TRIBUNSTYLE.COM - Solo tak pernah kehabisan destinasi menarik untuk dijelajahi. Selain wisata kuliner dan bangunan bersejarah, kota ini juga memiliki Pasar Triwindu yang menjadi surga bagi pencinta barang antik dan suasana vintage.
Berlokasi di kawasan Keprabon, pasar legendaris ini menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Kota Bengawan saat menghabiskan waktu liburan.
Baca juga: Pasar Ngarsopuro Solo: Destinasi Berburu Lampu Hias Estetik dan Kebutuhan Rumah Tangga
Pasar Triwindu memiliki sejarah panjang. Awalnya, kawasan ini dikenal sebagai pasar malam yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan barang antik. Kini, pasar tersebut menjadi salah satu ikon wisata Solo yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya juga meningkat di kalangan anak muda yang gemar berburu suasana klasik untuk berfoto atau mencari koleksi unik yang sulit ditemukan di tempat lain.
Memasuki area pasar, pengunjung akan disambut deretan kios yang dipenuhi beragam barang lawas dengan nilai sejarah dan keunikan masing-masing. Mulai dari kebaya lawasan, kain batik, hingga jarik bermotif klasik dapat ditemukan dengan harga yang relatif terjangkau.
Tak hanya itu, berbagai koleksi antik seperti gramofon, mesin ketik, jam dinding, lampu gantung bergaya kolonial, setrika arang, patung kayu, piring porselen, hingga uang dan koin kuno juga memenuhi etalase para pedagang.
Baca juga: Jalan-Jalan ke Pasar Gede Solo? Jangan Pulang Sebelum Mencicipi Lima Jajanan Legendaris Ini
Salah satu koleksi yang cukup banyak diburu adalah kartu pos vintage. Kartu pos lawas yang masih menyimpan tulisan tangan maupun ilustrasi khas masa lampau menjadi incaran kolektor maupun wisatawan yang ingin membawa pulang kenang-kenangan unik.
Berdasarkan pengalaman sejumlah pengunjung, satu kantong kartu pos vintage bahkan bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp50.000, tergantung kondisi dan jumlah koleksi yang dipilih.
Tak hanya menjadi tempat berburu barang antik, Pasar Triwindu juga menawarkan suasana yang sangat mendukung untuk berfoto. Lorong-lorong pasar yang dipenuhi etalase kayu, barang-barang klasik, serta arsitektur bangunan bergaya lama menciptakan nuansa vintage yang autentik.
Tak heran jika banyak pengunjung memanfaatkan setiap sudut pasar sebagai latar foto OOTD maupun konten media sosial. Bagi yang ingin berbelanja, kemampuan menawar menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan harga terbaik.
Sebagian besar barang di Pasar Triwindu tidak dipasang label harga tetap, sehingga proses tawar-menawar menjadi bagian dari pengalaman berbelanja. Meski begitu, wisatawan tetap disarankan menawar dengan sopan dan menghargai pedagang.
Sebelum membeli, jangan lupa memeriksa kondisi barang secara teliti, terutama jika memilih koleksi antik yang masih memiliki fungsi seperti jam, lampu, atau alat elektronik lawas.
Karena area pasar cukup luas dengan banyak kios yang bisa dijelajahi, pengunjung juga disarankan mengenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman agar lebih leluasa berkeliling.
Menyediakan waktu yang cukup akan membuat pengalaman berburu barang antik terasa lebih menyenangkan karena setiap kios menawarkan koleksi yang berbeda-beda.
Pasar Triwindu berlokasi di Jalan Diponegoro, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, dan buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Tanpa biaya tiket masuk, destinasi ini menjadi pilihan menarik bagi siapa saja yang ingin mengisi waktu liburan dengan cara berbeda.
Perpaduan sejarah, koleksi barang antik, serta suasana vintage yang khas menjadikan Pasar Triwindu sebagai salah satu destinasi yang layak masuk dalam daftar kunjungan saat berada di Solo.
(@Kompas.Travel/TribunStyle.com/Farah Aulya)