---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Berbeda dengan empati emosional yang diperoleh secara reflek, empat secara kognitif diperoleh melalui receptive learning salah satunya. Empati kognitif juga diperoleh melalui proses belajar, pengamatan, dan kemampuan otak untuk melakukan perspective-taking atau mengambil sudut pandang orang lain.
Secara garis besar, receptive learning adalah proses pembelajaran di mana seseorang menyerap dan memahami informasi atau bahasa baru secara pasif melalui aktivitas menerima seperti mendengarkan (audio) dan membaca (visual).
Ini adalah tahap fundamental untuk memahami instruksi dan membangun kosakata sebelum mempraktikkannya.
Dalam konteks penguasaan bahasa, keterampilan reseptif berlawanan dengan keterampilan produktif (productive skills) seperti berbicara dan menulis yang bersifat aktif. Seseorang biasanya memiliki kemampuan bahasa reseptif yang lebih besar dan cepat berkembang dibandingkan kemampuan ekspresif/produktif mereka.
Proses pembelajaran itu bisa berupa mendengarkan (listening) yang memungkinkan kita memahami instruksi lisan, cerita, atau percakapan yang didengar. Bisa juga melalui membaca (reading) yaitu memahami makna dari teks atau tulisan yang dilihat.
Empati kognitif adalah kemampuan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan secara logis, tanpa harus terlibat emosional secara langsung. Proses ini berkembang melalui receptive learning, yaitu:
- Pembelajaran yang berfokus pada menerima dan menyerap informasi dari lingkungan sosial
- Mencakup mendengarkan cerita, mengamati perilaku, dan memahami sudut pandang orang lain secara mendalam.
Apa itu empati dan empati kognitif?
Mengutip Gramedia.com, empat berasal dari kata “empatheia” yang memiliki arti ikut merasakan. Empati adalah sebuah keadaan mental, di mana seseorang merasakan pikiran, perasaan, atau keadaan yang sama dengan orang lain.
Rasa empati muncul sebagai kemampuan menyadarkan diri ketika berhadapan dengan perasaan sesama, kemudian bertindak untuk menolongnya. Dengan empati kita bisa memahami seseorang dari sudut pandang orang itu. Perasaan ini sangat penting dalam membangun hubungan atau menjalin relasi dengan orang lain.
Menurut Chaplin, pengertian empati adalah kemampuan memproyeksikan perasaan sendiri pada suatu kejadian, satu objek alamiah atau karya estetis dan realisasi dan pengertian terhadap kebutuhan dan penderitaan pribadi lain.
Empati melewati beberapa perkembangan:
Bayi berusia nol sampai satu tahun biasanya akan ikut menangis ketika melihat bayi yang lain menangis. Hoffman menyebutnya sebagai empati global karena seseorang tidak bisa membedakan antara diri sendiri dengan dunianya.
Pada masa balita atau di bawah usia lima tahun, seorang anak mulai bisa membedakan bahwa kesedihan itu bukan miliknya, kesusahan yang sedang menimpa orang lain, bukan kesusahannya sendiri.Ilmu Biologi
Perkembangan kognitifnya memang belum matang, tetapi secara naluri mereka akan mencoba membantu meski belum mengetahui pasti, apakah tindakan yang dilakukan sudah tepat.
Dimulai pada usia enam tahun, seorang anak mulai memandang dari perspektif orang lain. Jenis yang satu ini tidak memerlukan komunikasi emosi, seperti menangis. Baik diperlihatkan atau tidak, seorang anak sudah mulai mengerti.
Saat masa anak-anak akan berakhir di usia 10-12 tahun, empati tidak hanya ditujukan pada orang yang dikenal atau sering ditemui. Kelompok orang yang belum pernah ditemui sebelumnya juga dapat menjadi tujuan empatinya.Psikologi
Empati punya ciri-ciri, di antaranya:
Perilaku orang itu multifaktor, dipengaruhi oleh banyak hal. Ketika melihat seseorang sedang merasakan emosi tertentu, diri sendiri secara natural akan merasakan hal yang sama. Mampu membaca keadaan serta memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain juga dibahas dalam buku Nunchi yang menyebutnya sebagai indra keenam.
Hal ini berguna untuk interaksi sehari-hari, sehingga diri dapat menjadi relate dengan orang lain. Perbincangan menjadi lebih nyambung, lawan bicara menjadi ikut senang. Namun, ada masanya ketika seseorang tidak dapat memahami perasaan orang lain. Bukan tidak peduli, melainkan hanya tidak mengerti.
Mengapa bahasa isyarat menjadi sangat penting? Emosi seseorang dapat dilihat melalui gelagat, sehingga gerakannya dapat berbicara. Misalnya, ketika sedang bahagia, seseorang akan terlihat lebih ceria dan bersemangat, sedangkan saat sedih, orang akan cenderung murung dan terlihat lesu ketika melakukan aktivitas. Intonasi maupun cara nonverbal lainnya dapat dipakai untuk mengetahui emosi mereka.
Empati akan mewujudkan suatu kenyataan dan aksi terhadap perasaan yang dirasakan. Namun, tidak semua orang dapat merespon perasaan orang lain. Ketika sedih, ada yang merasa iba dan mendengarkan curahan hatinya, ada pula yang abai dan pergi.
Ketika orang yang menjadi pendengar kembali, hanya kata maaf yang keluar dan beralasan bahwa tidak kuat mendengarkan cerita yang sedih. Atau, tidak sama sekali, tidak peduli dan mengungkit-ngungkit kejadian lama.
Jika terus menghadapi perasaan negatif yang kuat, dampaknya adalah kelelahan emosional yang cukup parah. Tidak semua orang juga diajari untuk menerima emosi. Misalnya, anak laki-laki tidak boleh cengeng, menangis akan membuat diri sendiri tampak lemah, atau mementingkan emosi hanya membuang-buang waktu dan tidak berguna.
Pada akhirnya, mereka jadi unaware dengan perasaan sendiri. Perasaan yang sedang dirasakan jadi sulit untuk dipahami. Jika belum bisa memahami diri sendiri, rasa empati yang berdampak positif pun tidak akan muncul.
Emosi terhadap perasaan yang sedih atau bahagia adalah hal yang lumrah. Ketika marah atau sedang merasakan masalah, diri sendiri boleh menangis atau menceritakannya kepada orang lain. Asalkan tidak berlarut-larut. “Emosi kita adalah milik kita.”
Memahami perasaan atau merasakan hal yang sama dengan seseorang, boleh. Namun, tidak boleh ikut campur atau mengurusi masalahnya terlalu dalam, sehingga empati tetap memiliki batasan-batasan tertentu.
Begitu, berbeda dengan empati emosional yang diperoleh secara reflek, empat secara kognitif diperoleh melalui receptive learning salah satunya. Semoga bermanfaat.