SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Malang Raya menyatakan siap mendukung pemanfaatan becak listrik sebagai bagian dari paket wisata heritage di Kota Malang.
Namun hingga kini, layanan tersebut belum diimplementasikan karena masih menunggu kesiapan di lapangan dan regulasi dari pemerintah.
Humas DPC HPI Malang Raya, Betharias Lotianingsun, mengatakan selama ini paket wisata yang ditawarkan HPI masih menggunakan becak kayuh (manual). Sementara becak listrik belum pernah dilibatkan dalam pelayanan wisata.
"Kalau becak listrik belum. Becak manual sudah ada dalam paket wisata, sedangkan becak listrik belum," kata Betharias kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, mayoritas pengguna jasa wisata becak merupakan wisatawan mancanegara, terutama dari negara-negara Eropa.
Mereka umumnya ingin merasakan pengalaman menggunakan moda transportasi tradisional sambil menikmati kawasan heritage Kota Malang.
"Kebanyakan yang memesan memang wisatawan mancanegara. Mereka ingin bernostalgia. Kalau wisatawan lokal tidak terlalu banyak," ujarnya.
Baca juga: DPRD Kota Malang Dorong Implementasi Becak Listrik sebagai Transportasi Wisata Segera Direalisasikan
Dalam paket wisata yang selama ini dijalankan, wisatawan diajak berkeliling sejumlah destinasi ikonik Kota Malang, seperti kawasan Kayutangan Heritage, Balai Kota Malang, Klenteng Eng An Kiong, Kampung Warna-Warni, Pasar Besar, Alun-Alun Merdeka, hingga pusat perbelanjaan Sarinah. Paket tersebut biasanya juga dilengkapi dengan makan siang di Rumah Makan Inggil.
Untuk satu rombongan wisata, HPI biasanya menyiapkan lima hingga sepuluh becak. Apabila jumlah peserta lebih banyak, perjalanan dibagi menjadi dua sesi, yakni pagi dan sore hari.
"Paling banyak sekitar 10 becak. Kalau grupnya lebih dari itu biasanya dibagi sesi pagi dan sore. Kalau hanya satu atau dua becak juga bisa kami layani," katanya.
Betharias menjelaskan, becak memiliki nilai sejarah sebagai salah satu moda transportasi tradisional yang menjadi bagian dari identitas kota-kota di Indonesia. Karena itu, keberadaannya tetap memiliki daya tarik bagi wisatawan.
"Ya karena becak dianggap sebagai transportasi tradisional. Setelah Indonesia merdeka, becak mulai banyak digunakan dan sekarang menjadi bagian dari pengalaman wisata," ujarnya.
Ia menyambut positif apabila ke depan becak listrik dilibatkan dalam paket wisata Kota Malang. Menurutnya, penggunaan becak listrik akan memberikan kenyamanan lebih bagi pengemudi maupun wisatawan.
"Kalau becak listrik dilibatkan, kami mendukung selama menunjang kepariwisataan di Malang Raya. Kami senang saja karena lebih ringan bagi pengemudi dan penumpang juga lebih nyaman. Bahkan ada wisatawan yang merasa kasihan melihat pengemudi becak kayuh mengayuh di jalan," katanya.
Baca juga: Becak Listrik Bakal Diatur dalam Perda, Dishub Kota Malang Siapkan Aturan Operasional untuk Wisata
Meski demikian, Betharias menilai implementasi becak listrik sebagai moda wisata hingga kini masih belum terlihat secara nyata. Masih belum ada permintaan dari wisatawan untuk mengakses becak listrik.
Sebelumnya, Kadisporapar Kota Malang, Baihaqi mengatakan bahwa rencana mengintegrasikan becak listrik dengan kebutuhan wisata belum terlaksana. Kendalanya, regulasi yang belum ada.
Baihaqi, mengatakan, pemerintah saat ini masih menunggu penyelesaian regulasi yang tengah disusun oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang.
"Kalau program wisatanya, kami masih menunggu regulasi yang sedang disiapkan Dishub. Tetapi secara pemanfaatan di lapangan sudah berjalan."
"Saya sudah meminta HPI Kota Malang untuk memanfaatkan becak listrik sambil menunggu aturan tersebut selesai," ujar Baihaqi.
Pemkot Malang menggandeng Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Malang sebagai penghubung layanan bagi wisatawan yang ingin menggunakan becak listrik.
Baihaqi mengatakan Disporapar juga terus berkoordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang agar wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, dapat mengakses layanan becak listrik.
"Kalau ada permintaan dari hotel atau wisatawan, kami minta langsung menghubungi HPI. Jadi secara faktual di lapangan sudah dilaksanakan oleh HPI," katanya.
Baihaqi mengakui hingga kini belum terbentuk paguyuban khusus becak listrik. Menurutnya, pembentukan kelembagaan tersebut masih menunggu regulasi yang sedang dimatangkan bersama Dinas Perhubungan Kota Malang.
"Paguyubannya memang belum ada. Semua itu nanti akan diatur dalam regulasi. Pembahasannya sudah beberapa kali dilakukan bersama Dishub, tetapi masih dalam tahap pematangan," ujarnya.
Ia menjelaskan, penyusunan aturan tersebut juga harus diselaraskan dengan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Lalu Lintas yang sedang diproses.
"Karena berbarengan dengan pembahasan Ranperda Lalu Lintas, jadi harus sinkron dengan aturan itu juga," katanya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki mencatat jumlah wisatawan mancanegara meningkat sekitar 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu pada Juli 2026.
Ia mengatakan Juli memang menjadi periode high season bagi sektor pariwisata Indonesia. Momentum tersebut bertepatan dengan libur sekolah serta banyaknya agenda kegiatan yang digelar di Kota Malang, Jawa Timur.
"Kalau Juli ini memang high season. Turis dari Tiongkok, Eropa, sampai Malaysia banyak yang masuk. Bertepatan juga dengan liburan sekolah dan berbagai event di Kota Malang yang menarik wisatawan," ujar Agoes.
Agoes menjelaskan, sebagian besar wisatawan asing menjadikan Kota Malang sebagai daerah transit sebelum melanjutkan perjalanan ke sejumlah destinasi unggulan di Malang Raya, seperti Gunung Bromo, kawasan wisata Batu, Pantai Selatan, hingga kawasan heritage Kayutangan.
Melihat tingginya kunjungan wisatawan, PHRI mencari pengoperasian becak listrik sebagai moda wisata di pusat kota. Menurut Agoes, keberadaan becak listrik dapat menjadi alternatif transportasi ramah lingkungan sekaligus memberdayakan para pengemudi becak.
"Ada wisatawan asing yang mencari becak. Makanya saya teringat lagi janji soal becak listrik. Sekarang mereka naik bentor, padahal maunya becak listrik supaya yang memiliki becak juga bisa lebih berdaya," ujarnya.
PHRI, lanjut Agoes, telah mendapatkan informasi perihal rencana operasional becak listrik di Kota Malang dari Pemerintah Kota Malang. Namun sejauh ini rencana tersebut belum terealisasi.
Bahkan, sedikitnya enam hotel berbintang menyatakan siap bermitra apabila layanan becak listrik mulai dioperasikan. Agoes pun meminta agar program tersebut bisa betul-betul dilaksanakan.
"Kami sudah bicara dengan Pemkot. Ada enam hotel yang siap bermitra. Nantinya kami tawarkan becak untuk wisata heritage dan kuliner, termasuk ke museum, kawasan Jalan Ijen, alun-alun, hingga berhenti di Pasar Oro-Oro Dowo atau sekitar Stadion Gajayana," katanya.
Beberapa hotel yang telah menyatakan minat antara lain Hotel Aria Gajayana, Hotel Pelangi, Hotel Trio, Shalimar Hotel, serta Grand Mercure Malang.
"Kami bahkan sudah mengirimkan foto-foto wisatawan yang mencari becak. Sebetulnya kami sudah siap, hanya saja kami masih kesulitan melacak keberadaan paguyuban becak listrik itu," ujarnya.
Baca juga: Regulasi Masih Digodok, Wisata Becak Listrik di Kota Malang Belum Berjalan