Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi dalam Sebulan, Konflik AS-Iran Kembali Picu Kepanikan Pasar
Muhammad Hadi July 14, 2026 06:03 PM

Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi dalam Sebulan, Konflik AS-Iran di Selat Hormuz Kembali Picu Kepanikan Pasar

SERAMBINEWS.COM – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki hari ketiga berturut-turut.

Meningkatnya aksi saling serang kedua negara memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Dikutip Serambinews.com dari Al Jazeera, Selasa (14/7/2026), harga minyak mentah Brent naik hingga 3,8 persen pada perdagangan Selasa.

Kenaikan tersebut memperpanjang lonjakan sebesar 9,6 persen yang terjadi sehari sebelumnya.

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman September diperdagangkan di level 85,92 dolar AS per barel pada pukul 08.00 GMT.

Harga itu menjadi yang tertinggi sejak 15 Juni 2026.

Baca juga: Trump Kenakan Tarif Jasa Keamanan 20 Persen di Selat Hormuz, Iran: Provokasi, Itu Tidak Masuk Akal

Setelah sempat turun menyusul penandatanganan nota kesepahaman (MoU) damai antara Washington dan Teheran pada Juni lalu, harga Brent kini telah meningkat sekitar 19 persen dibandingkan sebelum perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.

Lonjakan harga tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia apabila konflik terus berlanjut.

AS dan Iran Terus Saling Serang

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pihaknya kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari ketiga berturut-turut.

Menurut militer AS, operasi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal dagang dan warga sipil di Selat Hormuz.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak berukuran besar di Selat Hormuz.

Iran juga meluncurkan rudal serta pesawat nirawak yang menyasar aset militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.

Aksi saling balas tersebut semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan Teluk dan meningkatkan kecemasan pelaku pasar global.

Trump Umumkan Blokade Baru terhadap Iran

Ketidakpastian pasar semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan baru terhadap Iran.

Trump menyatakan AS akan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selain itu, pemerintahannya juga berencana mengenakan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dengan alasan Amerika Serikat bertindak sebagai "penjaga" jalur pelayaran tersebut.

Kebijakan itu dinilai berpotensi memperbesar ketegangan sekaligus menambah ketidakpastian bagi perdagangan internasional.

Baca juga: Trump akan Hancurkan Gunung Pickaxe Iran, Fasilitas Nuklir Misterius yang Kebal Bom Bunker

Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Menurun Drastis

Meningkatnya ancaman keamanan menyebabkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali mengalami penurunan tajam.

Data dari platform pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan hanya terdapat 57 kali pelayaran selama periode Jumat hingga Minggu.

Jumlah tersebut turun lebih dari 50 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, mengatakan aktivitas pelayaran kini hampir kembali ke kondisi sebelum adanya nota kesepahaman damai antara AS dan Iran.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tingginya kekhawatiran perusahaan pelayaran terhadap keamanan di kawasan tersebut.

Baca juga: Mojtaba Khamenei: Balas Dendam Membunuh Trump Kehendak Rakyat Iran

Cadangan Minyak Mulai Menipis

Analis Pasar Minyak Senior Sparta Commodities, June Goh, mengatakan pasar kini semakin rentan terhadap lonjakan harga.

Ia menjelaskan cadangan minyak strategis yang sebelumnya digunakan untuk meredam gangguan pasokan mulai menipis.

Akibatnya, pasar akan lebih sensitif terhadap setiap perkembangan konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, Rory Johnston menilai cadangan minyak yang selama ini menjadi penyangga pasar kini semakin terbatas.

Hal tersebut membuat dunia lebih rentan menghadapi gangguan pasokan apabila konflik terus meningkat.

AS Pastikan Jalur Minyak Tetap Beroperasi

Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Amerika Serikat berusaha meyakinkan pasar bahwa Selat Hormuz tetap dapat digunakan.

Departemen Energi AS menyebut sekitar 8,5 juta barel minyak masih berhasil melewati Selat Hormuz dalam satu hari terakhir dengan pengawalan militer.

Pemerintah AS menegaskan pasokan minyak dunia akan terus dijaga agar tetap mengalir meskipun Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan.

Harga Berpotensi Sentuh 100 Dolar AS

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, memperkirakan harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi apabila konflik terus berlanjut.

Menurutnya, harga minyak Brent dapat menembus level 100 dolar AS per barel apabila pasar menilai risiko kekurangan pasokan benar-benar terjadi.

Para pelaku pasar kini terus mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Selama belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan di Selat Hormuz, harga minyak dunia diperkirakan tetap berada dalam tekanan dan berpotensi kembali mencetak rekor baru dalam beberapa pekan mendatang.

Baca juga: Trump Ancam Gempur Iran Siang-Malam, Sebut Teheran Tak Akan Mampu Menghentikan Serangan AS

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.