Di Jepang, Banyak Warga Perlakukan Anjing Bak Anak Sendiri, Bisnis Perawatan Hewan pun Melejit
Garudea Prabawati July 14, 2026 07:21 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Jepang tengah menghadapi krisis demografi yang tak hanya mengubah struktur penduduk, tetapi juga menggeser arah dunia usaha.

Di banyak kota di Jepang, pemandangan warga berjalan santai sambil menggandeng anjing peliharaan kini menjadi hal yang lumrah.

Sebagian anjing mengenakan pakaian, sebagian lainnya duduk di kereta dorong khusus atau digendong menggunakan alat yang sekilas menyerupai gendongan bayi.

Pemandangan tersebut mencerminkan perubahan sosial yang sedang berlangsung di Negeri Sakura.

Di tengah terus menurunnya angka kelahiran, hewan peliharaan kini diperlakukan layaknya anggota keluarga, bahkan seperti anak sendiri.

Fenomena yang dikenal sebagai "fur babies" atau "anak berbulu" itu turut melahirkan pasar baru yang berkembang pesat, mulai dari popok, kereta dorong, hingga gendongan khusus untuk anjing dan kucing.

Dikutip dari Al Jazeera, jumlah hewan peliharaan di Jepang kini telah melampaui jumlah anak-anak berusia di bawah 15 tahun hingga lebih dari dua juta.

Sejalan dengan itu, nilai industri perawatan hewan peliharaan juga terus meningkat.

Berdasarkan data Euromonitor, pasar perawatan hewan di Jepang mencapai 880 miliar yen atau sekitar 5,4 miliar dolar AS pada 2025, naik dari 689,6 miliar yen pada 2020.

Fenomena yang Terlihat dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena tersebut juga diamati oleh Margaretha Inggrid, warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Nagasaki, Jepang.

Baca juga: Tips Memelihara Anabul Agar Sehat dan Panjang Umur, Cat Parents Wajib Tahu Nih!

Kepada Tribunnews.com melalui pesan WhatsApp, Senin (13/7/2026), Inggrid mengatakan hampir setiap sore ia melihat banyak warga mengajak anjing peliharaan mereka berjalan-jalan.

"Yang paling sering saya lihat itu Shiba Inu sama Poodle. Kalau sore banyak sekali yang jalan-jalan sambil membawa anjing mereka," ujar Inggrid.

Menurutnya, masyarakat Jepang memperlakukan anjing bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan bagian dari keluarga.

Ia kerap melihat anjing mengenakan pakaian, dibawa menggunakan kereta dorong khusus, hingga menjalani perawatan rutin di salon hewan.

"Di sini anjing itu sudah seperti keluarga. Gampang sekali ketemu anjing di jalan," katanya.

Inggrid juga mengungkapkan harga anjing ras di Jepang tergolong tinggi.

Menurut pengamatannya, harga seekor anjing yang paling murah pun berkisar Rp16 juta.

Meski demikian, tingginya harga tersebut tidak mengurangi minat masyarakat untuk memeliharanya.

Menurut Inggrid, banyak pemilik rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli makanan premium maupun layanan perawatan agar hewan peliharaan mereka tetap sehat dan nyaman.

Dari Gendongan Bayi Beralih ke Gendongan Anjing

Baca juga: Pasar Kripto Makin Dinamis, Volume Transaksi Pepe Coin Lampaui Dogecoin dan Shiba Inu

Perubahan pola hidup masyarakat itu dimanfaatkan pelaku industri.

Lucky Industries, perusahaan yang sejak 1934 dikenal sebagai produsen gendongan bayi di Jepang, kini memproduksi gendongan khusus anjing bernama Nu-i.

Produk tersebut dikembangkan setelah perusahaan melihat semakin banyak pemilik yang ingin membawa anjing peliharaan mereka bepergian dengan cara yang nyaman, layaknya membawa bayi.

Di sisi lain, Unicharm, perusahaan yang selama ini identik dengan popok bayi dan produk kebersihan, juga terus memperluas bisnis perawatan hewan.

Melalui merek Mannerwear, perusahaan tersebut memproduksi popok anjing dan kucing yang kini menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan bisnisnya.

Al Jazeera melaporkan, divisi perawatan hewan Unicharm bahkan mencatat margin keuntungan lebih tinggi dibandingkan divisi produk perawatan manusia.

Juru bicara Unicharm, Isshu Uehara, mengatakan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi pendorong utama tren tersebut.

Semakin banyak warga Jepang memilih menikah di usia lebih tua, hidup melajang, atau menjadi pasangan tanpa anak.

Akibatnya, hubungan emosional dengan hewan peliharaan menjadi semakin kuat.

"Kami melihat pertumbuhan fenomena humanisasi hewan peliharaan, yaitu memperlakukan hewan seperti anggota keluarga atau anak-anak, bukan sekadar hewan," kata Uehara kepada Al Jazeera.

Menurutnya, konsumen kini tidak ragu membeli makanan organik, popok, kereta dorong, pakaian, hingga berbagai produk premium demi memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup hewan peliharaan mereka.

Krisis Demografi Melahirkan Pasar Baru

Baca juga: Pembekalan Sebelum ke Jepang Dinilai Penting untuk Cegah Kesalahpahaman Soal Ibadah di Ruang Publik

CEO Lucky Industries, Hiroyuki Higuchi, mengakui penurunan angka kelahiran memaksa perusahaan beradaptasi.

Pasar perlengkapan bayi yang selama puluhan tahun menjadi andalan semakin mengecil seiring berkurangnya jumlah bayi yang lahir setiap tahun.

"Dengan jumlah bayi yang lebih sedikit, semakin sulit menghasilkan ide-ide baru untuk produk bayi," kata pengembang produk Lucky Industries, Yuka Ohta.

Kini, sektor perawatan hewan dinilai menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan paling menjanjikan di Jepang.

Barbara Holthus, sosiolog dari German Institute for Japanese Studies, menilai Jepang menjadi contoh nyata bagaimana perubahan struktur keluarga memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat.

Menurutnya, anjing dan kucing kini memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar hewan peliharaan.

Mereka dapat menjadi teman hidup, pengganti pasangan, hingga sumber kedekatan emosional di tengah meningkatnya jumlah rumah tangga tanpa anak dan masyarakat yang hidup sendiri.

Bagi Jepang, anjing dan kucing kini bukan lagi sekadar hewan peliharaan, melainkan bagian dari keluarga.

Baca juga: Tiga Tahun Meriset, Unicharm Sukses Manfaatkan Ampas Tebu untuk Bahan Baku Bio Material

Ketika jumlah bayi terus menurun, ikatan emosional masyarakat terhadap "anak berbulu" justru melahirkan industri baru bernilai miliaran dolar.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa krisis demografi tidak hanya mengubah komposisi penduduk Jepang, tetapi juga membentuk wajah baru dunia usaha yang tumbuh mengikuti perubahan cara masyarakat memaknai sebuah keluarga.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.