Anggota DPRD Jatim Diana Sasa Ajak Sekolah Wujudkan MPLS Edukatif dan Ramah Anak
Titis Jati Permata July 14, 2026 02:04 PM

 

SURYA.co.id, MADIUN - Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026–2027 resmi dimulai. 

Momentum penyambutan siswa baru ini diharapkan menjadi awal yang menyenangkan, bukan justru meninggalkan trauma akibat praktik perundungan maupun perpeloncoan.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana Sasa, mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar pelaksanaan MPLS benar-benar berlangsung edukatif, aman, serta terbebas dari segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun psikologis.

Menurut Sasa, MPLS merupakan pondasi awal yang sangat menentukan proses adaptasi peserta didik di lingkungan sekolah sekaligus menjadi ruang pembentukan karakter sejak hari pertama.

"MPLS ini merupakan pintu masuk bagi peserta didik dalam mengenal budaya sekolah, membangun karakter, serta menumbuhkan semangat belajar," kata Sasa kepada SURYA.co.id, Selasa (14/7/2026).

Berorientasi pada Pembinaan

Karena itu, Anggota Komisi D DPRD Jatim tersebut menegaskan seluruh rangkaian kegiatan MPLS harus berorientasi pada pembinaan, bukan memberikan tekanan kepada siswa baru.

"MPLS harus menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan bagi peserta didik. Jangan sampai ada praktik perundungan, perpeloncoan, ataupun kegiatan yang merendahkan martabat siswa. Sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh anak," lanjut Sasa.

Baca juga: Sekolah di Surabaya Mulai MPLS 2026 Tanpa Perpeloncoan dan Kekerasan

Ia menekankan tanggung jawab menciptakan lingkungan sekolah yang ramah tidak hanya berada di tangan guru dan kepala sekolah, tetapi juga panitia pelaksana hingga kakak kelas yang terlibat dalam kegiatan MPLS.

"Budaya saling menghormati sejak hari pertama sekolah akan membentuk karakter positif bagi generasi muda," tegasnya.

Orangtua Ikut Kawal Pelaksanaan MPLS

Selain sekolah, Sasa juga mengajak orang tua untuk aktif mengawal pelaksanaan MPLS melalui komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. 

Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan bebas dari kekerasan.

"Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di ruang kelas, tetapi harus diwujudkan melalui teladan dan lingkungan sekolah yang saling menghargai. Ketika anak merasa aman, mereka akan lebih percaya diri untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-citanya," tegas Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim ini.

Tak Hanya Melulu Capaian Akademik

Lebih jauh, Sasa menilai kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah menghadirkan rasa aman bagi seluruh peserta didik.

Ia mengutip pandangan Proklamator RI, Soekarno, yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.

"Bung Karno pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah cikal bakal keberhasilan sebuah bangsa. Karena itu, setiap anak harus memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan," tuturnya.

Menurut Sasa, semangat tersebut harus menjadi komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Baginya, MPLS bukan sekadar agenda tahunan penyambutan siswa baru, tetapi momentum menanamkan nilai disiplin, gotong royong, toleransi, dan saling menghormati sejak hari pertama berada di lingkungan sekolah.

"Kita berharap pelaksanaan MPLS di seluruh sekolah di Jawa Timur bisa menjadi awal yang baik dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak, sehingga mampu menjadi penerus bangsa yang membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.