Laporan Wartawan TribunPalu, Misna Jayanti
TRIBUNPALU.COM, DONGGALA - Pengolahan sagu di Desa Mekar Baru, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, menjadi salah satu potensi pangan lokal yang terus dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Proses pengolahan sagu di desa tersebut kini memanfaatkan mesin penggiling modern sehingga produksi menjadi lebih cepat dan efisien tanpa menghilangkan tahapan pengolahan secara tradisional.
Pengolahan dimulai dari penebangan batang sagu yang telah matang.
Pantauan TribunPalu.com di lokasi pengolahan sagu, batang kemudian dibersihkan dari kulit luarnya dan dipotong menjadi beberapa bagian agar mudah diproses.
Selanjutnya, potongan batang diparut menggunakan mesin hingga menjadi remahan halus.
Baca juga: DSLNG Tingkatkan Kompetensi Guru Banggai melalui Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis AI
Remahan tersebut dicampur dengan air bersih, lalu diremas dan disaring menggunakan kain atau jaring untuk memisahkan sari pati dari ampas kayu.
Air yang mengandung pati kemudian dialirkan ke bak penampungan untuk diendapkan selama beberapa jam. Setelah pati mengendap di dasar bak, air jernih di bagian atas dibuang.
Endapan pati sagu selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari atau dikeringkan menggunakan mesin hingga menjadi tepung sagu siap olah.
Tepung sagu dapat diolah menjadi berbagai makanan khas Nusantara, seperti papeda, kapurung, jepa atau dange, somo (sagu panggang), bagea, mie sagu, hingga es cendol.
Salah seorang pekerja pengolah sagu, Agi (28), mengatakan proses produksi membutuhkan waktu sekitar tiga hari, mulai dari penebangan hingga sagu siap dipasarkan.
"Setelah ditebang, batang sagu biasanya didiamkan selama satu hari. Besoknya baru mulai diolah," ujar Agi, Senin (13/7/2026).
Baca juga: BPN Sulteng Targetkan 11.842 Bidang Tanah Masuk Program PTSL pada 2026
Menurutnya, dalam satu kali produksi, pekerja biasanya mengolah empat hingga lima batang sagu, bahkan dapat mencapai enam batang jika bahan baku tersedia.
"Satu pohon bisa menghasilkan sekitar 12 sampai 17 potong batang, tergantung tinggi dan besarnya pohon. Dari proses penebangan sampai selesai diolah minimal membutuhkan waktu tiga hari," katanya.
Agi menjelaskan, batang sagu yang telah diangkut ke lokasi pengolahan terlebih dahulu dibelah, kemudian diparut menggunakan mesin sebelum memasuki tahap penyaringan dan pengendapan pati.
Setelah pati mengendap, sagu dimasukkan ke dalam wadah tradisional yang disebut basung.
Wadah tersebut dibuat dari pelepah sagu yang diiris tipis, termasuk tali pengikatnya yang juga berasal dari pelepah sagu.
"Semua bagian wadah dibuat dari pohon sagu, mulai dari pelepah sampai tali pengikatnya," tambahnya.
Baca juga: Buka Rakor Pengawasan, Wagub Sulteng Ingatkan ASN Utamakan PencegahanKorupsi
Ia menyebutkan, satu pohon sagu dapat menghasilkan sekitar 100 hingga 150 basung sagu, bergantung pada ukuran batang dan kualitas pati yang dihasilkan.
Sagu yang telah selesai diproses umumnya langsung dijual kepada pelanggan tetap dengan harga sekitar Rp10.000 per basung.
Jumlah produksi disesuaikan dengan permintaan pasar.
Agi mengaku telah bekerja sebagai pengolah sagu sejak masih duduk di bangku SMA.
Mengolah sagu ini biasa masyarakat sekitar menyebutnya dengan "Mogame".
Dari seluruh tahapan produksi, proses yang paling menguras tenaga adalah penyaringan atau peremasan pati.
"Yang paling berat itu saat memeras karena harus berdiri seharian dan tangan terus bergerak sampai pekerjaan selesai," tuturnya. (*)