TRIBUNMANADO.CO.ID, - Di tengah padatnya agenda sebagai Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus atau biasa dipanggil YSK memiliki satu kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan, yakni menyempatkan diri menyapa masyarakat.
Tidak ada pembatas yang membuat warga sungkan mendekat.
Di mana pun berada, baik usai menghadiri kegiatan resmi, meninjau lapangan, maupun saat berada di ruang publik, YSK hampir selalu berhenti ketika ada masyarakat yang ingin bersalaman, berbincang, atau sekadar mengabadikan momen melalui foto bersama.
Bagi YSK, itu mungkin hanya beberapa menit yang ia sisihkan di sela-sela kesibukan.
Namun, bagi masyarakat, momen singkat tersebut menjadi kenangan yang akan selalu diingat.
Senyum yang dibalas, tangan yang dijabat, hingga sapaan hangat dari seorang gubernur menghadirkan kesan bahwa pemimpin mereka benar-benar hadir di tengah rakyat, bukan sekadar memimpin dari balik meja.
"Menjadi pemimpin berarti harus hadir untuk masyarakat. Kalau ada warga yang ingin menyapa atau berfoto, saya akan berusaha meluangkan waktu. Mereka adalah keluarga besar Sulawesi Utara yang harus kita layani dengan hati," ujar Gubernur Yulius Selvanus Komaling.
Di berbagai daerah, antusiasme masyarakat menyambut kehadiran YSK selalu terlihat.
Anak-anak, kaum muda, hingga para orang tua rela menunggu hanya untuk bersalaman atau mengabadikan satu bingkai foto bersama gubernurnya.
Tak sedikit warga yang mengaku bahagia karena bisa bertemu langsung dengan sosok yang mereka pilih untuk memimpin Sulawesi Utara.
Bagi mereka, kehangatan dan kesederhanaan YSK menjadi bukti bahwa seorang pemimpin tetap bisa dekat tanpa kehilangan wibawa.
YSK meyakini, kedekatan dengan masyarakat bukan sekadar soal hadir di tengah keramaian.
Lebih dari itu, kehadiran seorang pemimpin adalah bentuk penghormatan kepada rakyat yang telah memberikan kepercayaan.
Sebab pada akhirnya, masyarakat mungkin akan lupa isi pidato seorang pemimpin.
Namun mereka akan selalu mengingat bagaimana seorang pemimpin membuat mereka merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan tulus.
Di situlah YSK memilih menjalankan kepemimpinannya—tanpa menciptakan jarak, tanpa membangun sekat, tetapi dengan membuka ruang bagi setiap warga untuk datang, menyapa, dan merasakan bahwa gubernurnya adalah milik semua masyarakat Sulawesi Utara.
(TribunManado.co.id/Ren)