BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan desa Gunungraja, Kecamatan Tambangulang, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, kembali meluas pada Selasa (14/7/2026) siang.
Kobaran api yang dipicu cuaca panas disertai angin kencang semakin mendekati Jalan Ahmad Yani, jalur utama penghubung Pelaihari-Banjarmasin.
Kondisi tersebut mulai meresahkan masyarakat. Asap pekat bahkan telah melintasi badan jalan sehingga mengurangi jarak pandang dan mengganggu pernapasan para pengguna jalan yang melintas di ruas nasional tersebut.
Petugas gabungan bergerak cepat dari berbagai pihak--BPBD, Damkar Satpol PPDK, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, serta masyarakat--melakukan pembasahan.
Baca juga: Isi Kecemasan Warga Desa Padang Tanahlaut Kalsel Pasca Muncul Asap Putih Saat Kebakaran Lahan
Mereka berjuang keras untuk menghalau agar tidak makin meluas. Juga berupaya meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Namun, embusan angin yang cukup kencang membuat api dengan cepat merambat ke semak belukar dan lahan kering di sekitarnya.
Sejumlah armada pemadam disiagakan di tepi jalan untuk mencegah kobaran api semakin mendekati badan jalan dan mengancam keselamatan pengguna jalan.
Salah seorang pengguna jalan, Lisnani, warga Pelaihari yang saat itu sedang mengendarai sepeda motor menuju Banjarmasin, mengaku terkejut melihat besarnya kobaran api di lokasi.
"Awalnya saya kira hanya asap biasa. Pas sudah dekat ternyata apinya besar sekali dan posisinya sudah dekat jalan. Asapnya juga sangat tebal sampai sesak saat bernapas. Saya jadi memperlambat laju motor karena jarak pandang terganggu," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup berbahaya, terutama bagi pengendara roda dua maupun kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi.
"Semoga cepat dipadamkan karena kalau terus membesar bisa membahayakan pengguna jalan. Apalagi ini jalan utama yang ramai dilalui kendaraan," harapnya.
Baca juga: Tanah Kosong di Jalan Belitung Darat Terbakar, BPBD Banjarmasin Ingatkan Ancaman Kebakaran Lahan
Cuaca yang panas dan tiupan angin masih menjadi tantangan utama dalam upaya pengendalian kebakaran tersebut.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)