TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Tarakan kembali mencatatkan inflasi pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan mencatat inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,45 persen, dengan cabai rawit menjadi komoditas penyumbang terbesar, disusul angkutan udara, bawang merah, dan bahan bakar kendaraan.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, mengatakan angka tersebut tergolong cukup tinggi untuk inflasi bulanan.
"Inflasi untuk bulan Juni 2026 tercatat 0,45 persen. Ini termasuk kategori yang lumayan besar sebetulnya untuk inflasi bulanan. Yang dominan menyumbang inflasi adalah cabai rawit, kemudian angkutan udara, bawang merah, dan bahan bakar kendaraan," ujarnya.
Dengan tambahan inflasi tersebut, inflasi kalender (year to date) Tarakan sejak Januari hingga Juni 2026 telah mencapai 1,87 persen. Sementara inflasi tahunan (year on year) menembus 3,62 persen.
Baca juga: Tekan Inflasi Daerah, DPPP Tana Tidung Gencarkan Gerakan Menanam Cabai di Rumah ke ASN
Menurut Umar, angka tersebut sudah berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan rentang toleransi plus minus satu persen.
"Dari Januari sampai Juni, inflasi kalender sudah 1,87 persen. Kemudian inflasi year on year mencapai 3,62 persen. Ini sudah melampaui target 2,5 plus minus 1 persen," katanya.
Ia menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi, terutama dipicu kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah. Selain itu, kelompok transportasi juga memberikan andil cukup besar terhadap kenaikan inflasi pada Juni 2026.
Namun di tengah tekanan inflasi tersebut, terdapat kelompok yang justru memberikan kontribusi deflasi, yakni kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Umar mengungkapkan, salah satu penyebabnya adalah turunnya harga emas perhiasan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
"Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya ini ditopang karena emas terus turun. Kalau empat bulan terakhir trennya memang menunjukkan penurunan. Itu kemudian memberikan andil deflasi," jelasnya.
Baca juga: Inflasi Kaltara Juni 2026 Capai 3,30 Persen, Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar
Ia menerangkan, emas perhiasan termasuk salah satu komoditas yang memiliki bobot cukup besar dalam Survei Biaya Hidup karena menjadi salah satu pengeluaran masyarakat.
"Emas perhiasan masuk dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Komoditas ini banyak dikonsumsi dalam arti pengeluaran masyarakat juga cukup besar untuk belanja emas perhiasan. Sehingga fluktuasi harga emas pasti berpengaruh terhadap inflasi kita," ucapnya.
Pada Juni 2026, emas perhiasan tercatat memberikan andil deflasi sebesar 0,0363 persen. Menurut Umar, penurunan harga emas membuat porsi pengeluaran masyarakat untuk membeli emas ikut menurun dibandingkan komoditas lainnya.
"Secara nilai, porsi belanja emas menjadi lebih sedikit dibandingkan komoditas lain. Tapi kondisi ini juga tergantung perilaku masyarakat. Ketika harga emas terus turun, bisa saja ada aksi jual karena masyarakat ingin menghindari kerugian akibat harga yang semakin turun," katanya.
Selain emas, sejumlah komoditas lain yang memberikan andil deflasi pada Juni 2026 yakni kangkung, telur ayam ras, angkutan laut, daging ayam ras, buku tulis bergaris, terong, ketimun, bayam, hingga pembersih lantai.
Lebih lanjut Umar mengingatkan, kondisi inflasi Tarakan perlu mendapat perhatian seluruh pemangku kepentingan. Pasalnya, dengan inflasi kalender yang telah mencapai 1,87 persen pada semester pertama, ruang kenaikan harga hingga akhir tahun menjadi semakin terbatas apabila ingin tetap berada di kisaran target.
Ia menilai pengawasan terhadap komoditas yang mengalami kenaikan harga perlu lebih intensif, terutama untuk memastikan pasokan dan distribusi berjalan lancar.
"Kalau ada komoditas yang setiap pekan terus mengalami kenaikan, perlu dicek pasokannya, kemudian rantai distribusinya apakah lancar atau tidak," katanya.
Umar mencontohkan cabai rawit Tarakan yang produksinya sebenarnya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat setempat. Namun, tingginya permintaan dari daerah lain membuat pasokan di Tarakan ikut berkurang.
"Tinggal bagaimana pengaturannya agar jangan terlalu banyak dikirim keluar tetapi pasokan di Tarakan tetap terjaga," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah