Update Pasca Harimau Tewaskan Pekerja HTI di Pelalawan, BKSDA Riau Pasang 2 Box Trap di Lokasi
Ariestia July 14, 2026 12:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memasang dua box trap di lokasi serangan harimau sumatera yang menewaskan pekerja Hutan Tanaman Industri (HTI) di Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Pelalawan pada Jumat (10/7/2026) lalu.

Pemasangan kandang jebak untuk mengantisipasi tejadinya kembali interaksi negatif satwa liar harimau sumatera di Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan Hutan Tanaman Industri (PBPH-HTI) PT Madukoro Lestari Estate Tasik.

Korban meninggal bernama Eko Prastio (29) yang tercatat sebagai warga Kelurahan Bina Baru, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar. 

Baca juga: Pasca Serangan Harimau Tewaskan Anak 12 Tahun, Pekerja di Camp Perusahaan HTI Pelalawan Dievakuasi

Korban merupakan karyawan dari PT Aghi Putra Perdana yang merupakan perusahaan kontraktor PT Madukoro Lestari Estate Tasik. Korban Eko diterkam harimau sumatera di camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan.

"Kami meminta perusahaan agar menerapkan SOP secara ketat serta menghimbau seluruh masyarakat, pekerja, dan perusahaan yang beraktivitas di sekitar kawasan habitat Harimau Sumatera agar meningkatkan kewaspadaan," ungkap Pelaksana Harian Kepala Balai Besar KSDA Riau, Laskar Jaya Permana, Selasa (14/7/2026).

Selain itu, BKSDA Riau mengimbau agar tidak melakukan aktivitas seorang diri terutama pada malam hingga dini hari.

Termasuk memastikan sistem pengamanan camp pekerja dalam kondisi baik. 

Tim BKSDA memasang dua unit kandang jebak di lokasi kejadian.

Satu kandang besi itu diletakkan di dekat camp pekerja dan satu lagi dipasang di areal hutan.

Dengan harapan si belang bisa ditangkap dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. 

"Sampai saat ini tim kami masih di lapangan. Sinyal agak sulit di lokasi, jadi belum ada update terbaru," katanya.

Camat Pelalawan, Theopandu Al Rasyid, S.STP menyebutkan, berdasarkan hasil komunikasi dengan aparat Desa Sungai Ara, saat ini tim BKSDA Riau masih di lapangan untuk melakukan penanganan lanjutan pascaserangan mematikan harimau terhadap pekerja HTI pekan lalu.

"Pihak perusahaan juga disarankan untuk memberikan pelatihan khusus kepada karyawannya yang tinggal di areal tersebut," ujar Camat Theopandu. 

Pelatihan itu bertujuan agar pekerja bisa menyesuaikan dengan kondisi alam dan  menjaga keselamatan mereka atas interaksi negatif dengan binatang bernama latin Panthera tigris sumatrae itu. 

Konflik harimau dengan pekerja ini merupakan kedua kali dalam satu pekan ini. Setelah si belang menerkam seorang anak berusia 12 tahun Selasa (7/7/2026) di Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan Hutan Tanaman Industri (PBPH-HTI) PT Madukoro Lestari Tasik Estate, Kabupaten Pelalawan. Korban bernama Jerlin Zalukhu (12) yang meninggal dunia diterkam di camp saat mencuci peralatan makan di kamar mandi sekitar jam 04.30 wib.

Sedangkan korban kali ini bernama Eko Prastio (29) yang tercatat sebagai warga Kelurahan Bina Baru, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar.

Korban merupakan karyawan dari PT Aghi Putra Perdana yang merupakan perusahaan kontraktor PT Madukoro Lestari Estate Tasik. Korban Eko diterkam harimau sumatera di camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Pelalawan. 

"Korban diserang harimau sekitar pukul 19.00 wib di areal camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Pelalawan. Ia ditemukan meninggal dunia keeseokan harinya," tutur Kasi Humas Polres Pelalawan, AKP Thomas Bernandes Siahaan kepada tribunpekanbaru.com, Senin (13/7/2026). 

Berdasarkan keterangan dari rekan kerja korban bernama Rofi Hudzil Affa (21), Eko Prastio keluar dari camp berjalan mencari titik yang memiliki jaringan handphone di depan camp sekira pukul 19.00 WIB.

Korban diduga akan menelepon namun tidak kunjung kembali ke camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik si Desa Sungai Ara hingga malam hari.

Selanjutnya, saksi Rofi keluar dari camp sekitar jam 21.00 wib untuk mencari korban yang diduga mencari sinyal telpon.

Tapi ia tak kunjung ditemukan. Saksi dan para pekerja lainnya melakukan pencarian bersama pihak manajemen perusahaan. Mereka menyisir areal di sekitar camp pekerja HTI tersebut. 

"Sekitar pukul 06.00 wib ditemukan bercak darah korban berjarak 100 meter dari depan camp. Para saksi mengikuti jejak darah itu," tambah AKP Thomas Bernandes. 

Ternyata noda darah diduga milik korban Eko yang ditelusuri rekan kerjanya mencapai sepanjang 2 kilometer.

Pada jam 7 pagi jenazah korban ditemukan di sekitar hutan greenbelt areal HTI perusahaan. Jaraknya sektar 2 kilometer dari titik korban keluar dari camp saat mencari sinyal telpon.

Jenazah korban kemudian dievakuasi oleh pihak manajemen ke Klinik Estate Tasik.

Ditemukan sejumlah luka gigitan dan cakaran harimau di kepala belakang, pundak, tangan, dan bagian tubuh lainnya yang menyebabkan warga Kampar itu meninggal dunia.

Sekira pukul 10.30 wib jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga dan kontraktor serta dibawa ke Kampar Kiri, Kampar untuk proses pemakaman.

"Korban diduga diserang harimau saat berada di area sepi minim penerangan hingga diseret ke areal hutan sejauh 2 kilometer," tandasnya.

Personil Polsubsektor Pelalawan turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) usai menerima laporan dari pihak PT Madukoro Estate Tasik sekira pukul 09.00 wib.

Personel polisi melakukan olah TKP, mengamankan lokasi, meminta keterangan saksi-saksi, serta memberikan arahan kepada pihak perusahaan untuk segera berkoordinasi dengan BKSDA Riau, terkait penanganan satwa liar dan mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang. 

Petugas mengimbau kepada seluruh perusahaan dan karyawan yang bekerja di area perkebunan dan hutan, agar meningkatkan kewaspadaan.

Disarankan tidak keluar sendirian pada malam hari, dan segera melapor jika melihat jejak atau keberadaan satwa buas. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.