JANGAN LEWATKAN SEDETIK PUN DARI PIALA DUNIA
Jules Kounde menepis anggapan bahwa komentar penuh percaya diri dari Lamine Yamal menjelang semifinal Piala Dunia antara Spanyol dan Prancis menimbulkan ketegangan. Juara Euro 2024 dan finalis Piala Dunia 2022 itu akan saling berhadapan untuk memperebutkan tiket ke final pada hari Selasa.
Tidak ada perseteruan antar rekan setim di Barcelona
Yamal terdengar cukup percaya diri menjelang duel melawan juara Piala Dunia 2018, namun bek Prancis itu menegaskan bahwa ucapan rekan setimnya di Barcelona tersebut tidak bermaksud merendahkan siapa pun. “Tidak ada satu pun dari kami yang merasa tidak dihormati oleh Lamine,” ujar Kounde, menanggapi isu yang berkembang seputar komentar sang remaja sebelum pertandingan.
Bek serba bisa itu menegaskan bahwa ia memahami cara berpikir rekan satu klubnya tersebut. “Saya sangat mengenal Lamine, dan itu adalah tanda kepercayaan diri serta motivasi tambahan baginya,” jelas Kounde.
Komentar penuh percaya diri Yamal memicu perdebatan
Pernyataan itu muncul setelah Yamal mengatakan bahwa Prancis, bukan Spanyol, yang seharusnya merasa takut menjelang semifinal di Dallas pada hari Selasa. “Menurut saya, jika ada tim yang harus takut, itu adalah Prancis, bukan kami,” kata Yamal kepada awak media setelah kemenangan Spanyol 2-1 atas Belgia di perempat final. “Kami yang telah menyingkirkan mereka sebelumnya,” tambahnya, merujuk pada kemenangan Spanyol atas Prancis di semifinal Euro 2024 dan pertemuan mereka di ajang Nations League tahun lalu.
Yamal dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam laga melawan Belgia dan tetap menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi menjelang bentrokan dengan Prancis. “Kami tidak takut kepada siapa pun,” ujarnya. “Jelas bahwa kami adalah dua tim besar, dua tim nasional papan atas, dan bagi saya mereka termasuk yang terbaik. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi.”
Konate menyerukan ketenangan dan kerendahan hati
Komentar Yamal mendapat tanggapan dari kubu Prancis, dengan pemain baru Real Madrid, Ibrahima Konate, memberikan respons langsung terhadap pernyataan penyerang Barcelona itu. “Dia boleh mengatakan apa pun yang dia mau. Sejujurnya, kami tidak memperhatikan apa yang dia katakan. Kami tidak perlu takut kepada siapa pun, tapi kami harus tetap rendah hati dan tidak terjebak dalam hal-hal seperti itu di tahap kompetisi seperti ini,” ujar Konate dalam konferensi pers, seraya menambahkan bahwa fokus timnya sepenuhnya tertuju pada pertandingan, bukan perang kata-kata.
Pertarungan taktik dalam perebutan penguasaan bola
Di luar pernyataan-pernyataan yang beredar, Kounde menyoroti tantangan taktis yang akan dihadirkan oleh tim asuhan Luis de la Fuente. Spanyol dikenal dengan gaya permainan yang mengandalkan penguasaan bola yang dominan, dan Kounde mengakui bahwa Prancis perlu menyesuaikan pendekatan mereka untuk bisa melangkah ke final. Rencana permainan Prancis yang biasanya mengandalkan pertahanan solid dan serangan balik cepat mungkin perlu sedikit perubahan untuk mengganggu ritme permainan Spanyol.
Kounde menjelaskan kesulitan menghadapi tim yang telah tiga kali menjuarai Euro tersebut, dengan berkata: “Kekuatan Spanyol terletak pada kolektivitas dan penguasaan bola mereka. Kami memiliki gaya permainan yang sedikit berbeda, lebih mengandalkan transisi, meskipun kami juga ingin menguasai bola besok agar bisa membuat mereka melakukan kesalahan. Melawan Spanyol, Anda tidak bisa membiarkan mereka menguasai bola selama 90 menit, karena pada akhirnya mereka akan menemukan celah dan membuat Anda kelelahan.”