Angka Fatherless Capai 24,9 Persen, Para Ayah di Lamongan Didorong Lebih Aktif Dampingi Anak
Alga W July 13, 2026 11:32 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Imbauan agara para ayah untuk lebih aktif mendampingi anak digaungkan Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi.

Khususnya dengan mengantar mereka ke sekolah pada hari pertama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Baca juga: Stasiun Lamongan Layani 23.159 Penumpang selama Libur Sekolah 2026, Naik 3 Persen Dibanding 2025

Menurutnya, kehadiran seorang ayah memiliki peran penting dalam tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak.

Hal itu disampaikan Yuhronur Efendi saat menghadiri kegiatan MPLS yang digelar serentak bagi peserta didik jenjang PAUD, TK, hingga SD di Kabupaten Lamongan.

Dalam sambutannya, Bupati menyoroti hasil survei yang menunjukkan masih tingginya fenomena fatherless atau ketidakhadiran ayah dalam proses pendidikan anak.

"Survei, baik secara global maupun yang dirilis BKKBN, menunjukkan fenomena fatherless mencapai sekitar 24,9 persen.
Artinya, masih banyak ayah yang belum terlibat secara aktif dalam pendidikan anak dan menyerahkan sepenuhnya kepada ibu atau pihak lain," ujarnya di acara MPL Gerakan Aksi Penguatan Transisi PAUD ke SD Yang Menyenangkan di Lamongan (Gerai Si Dilan) di Desa Balungwangi, Kecamatan Tikung, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena sosok ayah memiliki peran besar sebagai pelindung, pemberi rasa aman, sekaligus pendamping dalam perkembangan anak.

"Kehadiran ayah tidak bisa digantikan. Hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak akan tetap menjadi fondasi utama meski perkembangan teknologi dan perubahan sosial berlangsung sangat cepat," ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah pusat juga memberikan perhatian terhadap pentingnya keterlibatan ayah.

Bahkan, pemerintah melalui kementerian terkait memberikan kelonggaran bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah.

Kaji Yes menilai, langkah tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat pendidikan karakter sejak usia dini.

Ia mengingatkan bahwa generasi yang saat ini memasuki bangku sekolah akan menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045.

Oleh karena itu, pembentukan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga melalui keterlibatan orang tua, terutama ayah.

"Teknologi akan terus berkembang, tetapi kasih sayang, perhatian, dan kedekatan antara anak dengan orang tua tidak akan pernah tergantikan. Mengantar anak ke sekolah, membimbing, memandikan, hingga bercerita tentang sekolah merupakan bagian penting dalam membangun kedekatan itu," tuturnya.

Ia juga berharap terjalin sinergi yang kuat antara orang tua, sekolah, masyarakat, dan pemerintah dalam mendampingi proses pendidikan anak.

Ia mengapresiasi komitmen para orang tua yang menyatakan "menitipkan" anak kepada sekolah, bukan sekadar menyekolahkan.

"Yang bertanggung jawab terhadap masa depan anak tetap orang tua. Sekolah membantu mendidik, sehingga harus ada kerja sama yang baik antara keluarga dan sekolah," ucapnya.

Baca juga: Ketegasan Pemkot Malang Diperlukan untuk Atasi Menjamurnya PKL & Pedagang Asongan di Kota Malang

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Shodikin, mengajak para wali murid untuk mengutamakan ayah dalam mengantar anak ke sekolah, khususnya pada hari pertama MPLS.

"Kalau bisa yang mengantar adalah bapaknya. Kalau memang berhalangan dengan alasan yang sangat penting, baru bisa diantar ibunya."

"Namun ke depan, tidak hanya hari ini, ayah juga diharapkan memiliki prioritas mengantar anak ke sekolah," katanya.

Shodikin menjelaskan, pelaksanaan MPLS tahun ini merupakan gerakan yang dicanangkan Kementerian Pendidikan untuk menciptakan transisi yang menyenangkan dari PAUD atau TK menuju SD sekaligus memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga.

Menurutnya, komunikasi antara orang tua dan guru menjadi sangat penting agar setiap karakter dan keunikan anak dapat dipahami sejak awal.

"Setiap anak memiliki potensi dan karakter yang berbeda. Orang tua perlu menyampaikan kondisi serta keunikan anak kepada guru agar proses pembelajaran bisa berjalan lebih optimal," ujarnya.

Ia menambahkan, tujuan MPLS adalah menciptakan budaya sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan, baik secara fisik, psikis, maupun sosial.

Dengan demikian, anak dapat berkembang sesuai potensinya tanpa rasa takut terhadap perundungan maupun kekerasan di lingkungan sekolah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.