TRIBUNNEWS.COM - Berlari menjadi salah satu olahraga yang banyak digemari orang karena praktis dan memberikan banyak manfaat bagi kesehatan.
Namun, di balik semangat menyelesaikan target jarak tempuh, pelari sering kali mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh berupa rasa nyeri.
Padahal, tidak semua nyeri setelah berlari merupakan hal yang wajar.
Ada nyeri otot yang masih normal terjadi setelah berolahraga, tetapi ada pula yang menjadi tanda cedera sehingga membutuhkan penanganan medis.
Dokter spesialis ortopedi Dr. M. Abdulhamid, Sp.OT menjelaskan bahwa rasa nyeri saat berlari sebenarnya merupakan sinyal dari tubuh agar aktivitas dihentikan sementara.
"Nyeri itu sebenarnya adalah sebuah sinyal, tanda bahwa tubuh sedang meminta istirahat. Sayangnya, kadang pelari terlalu bersemangat atau bahkan gengsi untuk berhenti ketika mulai merasa sakit," ujarnya dalam wawancara khusus yang tayang di kanal YouTube Tribun Health, dikutip Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, memaksakan diri tetap berlari meski sudah muncul rasa nyeri justru dapat menjadi awal terjadinya cedera yang lebih serius.
Dr. Abdulhamid mengatakan salah satu keluhan yang paling sering dialami pelari adalah Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) atau nyeri otot yang muncul beberapa waktu setelah berolahraga.
DOMS bukan muncul saat berlari, melainkan setelah tubuh beristirahat.
"Sering kali setelah olahraga, kemudian tidur, saat bangun pagi baru terasa sakit. Itu yang disebut DOMS," jelasnya.
Ia menerangkan DOMS umumnya muncul dalam rentang waktu 24 hingga 72 jam setelah aktivitas fisik.
Baca juga: Tips Pakai Bantal Leher yang Benar Ala Menkes, Tak Bikin Pegal dan Kaku, Mudik Lebaran Nyaman
Tingkat nyerinya juga dipengaruhi oleh intensitas latihan yang dilakukan.
Semakin berat beban latihan atau semakin jauh jarak yang ditempuh, maka rasa nyeri akibat DOMS juga biasanya akan semakin terasa.
Meski demikian, kondisi ini masih tergolong normal dan dapat ditangani dengan perawatan sederhana di rumah.
Untuk mengatasi DOMS, Dr. Abdulhamid menyarankan pelari tidak langsung berhenti total beraktivitas, melainkan melakukan active recovery atau latihan ringan.
"Cukup diistirahatkan, kemudian tetap latihan tetapi ringan. Misalnya setelah lari maraton, keesokan harinya melakukan rehabilitation run sekitar 5 kilometer agar tubuh lebih rileks, seperti proses pendinginan," katanya.
Latihan ringan tersebut membantu tubuh beradaptasi sekaligus mempercepat proses pemulihan otot tanpa memberikan beban berlebihan.
Baca juga: Tak Semua Cedera Kecelakaan Terlihat dari Luar, Dokter Beberkan Organ yang Paling Berisiko
Meski sebagian besar nyeri setelah berlari merupakan hal yang normal, ada beberapa kondisi yang tidak boleh diabaikan.
Dr. Abdulhamid mengingatkan agar pelari segera memeriksakan diri ke dokter apabila nyeri tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu tiga hari.
"Kalau dalam rentang tiga hari nyerinya tidak berkurang sama sekali, atau sejak awal nyerinya sangat hebat sampai disertai bengkak, itu sebaiknya langsung diperiksa ke dokter," tegas Dr. Abdulhamid.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung memilih pijat atau urut sebagai penanganan pertama terhadap cedera olahraga.
Menurutnya, banyak orang merasa kondisinya membaik setelah diurut, padahal bisa jadi nyeri memang sedang memasuki fase mereda secara alami.
"Jangan sampai terjadi cedera yang lebih berat karena salah penanganan," katanya.
(Tribunnews.com/Nurkhasanah)