Petani Banyuasin Panen Padi IP 200, Kini Tanam Jagung Hadapi Kemarau, Keluhkan Harga Gabah dan Hama
Welly Hadinata July 14, 2026 02:27 PM

SRIPOKU.COM, BANYUASIN – Petani di Desa Tirto Harjo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, telah menyelesaikan panen padi varietas IP 200.

Memasuki musim kemarau, mereka beralih menanam jagung pakan sebagai strategi menjaga produktivitas lahan sebelum kembali menanam padi.

Di sisi lain, petani mengeluhkan fluktuasi harga gabah saat panen dan ancaman hama tikus yang kerap merusak tanaman.

Padi IP 200 merujuk pada sistem budidaya padi dengan Indeks Pertanaman (IP) 200, yang berarti petani melakukan proses menanam dan memanen padi sebanyak dua kali dalam satu tahun di lahan pertanian yang sama.

Kepala Desa Tirto Harjo, Eko Wahyudi, mengatakan panen terakhir padi IP 200 berlangsung beberapa hari lalu, bertepatan dengan kunjungan Bupati Banyuasin Askolani ke wilayah tersebut.

Menurutnya, lahan seluas satu hektare yang dipanen saat itu menjadi panen terakhir untuk musim tanam padi IP 200.

"Kalau saat puncak panen, harga gabah masih Rp6.000 per kilogram. Sekarang setelah panen selesai justru naik menjadi Rp6.400 per kilogram. Walaupun harga naik, tetapi seluruh petani sudah selesai panen," ujar Eko kepada Sripoku.com, Selasa (14/7/2026).

Ia menilai pemerintah perlu melakukan pengawasan lebih maksimal terhadap harga gabah saat musim panen berlangsung.

Pasalnya, meski pemerintah telah menetapkan harga gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, harga di tingkat petani kerap berada di bawah ketentuan tersebut.

"Harga gabah selalu turun ketika panen raya dan baru naik setelah panen selesai. Kondisi ini sering dirasakan petani," katanya.

Di sisi lain, Eko menyebut harga beras justru mengalami kenaikan.

Menurutnya, harga beras yang sebelumnya berkisar Rp10.000 per kilogram kini telah mencapai Rp12.000 hingga Rp12.800 per kilogram.

Usai panen padi, petani di Desa Tirto Harjo kini mulai menanam jagung pakan sebagai alternatif selama musim kemarau.

Langkah tersebut dilakukan agar lahan tetap produktif sembari menunggu musim tanam padi berikutnya.

Setelah panen jagung selesai, para petani berencana kembali membudidayakan padi IP 200.

Namun, Eko mengungkapkan masih ada tantangan besar yang dihadapi petani, yakni serangan hama tikus.

Menurutnya, serangan tikus biasanya mulai terjadi ketika usia tanaman padi memasuki sekitar 60 hari hingga menjelang masa panen.

"Kalau bibit, pupuk, dan obat-obatan semuanya aman. Yang kami harapkan ada solusi dari pemerintah untuk pengendalian hama tikus, termasuk bantuan racun tikus. Karena begitu padi mulai tumbuh, tikus langsung menyerang dan ini menjadi tantangan terbesar petani," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.