Jakarta (ANTARA) - Universitas Dian Nusantara (Undira) bersama Universitas Mercu Buana (UMB) memperkuat kolaborasi dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) melalui penyerahan peralatan teknologi tepat guna (TTG) kepada masyarakat Desa Pondok Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang.
Penyerahan peralatan teknologi tepat guna itu merupakan tahap implementasi dari program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Mercu Buana, Desiana Vidayanti dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengatakan, penyerahan teknologi tepat guna merupakan awal implementasi sistem yang telah dibangun bersama masyarakat sejak beberapa bulan terakhir.
Peralatan itu, lanjut dia, akan dimanfaatkan oleh Karang Taruna Desa Pondok Kelor dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat serta menggerakkan kembali penanaman kelor sebagai identitas desa.
Sementara, kelompok usaha makanan lokal di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diketuai Nani Setiawati menerima peralatan untuk mendukung peningkatan mutu dan kapasitas produksi pangan lokal berbasis singkong dan kelor.
"Ini bukan sekadar penyerahan alat. Ini merupakan awal implementasi sistem yang dibangun bersama masyarakat. Harapannya, pengelolaan sampah semakin tertata, usaha masyarakat semakin berkembang, dan secara bertahap identitas Desa Pondok Kelor sebagai desa yang lekat dengan tanaman kelor dapat hidup kembali," ujar Desiana.
Program PDB dilaksanakan Universitas Mercu Buana sebagai penerima hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek Tahun 2026 dengan melibatkan dosen lintas disiplin dari Undira.
Desa Pondok Kelor dipilih karena masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah rumah tangga yang belum memiliki sistem pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, dan pengelolaan yang terorganisasi.
Di sisi lain, tanaman kelor yang dahulu menjadi identitas desa semakin jarang dijumpai akibat perubahan penggunaan lahan dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan bergizi maupun komoditas ekonomi masyarakat.
Menurut Desiana, Program PDB telah dimulai sejak April 2026 melalui koordinasi dengan pemerintah desa, identifikasi kebutuhan masyarakat, pemetaan potensi dan permasalahan, serta penyusunan rencana pemberdayaan bersama kedua mitra.
Tahapan tersebut menjadi fondasi agar implementasi program benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat dan mampu berkelanjutan setelah masa pendanaan berakhir.
Selanjutnya, pada 12 Juni 2026 segenap tim melaksanakan sosialisasi program yang melibatkan pemerintah desa, ketua RT/RW, tokoh masyarakat, Karang Taruna, kelompok usaha di bawah BUMDes, dan masyarakat.
Selain memberikan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan gerakan menghidupkan kembali tanaman kelor sebagai identitas desa, kegiatan tersebut juga diisi dengan pelatihan literasi keuangan, pembukuan sederhana, manajemen usaha, dan penguatan kapasitas pelaku usaha bagi kelompok usaha makanan lokal.
Pendampingan dilanjutkan melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama Karang Taruna untuk menyusun sistem layanan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mekanisme operasional, pembagian peran, serta gerakan penanaman kembali kelor di lingkungan permukiman.
Kelompok usaha makanan lokal juga memperoleh pelatihan mengenai standar produksi, higienitas, dan peningkatan mutu produk.
Anggota tim Program PDB dari Undira, Sri Hesti, mengatakan keberhasilan pemberdayaan masyarakat sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif masyarakat itu sendiri.
"Pengelolaan sampah, gerakan menanam kelor, maupun pengembangan usaha pangan lokal tidak cukup hanya didukung oleh peralatan. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat agar program dapat berjalan secara mandiri setelah pendampingan selesai," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pondok Kelor, Junaedi mengapresiasi kolaborasi kedua perguruan tinggi tersebut karena menjawab kebutuhan masyarakat dalam pengelolaan sampah sekaligus mengembangkan potensi tanaman kelor sebagai identitas desa.
Program Pemberdayaan Desa Binaan di Desa Pondok Kelor dirancang berlangsung selama tiga tahun. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan fondasi sistem pengelolaan sampah, gerakan tanam kelor, dan penguatan kapasitas kelompok usaha pangan lokal.
Tahun kedua diarahkan pada penguatan operasional dan pengembangan usaha, sedangkan tahun ketiga difokuskan pada penguatan kelembagaan desa agar sistem yang telah dibangun mampu berjalan secara mandiri dan menjadi model pemberdayaan desa peri-urban yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.





