TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Konflik antara manusia dan satwa liar kembali memakan korban di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kali ini, warga Desa Roraya, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, AR, diserang seekor buaya saat sedang beraktivitas di tambak, Minggu (12/7/2026) sore.
Insiden buaya serang manusia tersebut terjadi saat korban tengah memanen ikan di tambak miliknya.
Berdasarkan keterangan saksi mata yang juga ipar korban, MA, serangan terjadi secara tiba-tiba.
”Saat itu, korban sedang memanen ikan, lalu buaya tersebut menyerang,” ujar MA, Senin (13/7/2026).
Baca juga: Warga Lorong Gembol Kendari Kaget Buaya Muncul Dekat Permukiman, Ikat ke Pohon Pisang, Dievakuasi
Akibat serangan reptil berukuran besar tersebut, korban mengalami sejumlah luka di tubuhnya.
Sementara itu, warga sekitar yang berada di lokasi kejadian segera memberikan pertolongan.
Dalam upaya mengevakuasi korban dan mengantisipasi serangan susulan, warga terpaksa melumpuhkan buaya tersebut dengan senjata tajam (parang) hingga hewan itu mati di tempat.
Kejadian ini menambah catatan panjang konflik buaya dengan manusia di Desa Roraya.
Menurut penuturan warga, lokasi tersebut memang dikenal sebagai habitat buaya yang kerap mengancam keselamatan warga sekitar yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan darat dan tambak.
Baca juga: Kisah Tragis Wa Gobe di Muna, Mandi di Sungai Berujung Diterkam Buaya, Saat Melawan Langsung Diseret
MA mengatakan insiden serupa dengan dampak yang lebih fatal pernah terjadi beberapa waktu lalu.
Seorang warga lanjut usia berinisial BA (80) dilaporkan tewas setelah diterkam buaya di lokasi yang sama saat bulan Ramadan 1447 Hijriah lalu.
”Sudah pernah ada kejadian sebelumnya saat bulan puasa. Korbannya seorang pria lanjut usia yang tewas dimangsa buaya,” tutur MA.
Kondisi geografis Kecamatan Tinanggea yang didominasi oleh perairan tambak dan sungai memang menjadi ruang lingkup habitat alami satwa predator tersebut.
Baca juga: Kronologi Wanita 61 Tahun Diterkam Buaya saat Cari Kerang di Konawe Selatan Sulawesi Tenggara
Minimnya pemisah antara wilayah aktivitas ekonomi warga dengan habitat alami buaya menjadi celah utama yang memicu tingginya risiko interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di wilayah tersebut.
Jarak Desa Roraya dengan Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara sekira 107 kilometer (km), waktu tempuh 2 jam 37 menit berkendara. (*)
(TribunnewsSultra.com/Sugi Hartono)