Aula MTs NU Jatipurwo Kendal Diduga Dibakar OTK Pakai Pertalite, Ternyata Bukan yang Pertama
TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Sebuah ruangan aula Mts NU 27 Unggulan Jatipurwo di Dukuh Gempol Kuning Desa Jatipurwo Kecamatan Ringinarum Kendal diduga dibakar oleh Orang Tak Dikenal (OTK), Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 02:30 WIB.
Kebakaran itu menghanguskan sejumlah fasilitas di antaranya kipas angin, meja, kursi, mukena serta sajadah yang ada di dalamnya.
Adapun deretan tumpukan Alquran yang ada di ruangan itu masih utuh. Hanya ada tumpukan abu bekas kebakaran yang menyelimuti Alquran tersebut.
Pantauan di lokasi, kondisi aula yang terbakar masih terasa sedikit panas dengan beberapa tumpukan arang dari benda-benda yang terbakar.
Baca juga: Reaksi Suami saat Suharni Wanita di Wonosobo Mau Namai Anaknya MBG, Ini Panggilan Adek Bayi
Selain itu, dinding yang terbuat dari tembok juga terlihat menghitam dengan cat yang mengelupas di beberapa bagian. Sementara itu, dari luar ruangan, garis polisi juga telah dipasang.
Pengurus Yayasan sekolah, Abdul Rokhman menduga kebakaran itu dilakukan oleh orang tak dikenal.
Dia mengetahui adanya kebakaran itu dari petugas SPPG yang kebetulan hendak berangkat kerja.
Saat itu, petugas SPPG melihat kobaran api dari dalam ruang aula sudah cukup besar.
Merasa panik, petugas SPPG tersebut lalu melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah.
"Yang lihat pertama kali itu petugas SPPG lewat mau berangkat kerja, dia melihat ada api sudah besar. Terus laporan ke kepala sekolah. Setelah itu api dipadamkan bersama-sama oleh warga,"
"Itu indikasinya ada yang sengaja membakar. Tadi dari pihak kepolisian dan Inafis sudah melakukan olah TKP." katanya ditemui, Selasa (12/7/2026).
Rokhman menerangkan, saat kebakaran kondisi ruang aula dalam keadaan tertutup namun tidak dikunci. Selain itu, tidak ada petugas jaga yang siaga 24 jam di lingkungan sekolah.
Meski begitu, Rokhman menegaskan kondisi pintu gerbang depan, dan samping dalam keadaan digembok. Dia mengatakan, pelaku diduga membakar ruang aula itu menggunakan pertalite melalui bagian belakang sekolah.
Di belakang sekolah itu, berbatasan langsung dengan rumah warga tanpa ada gerbang pembatas.
"Sepertinya pakai pertalite karena warnanya hijau, kemungkinan lewat belakang," sambungnya.
Rokhman juga sempat melakukan pengecekan ke ruang aula pada pagi harinya setelah api padam. Dia melihat ada ventilasi jendela dari besi bekas benggangan, yang diduga menjadi sarana pelaku melakukan pembakaran aula.
Meski begitu, saat ini pihak sekolah belum mengetahui siapa pelaku karena di sekolah itu tak dilengkapi CCTV.
"Ada 4 ventilasi, yang tengah memang sudah tidak ada besinya. Tapi kalau yang pojok sini, itu saya baru lihat ada benggangan, sebelumnya belum ada," ungkapnya.
Lebih lanjut, Rokhman menjelaskan pihak sekolah tak memiliki masalah apapun dengan orang tua murid maupun pihak lain.
"Sejauh ini tidak ada masalah dengan pihak manapun, dengan orang tua dengan siapapun tidak ada masalah," terangnya.
Kepala MTs, Falil Ulil Hidayah menerangkan, kejadian serupa juga sempat terjadi pada Kamis (9/7/2026) saat masih liburan sekolah.
Dia yang hendak berangkat untuk menyelesaikan tugas di ruang komputer, kaget saat melihat ada galon Le Mineral berisi cairan warna hijau di depan ruang kelas IX A yang berada di lantai 2 sekitar pukul 08:00 WIB.
Dia mengira cairan itu merupakan mainan anak-anak. Namun dia juga kaget saat melihat ada korek api yang tergeletak di bangku depan ruang kelas.
Setelah dicek, Falil mencium bau khas BBM jenis Pertalite di dalam galon Le Mineral tersebut. Di dalam galon itu, berisi sekitar lebih dari seperempat pertalite.
"Saya kebetulan mau mengerjakan tugas di ruang komputer, karena kan ruang komputernya ada di lantai 2,
"Saya juga kaget melihat ada cairan warna hijau, setelah tak cek kok baunya pertalite, dan kok ada korek api jenis gas juga di bangku," terangnya.
Merasa penasaran, Falil lalu mengecek ke dalam kelas.
Rasa kaget Falil semakin bertambah ketika dia melihat ada bekas kobaran api yang membakar tumpukan buku.
Falil pun langsung melaporkan kejadian itu kepada guru lain yang masuk untuk bertugas.
"Terus saya cek kan, lha kok ada bekas bakaran api, kaget kan saya terus lapor ke guru yang lain," ujarnya.
Falil menuturkan, dirinya lalu kembali lagi ke ruang kelas tersebut bersama guru lain untuk memastikan api benar-benar padam.
"Ternyata masih ada sedikit apinya. Yang terbakar sebagain buku, terutama paket modul pembelajaran. Di situ juga ada pojok baca buku, yang terbakar sebagian," paparnya.
Falil juga menegaskan pihak sekolah tak memiliki masalah apapun dengan pihak lain.
"Tidak ada masalah sama sekali, baik dengan orang tua maupun siswa. Siswa juga naik semua, lulus semua," imbuhnya.
Falil menuturkan, kerugian dari kebakaran ini ditaksir mencapai Rp 75 juta. Falil pun kini terpaksa meliburkan aktivitas pembelajaran hingga waktu yang belum ditentukan.
"Sekolah kami liburkan dulu sementara sampai menunggu hasil penyelidikan dari polisi selesai," sambungnya.
Ditemui terpisah, Kapolsek Rowosari Iptu Akhmad Djoko Puji Laksono menjelaskan pihaknya sudah mendatangi sekolah dan memeriksa sejumlah saksi termasuk guru dan warga.
"Tadi kami sudah ke lokasi dan sudah memeriksa saksi-saksi," imbuhnya.
Dia belum bisa memastikan penyebab kebakaran yang terjadi di sekolah tersebut. Pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan akan mendalami keterangan saksi.
"Kami masih melakukan penyelidikan untuk dan masih kita dalami," tuturnya.
Iptu Akhmad Djoko menjelaskan, pihaknya juga sempat mendapatkan laporan adanya kebakaran serupa di sekolah itu pada Kamis (9/7/2026).
Namun, dia belum memastikan apakah kejadian itu memiliki keterkaitan dengan kebakaran kedua yang terjadi di sekolah tersebut.
Meski begitu, lanjutnya, kedua kebakaran itu diduga dipicu adanya cairan BBM jenis Pertalite.
"Hari Kamis kemarin memang ada laporan ke kami. Dan ternyata hari ini juga ada laporan lagi dari sekolah yang sama, itu ada Pertalite,"
"Kami masih menyelidiki apakah kedua kasus ini memiliki keterkaitan, kita masih dalami kasusnya." tandasnya. (ags)