Kisah Getir MPLS, Sekolah di DIY, Jateng, dan Jatim hanya Dapat Sedikit Siswa Baru, Jombang cuma 1
Bobby Wiratama July 13, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sudah berjalan di hari pertama.

Acara yang diikuti oleh para siswa baru ini harusnya menjadi momen bahagia bagi siswa baru karena berkenal dengan teman baru, tempat baru, guru baru, dan lembaran kehidupan baru.

Tapi, apa jadinya jika MPLS hanya diikuti satu siswa saja.

Potret getir tersebut bahkan terjadi di jantung kota Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

SDN Mojongapit 3 di Dusun Weru, Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur hanya ada satu murid baru saja saat MPLS 2026.

Yoga Pratama (6), menjadi satu-satunya siswa yang memulai perjalanan pendidikan dari kelas I di SDN Mojongapit.

Potret sepinya siswa ini menjadi ironi, padahal lokasi SD tersebut berada hanya sekitar tiga kilometer dari Kantor Bupati Jombang.

Kepala SDN Mojongapit 3, Zumaroh Isadah mengatakan, kenyataan pahit ini bukan terjadi begitu saja.

Rendahnya minat masyarakat hingga khawatirnya orang tua terhadap keterbatasan jumlah guru yang sempat dialami SDN Mojongapit 3 menjadi faktor sepinya peminat di sekolahnya.

Apalagi, beberapa waktu lalu, sekolah hanya memiliki dua guru kelas hingga memaksa guru mata pelajaran ikut mengajar sebagai wali kelas.

Dalam kondisi tertentu, penggabungan dua kelas menjadi satu kelas pun harus dilakukan agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan.

Baca juga: MPLS 2026 Resmi Dimulai, Bobby Nasution Minta Sekolah Bebas Perundungan dan Kekerasan

"Orang tua sempat menyampaikan kekhawatirannya. Mereka takut kalau kelas digabung, anak-anak tidak mendapatkan perhatian secara maksimal," ucap Zumaroh kepada Tribunjatim.com, Senin (13/7/2026).

Namun, saat ini sekolah sudah menjadi lebih baik dan ia berharap warga sekitar bisa melihatnya.

"Kami ingin memberikan kenyamanan kepada anak-anak selama belajar di sini,"

"Semoga masyarakat bisa melihat bahwa kondisi sekolah sekarang sudah jauh lebih baik," katanya.

SISWA BARU - Potret satu siswa baru yang duduk di Kelas 1 SD Negeri Mojongapit 3, Dusun Weru, Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (13/7/2026). Jumlah siswa di sekolah kini hanya tersisa 39 orang.

SD di Banyumas Cuma Dapat 3 Murid Baru

Kondisi hampir mirip juga terjadi di Banyumas, Jawa Tengah.

SDN 8 Kranji di Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas hanya mendapatkan 3 siswa di kelas 1.

"Karena enggak ada anaknya, mungkin karena umur, yang masuk di sini tiga anak saja," ujar Nur, salah satu orang tua siswa, Senin (13/7/2026).

Minimnya jumlah peserta didik baru ini menjadi perhatian karena SDN 8 Kranji memiliki daya tampung 28 siswa dalam satu rombongan belajar, terlebih sekolah ini berlokasi di pusat Kota Purwokerto.

Nur Laila, Kepala SDN 8 Kranji mengatakan, pada awal Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara online, sekolahnya hanya menerima satu pendaftar.

Sementara dua murid baru lainnya mendaftar dengan datang ke sekolah langsung.

"Pada awal pendaftaran online hanya ada satu siswa yang mendaftar,"

"Kemudian, sesuai arahan bupati Banyumas, kami membuka pendaftaran secara offline sebagai upaya memudahkan masyarakat mendaftar," katanya, dikutip dari TribunBanyumas.com.

SMP di Yogyakarta hanya Terima 3 Murid Baru

Suasana MPLS yang tak ramai juga terjadi di SMP Gotong Royong Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, Senin (13/7/2026) pagi.

Di tahun ajaran 2026/2027 ini, sekolah swasta yang sudah berdiri sejak 1982 ini hanya menerima 3 siswa baru di kelas 7 atau kelas 1 SMP.

Kepala SMP Gotong Royong, Amelita Tarigan mengatakan, kondisi seperti ini ternyata bukan hanya dialami pada tahun 2026 saja.

Baca juga: Kemendikdasmen Kutuk Teror Bom di SDN Srengseng Sawah, Kegiatan MPLS Sementara Dihentikan

​"Setiap tahun kondisinya memang seperti ini. Kami bukan sekolah favorit bagi siswa. Rata-rata yang datang ke Gotong Royong karena kesulitan ekonomi, pemegang KMS. Jadi, di sini mereka mencari kesempatan agar tetap bisa belajar," ujarnya, dikutip dari TribunJogja.com.

Meski begitu, tiap tahun ada saja siswa yang mutasi pindah ke sekolahnya.

​"Banyak anak mutasi ke sini di kelas 8 atau kelas 9 karena alasan biaya di sekolah asal. Di sana administrasinya ketat, kalau menunggak setahun diminta mundur. Di sini kami terima karena orang tua mereka rata-rata bekerja serabutan dengan pendapatan tidak menentu," tambahnya.

(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunJatim.com, Anggit Puji Widodo)(TribunBanyumas.com, Permata Putra Sejati)(TribunJogja.com, Azka Ramadhan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.