TRIBUN-SULBAR.COM - Piala Dunia 2026 telah memasuki babak semifinal.
Empat tim dengan peringkat FIFA tertinggi, yakni Prancis (peringkat 1), Argentina (peringkat 2), Spanyol (peringkat 3), dan Inggris (peringkat 4), akan memperebutkan tiket menuju partai final.
Pada babak semifinal, Prancis akan menghadapi Spanyol.
Sementara Argentina akan berhadapan dengan Inggris.
Salah satu fakta menarik yang menjadi sorotan dalam perjalanan Piala Dunia 2026 adalah kontroversi yang mengiringi langkah Argentina sebagai juara bertahan.
Baca juga: Membaca Piala Dunia dari Perspektif Tata Negara
Baca juga: Portugal Tersingkir, Fans CR7 di Mamuju Pilih Berhenti Nonton Piala Dunia 2026
Sebuah analisis statistik menunjukkan Argentina menjadi salah satu tim yang paling banyak mendapat keuntungan dari penggunaan Video Assistant Referee (VAR) sepanjang turnamen.
Temuan tersebut membuat julukan "VARgentina" kembali ramai digunakan oleh penggemar sepak bola untuk menyebut La Albiceleste.
Meski demikian, peneliti menegaskan data tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai bukti adanya keberpihakan wasit terhadap Argentina.
Di sisi lain, performa Lionel Messi tetap menjadi faktor penting dalam keberhasilan Argentina melaju hingga semifinal.
Kapten berusia 39 tahun itu telah mencetak delapan gol dan menyumbang dua assist dalam enam pertandingan Piala Dunia 2026.
Argentina kini bersiap menghadapi Inggris pada semifinal yang akan berlangsung di Atlanta Stadium, Rabu (15/7/2026) pukul 02.00 WIB.
Pertandingan tersebut diprediksi berlangsung sengit mengingat rivalitas panjang kedua negara.
Duel Argentina kontra Inggris juga memiliki latar belakang sejarah yang panjang.
Rivalitas kedua negara kerap dikaitkan dengan sengketa Kepulauan Malvinas.
Pada April 1982, Argentina mengirim pasukan untuk merebut Kepulauan Malvinas, wilayah di Samudra Atlantik Selatan yang diklaim Argentina, tetapi telah berada di bawah kekuasaan Inggris sejak abad ke-19.
Football enthusiast Gigih menilai faktor sejarah membuat pertemuan Argentina dan Inggris selalu memiliki tensi emosional yang tinggi.
"Kalau membahas drama dalam sebuah pertandingan, ada sisi psikologis yang sangat besar ketika tensi pertandingan sedang tinggi. Pada situasi seperti itu, bukan lagi soal taktik semata, melainkan tentang tim mana yang memiliki kemauan lebih kuat, yang pada akhirnya bisa memicu drama emosional," kata Gigih dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Contohnya adalah laga Argentina melawan Inggris. Rivalitas kedua tim bukan hanya terjadi di lapangan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor politik terkait sengketa Kepulauan Malvinas," tambahnya.
Selain rivalitas kedua negara, keputusan wasit juga menjadi sorotan sepanjang perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026.
Perdebatan mengenai penggunaan VAR menguat setelah laga babak 16 besar melawan Mesir.
Dalam pertandingan yang dimenangkan Argentina dengan skor 3-2 tersebut, sejumlah keputusan VAR menuai kontroversi.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, mempertanyakan kepemimpinan wasit dan penggunaan teknologi VAR.
"Kami belum melihat rasa hormat atau permainan yang adil," kata Hassan, dikutip dari Thecomeback.
Menurut Hassan, Mesir dirugikan oleh sejumlah keputusan penting, termasuk penalti yang tidak diberikan dan gol yang dianulir setelah peninjauan VAR.
"Sepertinya ada tekanan dari pihak Argentina terhadap wasit yang menyebabkan hasil ini."
"Hidup memang tidak adil. Dunia ini tidak adil. Tetapi mengapa tidak ada keadilan dalam olahraga?"
Kontroversi semakin besar setelah gol kedua Mesir dianulir melalui VAR.
Keputusan tersebut memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola.
Perdebatan mengenai VAR semakin ramai setelah kelompok riset NetSI Sport merilis analisis penggunaan VAR sepanjang Piala Dunia 2026.
Grafik yang dipublikasikan Northeastern Global News membandingkan jumlah keputusan VAR yang menguntungkan dan merugikan setiap tim berdasarkan rasio per 100 pelanggaran yang dilakukan atau diperoleh.
Berdasarkan data yang dirilis pada 11 Juli sebelum laga perempat final melawan Swiss, Argentina mencatat 6,7 keputusan VAR yang menguntungkan per 100 pelanggaran yang diperoleh.
Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang turnamen.
Data itu juga menunjukkan hingga babak perempat final, tidak ada pelanggaran yang dilakukan Argentina yang berujung pada tinjauan VAR.
Sementara pelanggaran terhadap pemain Argentina menjadi salah satu yang paling sering diperiksa melalui VAR dibandingkan tim lain yang mencapai delapan besar.
Meski demikian, Direktur NetSI Sport Brennan Klein menegaskan statistik tersebut tidak bisa dijadikan bukti adanya perlakuan istimewa terhadap Argentina.
Menurutnya, tingginya angka keputusan VAR yang menguntungkan lebih menunjukkan bahwa wasit di lapangan beberapa kali melewatkan pelanggaran yang kemudian dikoreksi melalui tayangan ulang.
"Mengapa Argentina dan Meksiko berada di puncak daftar ini?" kata Brennan Klein.
"Mereka berada di sana karena wasit melewatkan pelanggaran yang menurut VAR seharusnya memang pelanggaran," tambahnya.
Ia menilai kesimpulan mengenai keberpihakan wasit tidak dapat dibuat hanya berdasarkan data statistik tersebut.
Meski tidak membuktikan adanya kecurangan, hasil analisis tersebut diperkirakan membuat julukan "VARgentina" kembali ramai di media sosial.
Julukan tersebut sebelumnya sudah muncul sejak fase gugur Piala Dunia 2026 akibat sejumlah keputusan VAR yang melibatkan Argentina.
Di sisi lain, Argentina tetap memiliki peluang besar mempertahankan gelar juara dunia jika mampu mengalahkan Inggris di semifinal.
Dengan Lionel Messi yang masih tampil produktif, La Albiceleste berupaya membuktikan bahwa keberhasilan mereka berasal dari kualitas permainan, bukan hanya keputusan teknologi VAR.
Namun, Inggris bukan lawan mudah bagi Argentina.
Dalam dua pertemuan terakhir kedua tim, Argentina harus mengakui keunggulan The Three Lions.