SMA Kolese De Britto Perkuat Sinergi dengan Orangtua Bentuk Karakter Siswa
Hari Susmayanti July 14, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - SMA Kolese De Britto Yogyakarta secara resmi memulai rangkaian tahun ajaran baru melalui agenda Penyerahan Siswa Baru dan Pra Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Pra MPLS) di Aula Sekolah, Sabtu (11/7/2026).

Acara ini menandai peneguhan komitmen kerja sama antara pihak sekolah dan orangtua dalam mendampingi proses pembentukan karakter siswa yang utuh.

Dalam tradisi pendidikan Jesuit (Ignatian), proses belajar-mengajar dimaknai sebagai perjalanan bersama (companionship).

Pihak sekolah, keluarga, dan siswa dituntut untuk berjalan beriringan guna mengenali panggilan hidup serta mengoptimalkan talenta yang dimiliki setiap individu siswa.

Acara seremonial tersebut diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Romo Aloisius Dian Permana, SJ, dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pada kesempatan ini, pihak sekolah memperkenalkan seluruh jajaran kepemimpinan yang meliputi rektor, direksi, wali kelas, serta asisten wali kelas X yang akan mendampingi para siswa selama tiga tahun ke depan.

Kepala SMA Kolese De Britto, Robertus Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd., memaparkan arah dan roh pendidikan yang menjadi landasan utama institusinya.

Menurut Arifin, keberhasilan pendidikan di Kolese De Britto tidak hanya diukur dari pencapaian akademik semata, melainkan dari integrasi kemanusiaan secara menyeluruh.

"Kami tidak hanya mengejar keberhasilan akademik. Sekolah ini berupaya membentuk pribadi yang memiliki kompetensi, hati nurani, kepedulian sosial, serta keberanian untuk melayani masyarakat," kata Arifin.

Baca juga: ORI DIY Terima 34 Aduan SPMB 2026, Paling Banyak Jenjang SMA dan SMP

Prosesi penyerahan siswa secara simbolis dilakukan oleh Yohanes Heri Widodo selaku perwakilan dari orangtua murid kepada pihak manajemen sekolah.

Penyerahan ini bukan sekadar pemindahan tanggung jawab pengasuhan, melainkan sebuah ikatan komitmen kerja sama dua arah.

Relasi yang setara, keterbukaan komunikasi, dan kesamaan visi antara rumah dan sekolah dinilai sebagai pilar utama keberhasilan pendidikan.

Hadir sebagai pembicara tamu, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang juga merupakan alumni SMA Kolese De Britto, Prof. Dr. (HC). Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., IPU, ASEAN Eng.

Dalam refleksi singkatnya, Bambang membagikan pengalaman bagaimana kultur De Britto membentuk profesionalitasnya saat ini.

"Pendidikan di De Britto bukan sekadar ilmu pengetahuan, melainkan fondasi karakter. Nilai integritas, disiplin, dan semangat melayani tetap hidup dalam diri saya hingga saat ini," ujar Bambang.

Sinergi nyata dalam pola pendampingan anak ini juga diamini oleh Yudianto, orangtua dari siswa baru bernama Yedija Gayuh Pratama.

Berdasarkan pengalamannya, iklim tumbuh kembang anak yang sehat hanya bisa tercipta jika ada kepercayaan penuh antara orangtua dan sekolah.

"Sinergi dan komunikasi yang baik antara sekolah dan rumah sangat penting. Jika kita saling percaya, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang matang," ungkap Yudianto.

Seusai acara bersama di aula, aktivitas kemudian dipecah menjadi dua bagian.

Para siswa baru diarahkan menuju hall lapangan basket untuk mengikuti pembekalan Pra MPLS. Rangkaian orientasi ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari, yakni pada 13–17 Juli 2026.

Masa pengenalan tersebut dirancang secara terstruktur melalui tiga dimensi utama, yakni informatif (pemahaman lingkungan), formatif (pembentukan kebiasaan), dan transformatif (perubahan nilai hidup).

Melalui skema ini, siswa baru didorong untuk mulai menghidupi budaya khas De Britto yang menekankan kesiapan untuk belajar, melayani, dan memimpin.

Di sisi lain, para orangtua tetap berada di dalam aula untuk menerima pemaparan teknis operasional sekolah.

Materi yang disampaikan meliputi struktur kurikulum, sistem pendampingan, penyediaan sarana dan prasarana, administrasi keuangan, hingga jejaring kehumasan. Sesi ini ditutup dengan dialog dua arah yang interaktif.

Menjelang akhir acara, Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ, memberikan peneguhan rohani kepada para orangtua murid agar memandang masa pendidikan tiga tahun ke depan sebagai sebuah ziarah bersama.

"Tiga tahun ke depan adalah perjalanan bersama. Sekolah tidak menggantikan peran orang tua, melainkan menjadi rekan untuk mendampingi anak-anak menemukan panggilan hidupnya," tutur Romo Sugiyo.

Agenda ditutup secara resmi dengan doa yang dipimpin oleh Frater Albertus Alfian Ferry Setiawan, SJ.

Setelah itu, para orangtua melakukan pertemuan perdana yang lebih spesifik bersama wali kelas di ruang kelas masing-masing untuk membangun koordinasi taktis. (*)


 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.