Sekolah di Surabaya Mulai MPLS 2026 Tanpa Perpeloncoan dan Kekerasan
Cak Sur July 13, 2026 07:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Sekolah-sekolah di Surabaya, Jawa Timur (Jatim), resmi memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (13/7/2026).

Tahun ini, seluruh institusi pendidikan ditekankan untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak dengan menghapus segala bentuk praktik perpeloncoan.

Pendekatan Kreatif di SMPN 19 Surabaya

SMPN 19 Surabaya menjadi salah satu contoh penerapan MPLS yang inovatif.

Kepala Sekolah SMPN 19 Surabaya, Sri Widowati, menyatakan bahwa pihaknya fokus pada materi pembentukan karakter melalui konsep 'Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat'.

"Anak-anak diajarin mandiri, tanggung jawab, keimanan, hingga cinta tanah air yang disesuaikan dengan profil lulusan," jelas Sri.

Dalam pelaksanaannya, sekolah melibatkan OSIS sebagai mentor untuk memastikan tidak ada ruang bagi perilaku senioritas negatif.

Selain itu, sekolah juga melibatkan orang tua secara aktif.

"Sesuai edaran Wali Kota, pada hari pertama ini siswa baru diantar langsung oleh ayah mereka agar orang tua memahami aturan dan juknis MPLS," tambahnya.

MPLS Menyenangkan untuk Siswa SD

Tak hanya di tingkat menengah, jenjang sekolah dasar juga menerapkan pola yang sama.

SDN Klampis Ngasem I Surabaya, misalnya, merancang kegiatan untuk menghilangkan ketakutan siswa baru akan transisi dari jenjang TK ke SD.

Kepala Sekolah SDN Klampis Ngasem I, Slamet Pujiono, menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan simulasi 'Tur Berburu Harta Karun' untuk memperkenalkan fasilitas sekolah.

"Tujuannya agar mereka senang dan mengenal sarana sekolah tanpa terasa melelahkan," ungkap Slamet.

Pengawasan Ketat dari Dispendik Surabaya

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa lembaganya tidak menoleransi adanya kekerasan fisik dalam bentuk apa pun. Dispendik telah mengerahkan tim khusus untuk melakukan supervisi ke sekolah-sekolah.

Berikut langkah Dispendik Surabaya dalam menjaga kualitas MPLS:

  • Monitoring rutin secara bergiliran oleh tim pengawas.
  • Pemanfaatan sistem pelaporan yang terintegrasi langsung dengan kementerian.
  • Penyediaan hotline pengaduan resmi bagi orang tua dan masyarakat.

Febrina berharap melalui pendekatan ini, siswa baru dapat merasa nyaman, bahkan menganggap lingkungan sekolah seperti rumah sendiri.

Sistem pengawasan digital ini juga memastikan bahwa orang tua tidak perlu merasa khawatir saat anak mengikuti rangkaian MPLS selama lima hari ke depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.