemicu lonjakan harga berasal dari meningkatnya konflik di Selat Hormuz.

Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke sejumlah target di Iran setelah sebuah kapal dagang diserang dan terbakar di jalur pelayaran tersebut.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz akan ditutup hingga Amerika Serikat menghentikan seluruh intervensi militernya di kawasan.

Pernyataan itu langsung dibantah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM), yang menegaskan jalur pelayaran internasional tersebut masih aman dilintasi kapal-kapal komersial.

Analis Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai pasar saat ini bergerak berdasarkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang lebih luas dalam waktu singkat.

Menurutnya, meski situasi sewaktu-waktu dapat mereda melalui jalur diplomasi, investor untuk sementara memilih mengantisipasi risiko terburuk.

Sementara itu, analis IG, Fabien Yip, memperkirakan reli harga minyak kali ini tidak akan menyamai lonjakan tajam yang terjadi ketika perang pertama kali pecah pada Maret lalu.

Ia menjelaskan, sebelumnya harga minyak sempat turun mendekati level sebelum perang karena pasar optimistis kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran dapat bertahan.

Namun pecahnya kembali bentrokan menunjukkan optimisme tersebut belum memiliki fondasi yang kuat.

Meski demikian, menurut Yip, ruang kenaikan harga minyak tetap terbatas.

Permintaan global belum pulih sepenuhnya, sementara pasokan terus bertambah seiring meningkatnya produksi negara-negara OPEC dan kembali beroperasinya sejumlah kapal tanker yang sebelumnya tertahan akibat konflik.

Bursa Asia Tertekan

Lonjakan harga minyak turut membebani pergerakan bursa saham Asia.

Pasar saham Korea Selatan menjadi yang paling terpukul dengan indeks Kospi merosot lebih dari lima persen akibat aksi jual besar-besaran pada saham teknologi.

Produsen chip SK hynix kehilangan sekitar 10 persen nilainya dalam sehari dan memperpanjang tren penurunan sejak mencetak rekor harga bulan lalu. Saham Samsung Electronics juga bergerak melemah lebih dari enam persen.

Tekanan serupa terjadi di Jepang. Saham Advantest dan Tokyo Electron ikut terkoreksi, sementara indeks di Shanghai, Singapura, Wellington, dan Jakarta ditutup di zona negatif.

Berbeda dengan pasar lainnya, bursa Hong Kong, Taipei, dan Manila masih mampu mencatat penguatan.

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat karena investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

Penguatan mata uang Negeri Paman Sam juga didorong ekspektasi bahwa The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga apabila inflasi kembali meningkat akibat gejolak harga energi.

Fokus investor kini beralih ke musim laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar.

Pekan ini pasar akan mencermati kinerja produsen semikonduktor TSMC dan ASML, serta sejumlah bank raksasa Amerika Serikat seperti JPMorgan Chase, Bank of America, dan Goldman Sachs. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.