Debit Air Baku Meningkat, PDAM Tirta Taka Nunukan Dorong Percepatan Pengerukan Embung Bolong
Junisah July 14, 2026 05:50 PM

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Nunukan  Kalimantan Utara dalam beberapa hari terakhir membawa dampak positif terhadap ketersediaan air baku Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Taka Nunukan.

Kepala Bagian Teknik PDAM Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah, mengatakan kondisi sumber air baku saat ini jauh lebih baik dibandingkan saat musim kemarau beberapa waktu lalu.

"Untuk ketersediaan air baku beberapa bulan terakhir ini memang sudah aman. Embung Bolong sendiri beberapa kali kapasitasnya sudah melebihi bahkan sampai meluap. Begitu juga dengan Embung Bilal," kata Rusdiansyah kepada TribunKaltara.com, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, curah hujan yang masih terjadi membuat debit air baku tetap terjaga sehingga mampu menambah kapasitas tampungan di Embung Bolong maupun Embung Bilal.

Baca juga: Kemarau Terjadi di Tarakan, PDAM Pastikan Cadangan Air Baku Masih Aman hingga Sebulan Kedepan

Saat ini, tinggi muka air di Embung Bolong berada di angka sekitar 5,70 meter, sedangkan Embung Bilal mencapai sekitar 3,80 meter.

Kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan saat musim kemarau, ketika tinggi muka air di Embung Bolong sempat turun hingga sekitar 85 sentimeter.

"Kalau kemarin saat kemarau, tinggi air di Embung Bolong sempat tinggal sekitar 85 sentimeter. Sekarang kondisinya jauh lebih baik," ujarnya.

Rusdiansyah menjelaskan, meningkatnya debit air baku sangat berpengaruh terhadap pelayanan air bersih kepada pelanggan.

Saat musim kemarau, debit air baku yang masuk hanya berkisar 25 hingga 30 liter per detik. Akibatnya, PDAM harus menyesuaikan distribusi air karena pasokan tidak mampu memenuhi kebutuhan produksi.

Baca juga: Bupati Nunukan Kaltara Harap Pengerukan Embung Air Baku Tuntas Desember 2024: Kami Sudah Perintahkan

Padahal, kebutuhan produksi air di dua instalasi pengolahan air (IPA), yakni IPA Persemaian dan IPA Pasir Putih, mencapai sekitar 115 liter per detik setiap harinya.

"Kalau debit air baku turun, distribusi juga harus kami sesuaikan. Itu yang menyebabkan pelanggan di daerah-daerah tertentu terdampak," jelasnya.

Meski kondisi saat ini aman, PDAM tetap mewaspadai potensi kemarau panjang.

Menurut Rusdiansyah, apabila hujan tidak turun selama sekitar 15 hingga 20 hari, debit air di Embung Bolong dapat kembali turun secara signifikan karena pasokan alami hanya berkisar 25–30 liter per detik.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PDAM berharap pengerukan sedimentasi di Embung Bolong dapat segera direalisasikan.

Ia mengatakan, selama sekitar dua tahun terakhir pengerukan belum bisa dilakukan karena masih terkendala proses perizinan, terutama akses jalan yang melintasi kawasan hutan lindung.

"Kami berharap sedimentasi di Embung Bolong bisa dibersihkan supaya kapasitas tampungnya kembali bertambah. Kendalanya masih pada izin akses jalan untuk mengangkut sedimen," katanya.

Kondisi air baku di Embung Bolong dan Embung Bilal, Jumat (20/12/2024), sore.
AIR BAKU- Ketersedian air baku di Embung Bolong PDAMJ Tirta Taka Nunukan meningkat. (TribunKaltara.com)

Rusdiansyah menjelaskan, berdasarkan data Balai Wilayah Sungai (BWS), kapasitas tampung normal Embung Bolong mencapai sekitar 450 ribu meter kubik, sedangkan Embung Bilal sekitar 85 ribu meter kubik.

Namun, sedimentasi yang terus terjadi diduga telah mengurangi kapasitas tampung embung tersebut.

Selain pengerukan, PDAM Tirta Taka berharap pembangunan sumber air baku baru seperti Embung Sungai Limau maupun pemanfaatan sumber air di kawasan Selisun dapat segera dilanjutkan.

Dengan adanya sumber air baku tambahan, pelayanan air bersih di Nunukan diharapkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada curah hujan.

Rusdiansyah mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak, terutama saat musim kemarau.

"Kami mengajak masyarakat menggunakan air dengan bijak agar pelanggan lain, khususnya yang berada di daerah dengan elevasi lebih tinggi, tetap bisa mendapatkan pelayanan air bersih," pungkasnya.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.