TRIBUNSUMSEL.COM -- Kisah memprihatinkan datang dari salah satu garis keturunan perumus sejarah kemerdekaan Republik Indonesia yang kini harus menghabiskan masa senjanya dalam kesunyian dan keterbatasan ekonomi.
Di tengah ingatan bangsa terhadap jasa para pahlawan nasional, keturunan langsung dari tokoh penting Proklamasi justru luput dari perhatian dan harus berjuang bertahan hidup di tengah himpitan beban kesehatan serta finansial yang berat.
Seperti yang tengah dirasakan oleh Heru Baskoro, putra kedua dari Sayuti Melik pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Heru Baskoro (84), putra kedua dari tokoh perumus sekaligus pengetik naskah proklamasi, Sayuti Melik, dan pejuang perempuan SK Trimurti, kini menetap di sebuah rumah kontrakan dua petak di kawasan Rawalumbu, Kota Bekasi.
Di usia senjanya, Heru harus berjuang menghadapi penyakit diabetes kronis serta gangguan penglihatan yang perlahan menurunkan kondisi fisik dan daya ingatnya.
Bersama istrinya, Treyzia Noviani (65), pasangan lansia ini menyewa kontrakan sederhana seharga Rp560.000 per bulan sejak kembali ke Indonesia pada tahun 2024 setelah sebelumnya sempat tinggal di Kanada.
Hidup berdua, mereka menjalani hari-hari di tengah keterbatasan finansial dan hanya mengandalkan bantuan dari kerabat serta teman dekat untuk bertahan hidup.
Meski kondisi fisiknya terus menurun dan ingatannya tak lagi setajam dahulu, Heru tetap memancarkan kepribadian yang bersahaja dan menjunjung tinggi nilai kedisiplinan.
Di mata para tetangga, ia dikenal sebagai pribadi yang sopan, tidak banyak menuntut, dan memiliki pembawaan yang berwibawa khas keluarga terpandang.
Maria menceritakan bahwa karena keterbatasan fisiknya, Heru hampir seluruh aktivitasnya harus didampingi oleh sang istri dan sangat jarang keluar rumah.
"Bapak sama ibunya enggak pernah keluar rumah. Paling kalau mau minta makan baru keluar. Enggak pernah pergi jauh-jauh, soalnya kan bapaknya enggak bisa ditinggal," ungkap Maria.
Ia juga menambahkan bahwa dalam urusan makanan, Heru sangat sederhana dan tidak merepotkan orang lain yang ingin membantunya.
"Makannya sebenarnya gampang banget, makannya juga dikit. Paling makan telur sama kecap, dia sukanya itu," kata Maria.
Karakter Heru yang disiplin dan keras dalam memegang aturan ini diakui merupakan warisan didik langsung dari sang ayah, Sayuti Melik.
"Ayah saya orang yang sangat disiplin dan keras dalam menerapkan aturan. Beliau selalu mengajarkan agar kami mengikuti peraturan dan tidak melanggarnya," ujar Heru saat ditemui Kompas.com di rumah kontrakannya di Rawalumbu, Kota Bekasi, Senin (13/7/2026) dalam Kompas.com
Heru juga masih mengingat dengan jelas kegemaran bersahaja ayahnya yang suka bermain catur di warung makan biasa, serta kedekatan sang ayah dengan Presiden Soekarno dalam menyusun naskah pidato kenegaraan.
"Ayah sangat menyukai catur. Karena beliau, saya juga belajar bermain catur. Dulu beliau sering bermain catur sambil makan di rumah makan sederhana," kenang Heru.
"Jadi pidato Bung Karno sesuai dengan kondisi masyarakat," tambahnya.
Kehidupan sehari-hari pasangan lansia ini kini berjalan dengan sangat sederhana di dalam ruangan kontrakan yang sempit.
Sebagian besar ruang diisi dengan tumpukan tas, koper, dan kardus berisi barang-barang yang mereka bawa selama berpindah-pindah tempat tinggal.
Untuk beristirahat, mereka tidur di atas kasur tanpa ranjang yang diletakkan langsung di atas lantai, dengan kipas angin sebagai satu-satunya penyejuk ruangan.
Istri Heru, Treyzia yang merupakan cucu dari tokoh pergerakan nasional KH Agus Salim mengaku pihaknya sudah berupaya mengajukan permohonan bantuan kepada berbagai instansi pemerintah, namun hingga kini belum ada realisasi bantuan yang mereka terima.
"Dulu sempat dibantu pihak gereja, tapi karena ada syarat-syarat yang tidak bisa kami penuhi akhirnya bantuan itu berhenti," jelas Treyzia pasrah.
Saat ditemui Kompas.com, Heru tampak semakin renta. Rambutnya telah memutih seluruhnya. Meski penglihatannya terus menurun dan kesehatannya memburuk, ia masih berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Penglihatannya pun semakin terbatas.
Mata kanan Heru kini sudah tidak dapat melihat, sedangkan mata kirinya hanya menyisakan sedikit kemampuan untuk menangkap cahaya.
Menurut Treyzia, suaminya masih membutuhkan operasi lanjutan menggunakan kornea buatan, tindakan medis yang hingga kini belum dapat dilakukan di Indonesia.
Treyzia menyebut, operasi tersebut hanya tersedia di Kanada, Amerika Serikat, atau Jerman.
Namun, rencana pengobatan itu harus tertunda karena keterbatasan biaya. Meski kini kesehatannya terus menurun dan hidup dalam keterbatasan, Heru mengaku masih menyimpan harapan sederhana.
Ia ingin kembali sehat agar tetap dapat memberi manfaat bagi orang lain.
"Saya ingin bisa sehat kembali dan tetap dapat membantu lingkungan serta sesama manusia," ucapnya.
Ia pun menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan.
"Saya berharap anak-anak muda selalu menaati peraturan, hidup disiplin, dan tidak melanggar aturan. Sekarang kita sudah menjadi bangsa yang merdeka, jadi kita harus menjaga dan menaati aturan negara sendiri," kata Heru.
Sebelum kembali ke Indonesia, Heru dan Treyzia tinggal di Kanada sejak akhir 1990-an.
Saat itu, kondisi ekonomi keluarga masih cukup mapan karena Heru memiliki pekerjaan tetap.
Menurut Treyzia, suaminya semula merupakan pemegang Green Card (kartu tetap tinggal) di Amerika Serikat.
Namun, setelah menikah, keduanya memutuskan pindah ke Kanada. Keputusan tersebut diambil setelah Treyzia mengalami kesulitan beradaptasi selama tinggal di Amerika Serikat.
Atas saran seorang pengacara imigrasi, mereka mencoba memulai kehidupan baru di Kanada yang saat itu dinilai memiliki sistem jaminan kesehatan yang lebih baik.
"Suami saya permanent resident Amerika sebelum kenal saya. Jadi dicoba ke Kanada, dan akhirnya pindah ke sana karena kesehatan lebih terjamin," ujar Treyzia
Selama tinggal di luar negeri, Heru memiliki perjalanan karier yang cukup baik.
Ia pernah bekerja di perusahaan minyak di Texas, Amerika Serikat, dan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan di Trans Bakrie.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com