SURYA.co.id, MADIUN – Pemerintah Kota Madiun Jawa Timur, tak sekadar menggelar ajang pameran batik.
Melalui Madiun Batik Heritage Festival 2026 yang berlangsung pada 16-18 Juli 2026 di Balai Kota Madiun, pemerintah menargetkan lahirnya motif batik khas yang mampu menjadi identitas Kota Pendekar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi para perajin.
Festival ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkot Madiun dalam mengembangkan industri batik lokal agar tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki daya saing di pasar.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, Bagus Panuntun, menegaskan batik memiliki peran penting sebagai identitas daerah sekaligus aset ekonomi yang harus terus dikembangkan melalui inovasi.
Baca juga: Bojonegoro Wastra Batik 2026 Tak Sekadar Pameran Batik, Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
"Yang ingin kami dorong bukan sekadar mengadakan festival, tetapi bagaimana batik Kota Madiun terus berkembang sebagai sebuah karya seni yang memiliki cerita. Setiap motif harus punya makna dan identitas yang bisa dikenakan sekaligus diceritakan," ujar Bagus kepada SURYA.co.id, Selasa (14/7/2026).
Untuk mewujudkan hal tersebut, festival menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan pembatik, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat.
Rangkaian acaranya meliputi Batik Exhibition, Nyanting On The Spot, Batik Fashion Show, Batik Design Competition, Digital Batik Design Competition, Batik Photo Hunt, hingga Batik Craft Painting.
Tak berhenti pada penyelenggaraan festival, Pemkot Madiun juga mulai menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat ekosistem batik di daerah.
Bagus mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disnaker KUKM) serta Dekranasda Kota Madiun guna menyusun pengembangan batik secara berkelanjutan.
Salah satu gagasan yang tengah dikaji ialah pembentukan kawasan batik di kawasan Rimba Darma, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo.
"Saya sudah ngobrol dengan teman-teman Disnaker dan Dekranasda terkait pengembangan kawasan batik di Kota Madiun, seperti di kawasan Rimba Darma," jelas Bagus.
Menurutnya, festival ini juga diharapkan mampu menghasilkan motif-motif batik baru yang memiliki karakter kuat sebagai identitas Kota Madiun.
Pemkot pun berupaya memastikan karya para peserta tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi para pembuatnya.
"Kami ingin hasil lomba ini bisa menjadi aset Pemerintah Kota Madiun, tetapi pembatiknya juga tetap memiliki hak atas karyanya sehingga ada value yang mereka peroleh. Harapannya, karya mereka semakin dihargai dan batik Kota Madiun memiliki identitas yang kuat," jelasnya.
Selain menjadi ruang apresiasi, festival juga diisi berbagai kompetisi yang masih membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi.
Batik Design Competition dan Digital Batik Design Competition dapat diikuti secara gratis hingga 13 Juli 2026.
Khusus lomba desain digital akan digelar pada 18 Juli di Balai Kota Madiun.
Sementara itu, Batik Photo Hunt masih membuka pendaftaran hingga 15 Juli dan akan berlangsung pada 16 Juli dalam dua sesi, yakni pukul 07.30-10.30 WIB dan 15.30-17.00 WIB. Peserta diajak mengabadikan keindahan batik melalui karya fotografi.
Bagi pecinta fesyen, Batik Fashion Show menjadi salah satu agenda unggulan dengan kategori anak, remaja, umum, dan delegasi organisasi perangkat daerah (OPD).
Babak penyisihan kategori umum dan delegasi OPD dijadwalkan pada 16 Juli, kategori anak dan remaja pada 17 Juli, sedangkan grand final digelar pada 18 Juli 2026 di Balai Kota Madiun.
Melalui penyelenggaraan Madiun Batik Heritage Festival 2026, Pemkot Madiun berharap batik tidak hanya semakin dikenal masyarakat, tetapi juga mampu melahirkan motif khas yang memperkuat identitas Kota Madiun, meningkatkan daya saing produk lokal, serta membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi para pembatik.