Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 2 Ketaon, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, harus berpindah-pindah ruangan.
Tiga ruang kelas mengalami kerusakan pada bagian struktur atap sehingga tidak lagi digunakan demi menjaga keselamatan siswa.
Kerusakan terjadi pada bagian kuda-kuda dan belandar atau balok penyangga atap yang menjadi penopang utama bangunan. Bahkan, pihak sekolah terpaksa memasang penyangga dari bambu agar bagian atap tidak roboh.
Kepala SDN 2 Ketaon, Wahyudi, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung hampir satu tahun.
Baca juga: Tak Hanya SD, Sebanyak 32 SMP di Boyolali Masih Kekurangan Murid
Dalam enam bulan terakhir, sekolah menggunakan penyangga tambahan karena beberapa bagian balok kayu mulai mengalami kerusakan.
"Bagian kuda-kuda dan belandar (balok penyangga) sudah banyak yang putus. Selama enam bulan terakhir, atap terpaksa kami sangga menggunakan bambu," kata Wahyudi.
Akibat kondisi itu, kegiatan belajar mengajar (KBM) tiga kelas dipindahkan ke sejumlah ruangan lain yang masih dianggap aman. Para siswa kini harus belajar di musala, ruang komputer, perpustakaan, ruang guru, hingga ruang kepala sekolah.
Baca juga: BREAKING NEWS : Bupati Boyolali Copot Camat yang Kirim Video Tak Senonoh ke Mantan Karyawan
Padahal, SDN 2 Ketaon merupakan sekolah induk setelah adanya penggabungan dengan SD Negeri 1 Ketaon. Keterbatasan ruang membuat pihak sekolah harus mengatur ulang penggunaan ruangan agar seluruh siswa tetap bisa mengikuti pembelajaran.
"Kerusakan struktur atap ini sebenarnya sudah berlangsung selama hampir satu tahun," ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak sekolah telah mengajukan rencana perbaikan total melalui Rencana Anggaran Biaya (RAB) senilai Rp636 juta kepada pemerintah pusat.
Kondisi SDN 2 Ketaon turut mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali. Kepala Disdikbud Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, melakukan pengecekan langsung ke lokasi dan memastikan sekolah tersebut masuk dalam daftar prioritas perbaikan.
"Alhamdulillah, tahun ini sudah ada surveyor pendamping dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang meninjau kondisi sekolah. Tujuannya agar SDN 2 Ketaon bisa mendapatkan dana revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk tahun anggaran 2026," jelas Kuncoro.
Baca juga: Nasib SD Negeri di Solo Raya : Murid Baru Kini Langka, Kelas Sunyi Sambut Tahun Ajaran 2026/2027
Menurutnya, apabila proses rehabilitasi mulai dilakukan, sebagian siswa kemungkinan akan dipindahkan sementara ke SDN 1 Ketaon yang sebelumnya telah ditutup.
"Kami akan survei dan komunikasikan terlebih dahulu dengan pemerintah desa setempat agar sebagian ruang di SDN 1 Ketaon bisa digunakan sementara waktu, sambil menunggu proses rehabilitasi selesai," tambahnya.
Pemerintah daerah berharap proses perbaikan dapat segera terealisasi sehingga kegiatan belajar mengajar siswa SDN 2 Ketaon kembali berlangsung secara normal dengan ruang kelas yang lebih aman dan nyaman.