TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Pengamat Komunikasi Politik Universitas Sriwijaya (Unsri), Nur Aslamiah Supli, menilai salah satu kelemahan gaya komunikasi Presiden RI Prabowo Subianto adalah kecenderungan menggunakan diksi yang keras dan pernyataan yang terkesan membatasi ruang bagi kritik.
Menurut Nur Aslamiah, ungkapan seperti “Yang Merasa Indonesia Suram, Cari Negara Lain” serta penggunaan kata-kata bernada kasar dalam forum publik, dapat dipersepsikan sebagai bentuk komunikasi yang kurang inklusif bagi sebagian masyarakat.
“Pilihan bahasa seperti itu berisiko menggeser perhatian publik dari substansi kebijakan ke kontroversi ucapan. Alih-alih memperkuat dialog, gaya komunikasi yang konfrontatif justru dapat memperlebar jarak antara pemerintah dan kelompok masyarakat yang memiliki pandangan berbeda,” ujar Nur Aslamiah kepada Tribunsumsel.com, Senin (13/7/2026).
Ia menambahkan, gaya komunikasi yang sangat spontan dan emosional memiliki dua sisi. Di satu sisi, spontanitas menciptakan kesan autentik dan dekat dengan rakyat. Namun di sisi lain, setiap ucapan presiden memiliki bobot politik yang besar sehingga mudah menjadi sorotan media.
“Ketika pilihan kata lebih banyak dibicarakan daripada isi kebijakan yang ingin disampaikan, tujuan komunikasi menjadi kurang efektif karena perhatian masyarakat bergeser dari substansi menuju kontroversi,” jelasnya.
Dalam sistem demokrasi, lanjut Nur Aslamiah, komunikasi politik tidak hanya berfungsi menyampaikan kebijakan tetapi juga membangun kepercayaan publik. Kritik, katanya, seharusnya dipandang sebagai bagian dari mekanisme demokrasi yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah.
“Oleh karena itu, seorang kepala negara dituntut mampu memadukan ketegasan dengan empati, kewibawaan dengan kesantunan, serta kepemimpinan yang kuat dengan keterbukaan terhadap dialog. Ketegasan memang penting, tetapi akan lebih efektif apabila disampaikan melalui bahasa yang menghormati keberagaman pandangan,” tandasnya.
Dilanjutkannya, pendekatan tersebut penting agar komunikasi politik tidak hanya memperkuat dukungan, tetapi juga merawat persatuan dan kualitas demokrasi.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto mempersilakan masyarakat Indonesia untuk mencari negara lain apabila mereka merasa masa depan Indonesia suram. Prabowo menilai, masyarakat Indonesia semestinya bersatu dan bergotong royong agar Indonesia bangkit menjadi negara kaya.
"Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang," kata Prabowo dalam acara puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026).
"Kalau di Indonesia mohonlah mari, mari kita bersatu, mari kita gotong royong, mari kita kerja sama. Yang kuat bantu yang lemah, yang lemah kerja sama yang baik. Insyaallah kita akan bangkit, saudara-saudara," ujar dia.
Prabowo juga meminta masyarakat Indonesia tidak memiliki sifat dengki, curiga, dan suka mencaci maki. Menurut dia, sifat asli bangsa Indonesia adalah saling memaafkan, mengerti, mengasihi, dan membantu.
Oleh sebab itu, ia kembali menegaskan pentingnya persatuan di antara perbedaan yang ada.
"Tidak ada keberhasilan dengan pertikaian. Tidak ada. Untuk apa kita bertikai? Kita ini satu keluarga. Apa pun latar belakang kita, apa pun suku kita, apa pun partai kita, semua partai banyak patriot dan semua partai banyak bajingannya juga," kata Prabowo.
Prabowo pun meyakini bahwa gerakan koperasi dapat menjadi salah satu cara untuk membangkitkan ekonomi Indonesia, di samping perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki negara maupun swasta.
"Kalau kita memperkuat koperasi, bukan berarti kita akan memperlemah yang lain. No! Kita perkuat semuanya saudara-saudara sekalian. Indonesia kaya, Indonesia akan bangkit, dan Indonesia akan mampu memperkuat semua kekuatan di Republik Indonesia ini!" kata dia.