Tak Hanya Banjir Rob, BMKG Peringatkan Potensi Gelombang Tinggi di Pesisir Sulawesi Utara
Isvara Savitri July 13, 2026 07:22 PM

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Selain memperingatkan potensi banjir rob, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memperingatkan masyarakat agar waspada potensi gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di sejumlah wilayah pesisir Sulawesi Utara dalam beberapa hari ke depan.

Ketua Tim Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Bitung, Ricky Daniel Aror, mengatakan peningkatan tinggi gelombang dipengaruhi oleh sistem cuaca di Samudera Pasifik.

Beberapa di antaranya adalah Siklon Tropis Bavi yang berada di wilayah selatan Jepang serta bibit siklon tropis 97W di utara Papua.

"Pengaruh siklon yang paling dirasakan biasanya berupa angin kencang, cuaca ekstrem akibat pertumbuhan awan konvektif yang cukup masif sehingga memicu hujan lebat secara tiba-tiba, petir, angin kencang, dan biasanya sudah satu paket dengan gelombang tinggi," kata Ricky, Senin (13/7/2026).

Apabila gelombang tinggi terjadi bersamaan dengan pasang maksimum air laut, dampaknya dapat menjadi lebih parah bagi wilayah pesisir.

"Kalau ditambah rob, dampaknya bisa lebih parah," ujarnya.

Menurut Ricky, wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain pesisir Kota Bitung khususnya Pulau Lembeh bagian selatan dan timur. 

GELOMBANG - Gelombang tinggi di Teluk Manado, Minggu 15 Februari 2026. BMKG Stasiun Maritim Bitung memberi peringatan dini potensi gelombang tinggi hingga 2,5 meter di perairan Sulawesi Utara, 15-18 Februari 2026.
GELOMBANG - Gelombang tinggi di Teluk Manado, Minggu 15 Februari 2026. BMKG Stasiun Maritim Bitung memberi peringatan dini potensi gelombang tinggi hingga 2,5 meter di perairan Sulawesi Utara, 15-18 Februari 2026. (Tribun Manado/Fernando_Lumowa)

Selain itu, pesisir selatan dan timur Pulau Bangka di Kabupaten Minahasa Utara juga berpotensi mengalami gelombang tinggi.

Potensi serupa juga diperkirakan terjadi di wilayah pesisir selatan dan timur Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Kabupaten Kepulauan Sangihe, hingga Kabupaten Kepulauan Talaud.

Di Kepulauan Sangihe, wilayah pesisir selatan seperti Pananaru dan sekitarnya, serta pesisir timur diperkirakan menjadi daerah yang lebih dahulu terdampak. 

Sementara di Talaud, masyarakat yang bermukim di pesisir selatan dan timur diminta meningkatkan kewaspadaan.

Wilayah-wilayah tersebut lebih berisiko karena arah angin dan gelombang dominan bergerak dari selatan sehingga pesisir yang menghadap ke arah tersebut menerima dampak lebih besar.

Saat ini, Siklon Tropis Bavi memang sudah memasuki daratan Cina.

Meski demikian, dampaknya terhadap kondisi perairan di sekitar Sulawesi Utara masih cukup terasa.

Baca juga: Anggota Banggar DPRD Sulut Amir Liputo Pertanyakan Utang Dana PEN Sulawesi Utara

Baca juga: Merusak Trotoar, Dishub dan Sat Pol PP Manado Kempiskan Mobil Antrean Solar di SPBU Politeknik

BMKG mengimbau masyarakat terutama nelayan, operator transportasi laut, pengelola pelabuhan, warga yang tinggal di kawasan pesisir, serta pengusaha perikanan dan tambak agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi yang dapat terjadi bersamaan dengan banjir rob.

Masyarakat juga diminta terus memantau informasi cuaca maritim dan peringatan dini yang diterbitkan Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Bitung sebagai dasar dalam merencanakan aktivitas di wilayah pesisir maupun di laut.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.