Semenjak BBM Jenis B50 Diresmikan, Warga Sumut Antre di SPBU, Sulit Dapatkan Minyak Subsidi
Ilham Fazrir Harahap July 14, 2026 11:10 AM

 

TRIBUN-MEDAN.com - Semenjak Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan bahan bakar minyak (BBM) jenis baru biodiesel B50, warga di Sumatera Utara tengah sibuk antre di sejumlah SPBU. Warga kesulitan mendapat BBM yang biasanya mereka gampang untuk didapatkan.

Presiden Prabowo baru-baru ini baru saja meluncurkan BBM baru biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Cikampek, Karawang, Jawa Barat.

Dalam peluncuran itu, Prabowo didampingi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri, dan CEO Danantara Rosan Roeslani. 

Dengan demikian, Indonesia kini menjadi negara pertama di dunia yang meluncurkan B50.

Prabowo b50 resmi
Presiden RI Prabowo Subianto saat meluncurkan BBM baru B50 di Rest Area KM 57 Cikampek, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)

Prabowo turut mengeklaim bahwa Indonesia tak perlu lagi mengimpor solar dari luar negeri. 

Diketahui, penerapan B50 diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati. 

Baca juga: HARGA Minyak Dunia Melonjak 9 Persen Konflik AS-Iran Memanas Lagi, Warga Sumut Sibuk Antre BBM

Selain itu, diatur dalam pula Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 Tahun 2026 tentang kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50 persen dalam minyak solar.

Melalui mandatori B50 ini, maka diwajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen untuk semua jenis BBM berupa minyak solar. 

Dalam pelaksanaannya, badan usaha bahan bakar nabati, badan usaha bahan bakar minyak, dan badan usaha penyalur wajib menerapkan standar dan mutu sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan. 

Jika badan usaha BBM tidak melaksanakan kewajiban pencampuran, atau badan usaha BBN tidak menyalurkan B50, maka dapat dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis, penghentian sementara kegiatan, dan/atau pencabutan perizinan berusaha sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Untuk mendukung transisi implementasi, badan usaha BBM pun diberikan masa transisi hingga 30 September 2026 untuk menghabiskan stok biodiesel B40.

Baca juga: Pertamina Lambat Distribusi BBM di Sumut, Antrean Bakal Berhari-hari, Potensi Kenaikan Harga

Menteri ESDM juga akan melakukan evaluasi pelaksanaan B50 secara berkala setiap tiga bulan. 

Kesiapan dari aspek teknis sudah dilakukan pemerintah melalui pengujian pada enam sektor pengguna mesin diesel, yaitu otomotif, alat dan mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, dan kereta api.

Pengujian ini bertujuan memastikan kinerja, keamanan, dan kompatibilitas B50. Dari aspek pasokan dan distribusi, pemerintah memastikan kesiapan kapasitas produksi biodiesel, ketersediaan bahan baku, serta infrastruktur pencampuran atau blending dan distribusi. 

Di sisi lain, implementasi B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah CPO dari Rp 20,92 triliun menjadi sekitar Rp 23,49 triliun. Selain itu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO2 pada 2026.

Semenjak Diluncurkan B50 Warga Sumut Justru Antre di SPBU

Pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di wilayah Sumatera Utara, mengalami kesulitan beberapa hari terakhir. Diketahui, sejak Jumat (10/7/2026) lalu di sejumlah SPBU di seputar Kota Medan hingga di sepanjang jalan lintas mengalami kekosongan stok BBM. 
Bahkan, di beberapa SPBU tak hanya BBM bersubsidi jenis pertalite dan solar yang mengalami kekosongan stok, namun juga BBM non subsidi jenis pertamax tak jarang juga ditemukan kosong. Kondisi ini, bertahan hingga Senin (13/7/2026) malam bahkan jelang dini hari tadi tampak di sejumlah SPBU antrean kendaraan masih mengular hingga ke jalan raya. 
Amatan www.tribun-medan.com, kondisi serupa juga tampak hari ini Selasa (14/7/2026) dimana di beberapa SPBU antrean kendaraan terlihat masih mengular. Seperti yang terjadi di SPBU 14.203.199 di Jalan Jamin Ginting, tepatnya di kawasan Padang Bulan, Kota Medan, terlihat puluhan kendaraan baik sepeda motor maupun mobil mengantre untuk mengisi BBM. 

Baca juga: Simulasi Tarif Tol Simpang Panei: Paling Murah Rp 13.500, Paling Mahal Rp 210.000

Untuk pagi ini, tampak di SPBU tersebut menyediakan dua jenis BBM yakni pertalite dan pertamax. Sementara, untuk BBM jenis bio solar sejauh ini masih belum tersedia dimana terlihat dari plang yang ada di bagian depan bertuliskan bio solar dalam pengiriman. 
Tampak di lapangan, puluhan kendaraan mengular hingga ke bagian depan SPBU bahkan hingga beberapa meter ke jalan raya. Jika dibandingkan biasanya, antrean kendaraan ini diperkirakan mencapai dua kali lipat dari srok BBM yang normal. 
Melihat banyaknya pengendara yang mengantre, membuat pengendara harus rela menunggu antrean lebih lama. Dari beberapa pengendara yang mengantre mengaku, sudah menunggu giliran kendaraannya diisi BBM sekitar setengah jam. 
"Ada lah tadi sekitar setengah jam nunggu bang," ujar salah satu pengendara, Brian. 
Pria yang mengaku warga Perumnas Simalingkar ini mengaku, ia sengaja mengantre BBM karena memang stok BBM di sepeda motornya sudah hampir habis. Tak hanya itu, karena waktu yang masih cukup pagi ia langsung mengambil kesempatan agar antrean kendaraan tak semakin parah. 
"Tadinya habis olahraga, saya lihat sudah buka SPBU-nya, yaudah ikut antrean aja lah. Lagian memang sudah mau habis minyak (BBM) saya," katanya. 
Melihat sulitnya pendistribusian BBM belakangan ini, pria yang mengenakan kacamata ini juga turut menyuarakan keresahannya. Dimana, ia meminta kepada pemerintah dan Pertamina agar memastikan pendistribusian BBM ke masyarakat segera pulih kembali. 
Pasalnya, sejauh ini tak ada lagi kendala baik faktor cuaca alam maupun ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah yang dikabarkan berdampak ke pendistribusian BBM ke Indonesia. Melihat hal ini, dirinya mengaku tentunya kendala yang ada kini berada di dalam internal pemerintah maupun Pertamina sendiri. 
"Iya berarti kan sekarang yang di dalam yang bermasalah, bukan karena ada faktor luar. Maunya segera lah dicarikan solusi, payah jadinya masyarakat kalau sulit BBM gini," katanya. 
Pengendara lainnya bermarga Lase, mengungkapkan hal yang tak jauh berbeda dengan yang diungkapkan Brian. Katanya, ia belakangan ini jadi sulit untuk berangkat berkerja karena harus mengantre BBM dengan waktu yang tak sebentar. 
"Mau kerja pun susah payah minyak (BBM) gini bang," ucap Lase. 
Keduanya berharap, ke depan pemerintah dapat segera mencarikan solusi agar pendistribusian BBM ke masyarakat tak lagi bermasalah. Mulai dari stok dan armada yang diperbanyak, hingga memutus mata rantai penyelewengan penyaluran BBM subsidi.

(Tribun-Medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.