TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Dua peristiwa gelombang tinggi yang menerjang pesisir Kota Balikpapan dalam kurun waktu dua pekan terakhir meninggalkan duka sekaligus keresahan bagi warga.
Selain mengakibatkan satu orang meninggal dunia, gelombang besar juga merusak sejumlah bangunan di kawasan Pantai Klandasan.
Fenomena yang tergolong tidak biasa di perairan Kalimantan Timur itu membuat warga pesisir kini dihantui rasa khawatir setiap kali angin bertiup kencang dan ombak mulai membesar.
Salah seorang warga pesisir Klandasan, Samsul Bahri (48), mengaku baru kali ini melihat gelombang laut datang dengan kekuatan sebesar itu.
Baca juga: Disnaker Balikpapan Ungkap Penyebab Ribuan Lowongan Kerja Belum Terserap Maksimal di Job Market Fair
"Biasanya ombak di sini tidak terlalu besar. Kemarin gelombangnya sampai menghantam bibir pantai dengan keras sampai ada rumah warga yang roboh di sana. Kami jadi takut kalau cuaca berubah, apalagi rumah kami dekat pantai," ujarnya kepada TribunKaltim.co, Selasa (14/7/2026).
Hal senada juga disampaikan Nurhayati (52), warga lainnya yang tinggal tidak jauh dari lokasi terdampak. Ia mengaku kini lebih waspada dan memilih membatasi aktivitas di sekitar pantai ketika cuaca mulai memburuk.
"Kalau angin mulai kencang sekarang kami langsung mengingat kejadian kemarin. Anak-anak juga kami larang bermain terlalu dekat pantai karena khawatir gelombang datang tiba-tiba," katanya.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menjelaskan gelombang tinggi dipicu oleh menguatnya pola angin monsun Australia yang menarik massa udara dari arah tenggara menuju barat laut.
Kondisi itu, kata Huda, diperkuat oleh keberadaan Siklon Tropis Buffy yang berkembang di sekitar Laut Filipina bagian timur laut.
"Percepatan angin akibat siklon tersebut membuat gesekan antara angin dan permukaan laut menjadi lebih intens, sehingga memicu gelombang tinggi di sejumlah wilayah, termasuk Balikpapan dan Penajam Paser Utara," ujar Huda kepada Tribunkaltim.co, Selasa (14/7).
Menurutnya, tinggi gelombang saat kejadian mencapai 1,25 hingga 2 meter, jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal perairan Kalimantan Timur yang umumnya berada di bawah 1,25 meter.
Huda menjelaskan, secara geografis perairan Kalimantan Timur tergolong dangkal dan terlindungi oleh gugusan Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara, sehingga kejadian gelombang tinggi seperti ini relatif jarang terjadi.
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan musim kemarau ketika angin monsun Australia mendominasi pergerakan massa udara dari timur menuju barat Indonesia. Akibatnya, kecepatan angin meningkat dan memicu terbentuknya gelombang yang lebih tinggi dari biasanya.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi nelayan tradisional yang menggunakan perahu kecil, pelaku wisata bahari, maupun masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir.
Meski demikian, BMKG memperkirakan kondisi laut akan mulai membaik dalam dua hingga tiga hari ke depan seiring melemahnya Siklon Tropis Buffy yang bergerak menuju daratan Tiongkok.
"Diperkirakan tinggi gelombang dalam dua hingga tiga hari ke depan akan terus menurun hingga di bawah 1,25 meter. Namun kami tetap mengimbau masyarakat pesisir dan nelayan untuk waspada. Jika kecepatan angin masih di atas 30 kilometer per jam, aktivitas di laut lepas tetap berisiko tinggi," jelas Huda. *)