Laporan Wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Hari pertama operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kediri menjadi momen emosional bagi ratusan keluarga yang mengantarkan anak-anak mereka memasuki kehidupan baru di lingkungan pendidikan berasrama.
Di balik perpisahan sementara itu, tersimpan harapan besar agar anak-anak memperoleh masa depan yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas.
Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melalui Kementerian Sosial bersama Pemerintah Kota Kediri membuka akses pendidikan gratis bagi peserta didik jenjang SD, SMP, hingga SMA. Seluruh siswa memperoleh fasilitas pendidikan dan kebutuhan asrama tanpa dipungut biaya.
Suasana di kawasan sekolah dipenuhi pelukan, doa, dan air mata para orang tua yang untuk pertama kalinya harus melepas anak tinggal jauh dari rumah. Meski demikian, rasa bangga terlihat mendominasi karena anak-anak mereka mendapat kesempatan belajar di lingkungan yang dinilai aman, nyaman, dan memiliki fasilitas lengkap.
Sistem boarding school yang diterapkan di Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas akademik peserta didik, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, serta mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki setiap anak sejak dini.
Open House yang digelar pada Senin (13/7/2026) sekaligus menandai dimulainya aktivitas belajar mengajar bagi ratusan siswa yang akan menempuh pendidikan dengan pendampingan guru dan tenaga kependidikan selama tinggal di asrama.
Baca juga: Tahun Ajaran Baru Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Tuban Mundur, Ternyata Gedung Barunya Belum Rampung
Salah satu wali murid, Sri Hartatik, mengaku memiliki perasaan campur aduk saat melepas anaknya untuk tinggal di asrama. Meski berat karena harus berpisah sementara, ia menyebut rasa bangga lebih besar karena anaknya mendapat kesempatan belajar dengan fasilitas lengkap.
"Sebagai orang tua, melihat anak saya bisa masuk ke sekolah dengan fasilitas selengkap ini adalah berkah yang luar biasa. Jujur ada rasa haru saat melepasnya tinggal di asrama hari ini, tetapi rasa bangga saya jauh lebih besar," kata Sri.
Menurut Sri, keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi menjadi solusi bagi keluarga yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Ia juga mengapresiasi fasilitas yang diberikan secara gratis, mulai dari perlengkapan sekolah hingga kebutuhan selama tinggal di asrama.
"Kami sangat terbantu karena semua fasilitas dan seragam diberikan gratis. Saya percaya, di bawah bimbingan para guru dan asrama yang aman ini, anak saya tidak hanya belajar akademik tetapi juga kemandirian sejak dini," tambahnya.
Harapan serupa disampaikan Soni, wali murid jenjang SMP. Ia menilai sistem pendidikan di Sekolah Rakyat mampu memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang sesuai bakat dan minat mereka, terutama di usia remaja yang menjadi fase pencarian jati diri.
"Kami sangat mengapresiasi komitmen Wali Kota Kediri dan seluruh pihak yang mewujudkan sekolah ini. Di usia SMP, anak-anak sedang mencari jati diri dan potensi mereka," ungkap Soni.
Menurut dia, fasilitas pengembangan diri seperti bidang musik dan olahraga menjadi nilai tambah yang membuat orang tua semakin yakin menitipkan pendidikan anaknya di sekolah tersebut.
"Mengetahui bahwa sekolah ini tidak hanya menggratiskan biaya tetapi juga memfasilitasi bakat anak di bidang musik hingga olahraga, membuat kami sebagai orang tua merasa tenang dan bangga. Ini adalah investasi masa depan yang nyata bagi anak kami," ungkapnya.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kediri kini menjadi tempat belajar sekaligus rumah kedua bagi 192 peserta didik asal Kota Kediri dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Selain itu, terdapat 30 peserta didik titipan dari Kabupaten Mojokerto untuk jenjang SMP yang turut mengikuti program tersebut.
Kepala Dinas Sosial Kota Kediri, Imam Muttakin, mengatakan Pemerintah Kota Kediri bersama Kementerian Sosial berkomitmen memastikan proses pendidikan dan pengasuhan di sekolah berjalan optimal. Berbagai tenaga pendukung telah disiapkan untuk membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan asrama.
"Pemerintah Kota Kediri berkomitmen penuh untuk memastikan seluruh anak-anak kita yang ada di asrama ini mendapatkan hak pendidikan dan pengasuhan yang layak," papar Imam.
Ia menjelaskan, sebanyak 37 guru tamu dari Dinas Pendidikan serta 28 tenaga kependidikan yang berasal dari unsur eks-pendamping PKH dan Tagana telah disiapkan untuk mendampingi para siswa. Sementara itu, pembangunan fasilitas sekolah saat ini telah mencapai sekitar 94 persen.
"Kami tidak hanya menyiapkan fasilitas fisik, tetapi juga memastikan kehadiran tenaga pengajar dan pendamping yang kompeten. Penjaringan siswa baru pun masih terus kami lakukan hingga masa MPLS berakhir agar tidak ada satu pun anak yang tertinggal," ujar Imam.