14 JULI 2026, rakyat Prancis merayakan Bastille Day dengan sukacita, penuh kebanggaan sekaligus was was.
Di hari itu, timnas Prancis akan melakoni laga semifinal Piala Dunia melawan Spanyol.
Pertandingan kedua raksasa Eropa itu akan berlangsung di stadion Dallas, Arlington, Amerika Serikat.
Penjara Bastille, 14 Juli 1789.
Baca juga: Cewek Minahasa Cindy Rifanti Jagokan Inggris Juara Piala Dunia, Prediksi Three Lions Angkat Trofi
Rakyat yang marah karena dibebani pajak berlebihan dan melihat kehidupan mewah para raja dan bangsawan, menyerbu penjara tersebut.
Didukung para Gardes Françaises, pasukan elite pengawal Paris yang membelot, rakyat berhasil merangsek masuk, membebaskan tawanan serta memenggal kepala Delauney yang jadi simbol perlawanan.
Bastille diserang karena merupakan simbol absolutisme raja.
Penyerbuan Bastille mencetuskan revolusi Prancis yang mengakhiri kekuasaan Monarki kerajaan dan melahirkan Demokrasi modern di Prancis.
Saya mencoba memakai ilmu cocoklogi.
Spanyol adalah pemegang hegemoni sepakbola Eropa saat.
Permainan flamboyan dari kaki ke laki, yang bukan hanya indah dilihat tapi efektif menghancurkan lawan, mungkin sejenis aristokrasi sepakbola yang sulit dikalahkan saat ini.
Prancis adalah salah satu korbannya.
Pada Euro 2024, Mbappe Cs dipermak Spanyol 2.1.
Di Piala Dunia 2016, Spanyol adalah tim yang paling menekan lawannya.
Yamal Cs selalu bisa mengurung setengah lapangan lawannya.
Mereka memberlakukan pressing ketat.
Tim lawan paling tinggi hanya bisa memegang bola hingga delapan sepakan sebelum direbut kembali para pemain Spanyol.
Saat menyerang dua bek sayap Porro dan Cucurela selalu naik untuk melapis Yamal dan Ferran Torres.
Nah celah inilah yang bisa dimanfaatkan penyerang Prancis seperti Mbappe, Dembele, Barcola dan Oliseh.
Mereka punya kecepatan dan skill tinggi.
Saya kira Prancis saat ini punya Liberte, Egalite dan Fraternite, semboyan agung revolusi Prancis.
Di bawah pelatih Deschamps, line depan dan tengah tim Prancis punya kebebasan tukar posisi.
Antara Dembele dan Oliseh.
Kemudian Barcola dan Doue.
Pun antara Mbappe serta Oliseh.
Kebebasan ini membuat Prancis bermain ruang gembira, sebaliknya lawan tenggelam dalam kemurungan.
Dipenuhi bintang, namun Prancis adalah tim yang bergantung pada sistem.
Ego para pemain takluk sepenuhnya pada strategi Deschamps.
Ia bisa kapan saja mengganti gaya bermain, dari menyerang ke bertahan, dan semua pemain musti patuh.
Dan semua itu dimungkinkan oleh semangat persaudaraan para pemain.
Mereka merasa layaknya saudara yang harus menyatukan potensi untuk mencapai hasil terbaik.
Dengan spirit Liberte, Egalite dan Fraternite, Prancis bakal mencoba meruntuhkan tembok Spanyol.
Masalahnya tembok itu kian kokoh.
Grafik permainan timnas Spanyol terus meningkat dari laga ke laga.
Spanyol kian mengerikan karena Nico Williams sudah sembuh.
Yamal juga terus hot.
Demikian pula Pedri dan Rodri di lini tengah.
Revolusi memang selalu menggugah, selalu menghancurkan tataran lama.
Namun monarki dan aristokrasi selalu punya cara untuk bertahan.
Perubahan atau kemapanan, pertentangan kekal ini akan selalu ada dalam kehidupan ini.
Hasil akhir laga di Hari Bastille ini akan menjawab apakah kekuatan sistem Spanyol yang mapan mampu bertahan, atau justru runtuh oleh ledakan revolusi permainan Prancis. (Arthur Rompis)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini