Serangan Balasan Iran untuk AS Makin Memanas: Selat Hormuz Ditutup, Rudal dan Drone Berseliweran
Putra Dewangga Candra Seta July 14, 2026 02:32 PM

 

SURYA.co.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan balasan menyusul aksi militer terbaru Amerika Serikat (AS).

Pada Minggu (12/7/2026), Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Selain itu, Teheran juga menembakkan rudal dan drone yang memicu sirene peringatan di sejumlah negara kawasan Teluk.

Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Yordania, hingga Oman melaporkan dampak dari serangan tersebut, meski sebagian besar berhasil melakukan pencegatan.

Di sisi lain, Pentagon menyatakan serangan AS dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembaki kapal kontainer yang melintas di Selat Hormuz.

Situasi tersebut membuat ketegangan antara Iran dan AS kembali meningkat hanya dalam hitungan jam.

Penutupan Selat Hormuz juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.

Konflik yang meluas ke kawasan Teluk berpotensi memberikan dampak ekonomi global apabila berlangsung dalam waktu lama.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kedua pihak akan meredakan situasi.

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Kawasan Teluk

KEKUATAAN MILITER - Penampakan Rudal balistik jarak jauh Iran, Shahab 2. Badan intelijen AS, yakni CIA, ungkap kekuatan militer Iran sebenarnya.
KEKUATAAN MILITER - Penampakan Rudal balistik jarak jauh Iran, Shahab 2. Badan intelijen AS, yakni CIA, ungkap kekuatan militer Iran sebenarnya. (BBC)

Sebagai respons atas serangan terbaru Amerika Serikat, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di kawasan Teluk pada Minggu (12/7/2026).

Laporan wartawan AFP menyebut sirene dan ledakan terdengar di Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Peristiwa tersebut menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang kembali memanas antara Washington dan Teheran.

Pemerintah Qatar menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal yang masuk. Meski demikian, otoritas Doha melaporkan tiga orang mengalami luka-luka.

Baca juga: Alasan Iran Ogah Negosiasi Tentang Rudal dengan AS, Presiden: Tanpa Itu, Kita Sudah Dihancurkan

Di Bahrain, sirene peringatan serangan udara dibunyikan sebagai langkah antisipasi.

Sementara itu, Otoritas Manajemen Krisis dan Bencana Darurat Nasional UEA menyebut ancaman rudal yang terdeteksi berada di luar wilayah negaranya sehingga kondisi tetap terkendali.

Kuwait juga mengonfirmasi sedang melakukan upaya pencegatan terhadap serangan, sedangkan Yordania melaporkan tiga rudal Iran jatuh di wilayahnya.

Pentagon Ungkap Pemicu Serangan Amerika Serikat

Menurut Pentagon, operasi militer terhadap Iran dilakukan pada Minggu pagi setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembaki kapal kontainer berbendera Siprus.

Iran menuduh kapal tersebut berlayar melalui jalur yang dianggap tidak sah di Selat Hormuz.

Tak lama berselang, media pemerintah Iran melaporkan IRGC kembali menyerang kapal kedua yang juga disebut melanggar aturan pelayaran.

Sementara itu, media Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di Bandar Abbas, Sirik, Jask, Pulau Qeshm, hingga Provinsi Khuzestan yang berbatasan dengan Irak. Hingga laporan terakhir belum ada informasi resmi mengenai korban jiwa.

Iran Resmi Tutup Selat Hormuz

Dalam pernyataan resminya, IRGC mengumumkan Selat Hormuz ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Iran menyatakan keputusan tersebut diambil setelah sebuah kapal yang dianggap mengancam keamanan maritim dihentikan.

"Sebuah kapal yang telah membahayakan keamanan maritim dengan mematikan sistemnya tertabrak dan dihentikan," demikian pernyataan IRGC yang dikutip Al Arabiya.
IRGC juga memperingatkan bahwa setiap tindakan militer lanjutan terhadap Iran akan dibalas dengan serangan yang lebih keras.

"Tindakan agresi terhadap Iran akan ditanggapi dengan respons yang keras, dan pangkalan musuh baru di wilayah tersebut akan menjadi sasaran."

Selain itu, IRGC mengklaim telah menyerang kapal kedua yang disebut melanggar peraturan di Selat Hormuz.

Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Ganggu Pasokan Minyak Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sebelum konflik meningkat, sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi perairan tersebut.

Penutupan jalur ini berpotensi menghambat distribusi minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

Apabila blokade berlangsung lama, harga minyak dunia diperkirakan akan mengalami kenaikan yang dapat memicu tekanan inflasi di berbagai negara.

Selain berdampak pada sektor energi, meningkatnya risiko keamanan di kawasan juga dapat memengaruhi aktivitas pelayaran internasional dan perdagangan global.

Serangan balasan Iran menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat, tetapi mulai meluas ke kawasan Teluk yang menjadi pusat perdagangan energi dunia.

Penutupan Selat Hormuz menjadi langkah strategis yang memiliki dampak jauh lebih besar dibanding serangan militer semata karena menyentuh kepentingan ekonomi global.

Jika eskalasi terus berlanjut tanpa adanya upaya diplomasi, dunia berpotensi menghadapi lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, serta meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan internasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.