Kain Kuning Bermunculan di Jembatan Sungai Lenggana Kotim, Simbol Nazar dan Tolak Bala jadi Sorotan
Sri Mariati July 14, 2026 02:05 PM

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Deretan kain kuning yang terikat di sisi Jembatan Sungai Lenggana, Jalan Jenderal Sudirman Km 22, Sampit, kembali menarik perhatian pengguna jalan. 

Menariknya, jumlah kain kuning yang terpasang di sekitar jembatan tersebut justru terlihat semakin banyak setelah jembatan selesai dibangun ulang dan kembali difungsikan untuk masyarakat. 

Padahal saat proses pembangunan berlangsung, area sekitar jembatan sempat dibersihkan.  

Sejumlah kain kuning yang sebelumnya terpasang juga ditertibkan guna mendukung pekerjaan konstruksi. 

Kini, setelah jembatan baru berdiri dengan konstruksi yang lebih kokoh dan modern, kain-kain kuning kembali menghiasi pagar serta beberapa titik di sekitar jembatan.  

Pemandangan itu menciptakan kontras tersendiri antara infrastruktur baru dengan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. 

Bagi sebagian warga, keberadaan kain kuning tersebut bukan sekadar hiasan. Kain yang diikat di sekitar jembatan dipercaya berkaitan dengan nazar, harapan, hingga simbol keselamatan. 

Fenomena ini pun memunculkan berbagai tanggapan.  

Ada yang menganggapnya sebagai bagian dari tradisi turun-temurun, sementara lainnya menilai keberadaan kain kuning menjadi keunikan tersendiri di jalur penghubung Sampit-Pangkalan Bun tersebut. 

Fenomena tersebut mendapat tanggapan dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) Penghimpun Juriat Datu Kalampayan, KP Gusti Azi Burahman Al Arsadi. 

Dirinya menjelaskan, bahwa tradisi memasang kain kuning di jembatan merupakan bagian dari budaya yang telah lama dikenal di kalangan masyarakat Banjar dan Dayak di Kotawaringin Timur. 

"Kain kuning yang diikatkan di jembatan itu merupakan bagian dari adat Banjar dan Dayak yang masih cukup kuat di Kotawaringin Timur. Biasanya dikenal dengan istilah bentang kain kuning atau tali kuning tolak bala," ujar Gusti Azi kepada Tribunkalteng.com, Selasa (14/7/2026). 

Menurutnya, kain kuning memiliki sejumlah makna simbolis yang berkaitan dengan doa dan harapan masyarakat. 

Baca juga: Jembatan Darurat di Sei Lenggana Kotim Kembali Rusak Sejak Jumat Malam, Lalu Lintas Lumpuh Total

Baca juga: Pemkab Kotim Ajukan RAPBD 2027 Rp1,702 T, Wabup Irawati Optimistis Ekonomi Daerah Terus Tumbuh

Salah satunya sebagai simbol tolak bala atau permohonan keselamatan ketika terjadi wabah penyakit, banjir maupun musibah lainnya. 

"Kuning menjadi lambang doa agar masyarakat dijauhkan dari bala dan diberikan keselamatan," katanya. 

Selain itu, keberadaan kain kuning juga sering dikaitkan dengan tradisi meminta izin atau memohon perlindungan saat melintasi kawasan sungai yang dianggap memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat setempat. 

Ada pula yang memasangnya sebagai penanda adanya hajat besar, kegiatan adat maupun haul tokoh agama.  

Dalam beberapa kasus, kain kuning dipasang setelah terjadi kecelakaan sebagai pengingat bagi pengguna jalan agar lebih berhati-hati. 

"Kadang-kadang pemasangan kain kuning dilakukan setelah terjadi kecelakaan di sekitar jembatan. Maknanya sebagai pengingat sekaligus doa agar kejadian serupa tidak terulang," jelasnya. 

Gusti Azi menuturkan, dalam tradisi yang berkembang di masyarakat Banjar dan Kalimantan Tengah, pemasangan kain kuning biasanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti Kamis sore atau Jumat pagi yang dianggap baik untuk memanjatkan doa. 

Kain tersebut umumnya dipasang oleh tokoh adat, tokoh agama atau sesepuh kampung dengan diawali pembacaan doa keselamatan dan shalawat. 

"Kain kuning itu hanyalah simbol dan bagian dari tradisi. Intinya tetap berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT," tegasnya. 

Ia menambahkan, keberadaan kain kuning di sejumlah jembatan maupun kawasan sungai di Sampit masih kerap dijumpai hingga sekarang, terutama setelah adanya musibah, saat musim penyakit, maupun menjelang kegiatan adat dan keagamaan. 

Di tengah perubahan fisik yang terus terjadi, termasuk pembangunan ulang Jembatan Sungai Lenggana, tradisi tersebut tampaknya tetap bertahan dan menjadi bagian dari warna budaya yang hidup di tengah masyarakat Kotawaringin Timur. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.