Jaya Antre BBM Setengah Jam Lebih di SPBU Desa Padang Belitung Timur
Ardhina Trisila Sakti July 14, 2026 07:19 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Terik matahari di Desa Padang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Selasa (14/7/2026) siang begitu menyengat kulit. Namun, panasnya cuaca hari itu tidak menyurutkan barisan panjang kendaraan yang mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24.334.138 Desa Padang. 

Pantauan Posbelitung.co menunjukkan kondisi antrean mobil bahkan sudah meluber hingga ke bahu jalan raya di luar area SPBU. Sementara itu, antrean sepeda motor yang berdesakan sudah hampir menyentuh pintu keluar SPBU. 

Pada pengisian jenis bahan bakar Pertalite pihak SPBU membuka masing-masing dua lajur pengisian untuk mobil dan dua lajur pengisian untuk sepeda motor.

Melihat lajur antrean mobil yang sampai mengular ke bahu jalan, Posbelitung.co akhirnya menjumpai satu di antara pengantre. Saat itu, tampak sebuah mobil berwarna hitam terhenti dalam antrean yang lambat.

Di balik kemudi, duduklah Jaya (39). Pria berpotongan rambut cepak yang sabar menunggu gilirannya tiba. 

Saat itu, Jaya bukan sedang ingin berekreasi. Ia adalah seorang petugas keamanan (satpam) yang sehari-hari bertugas menjaga keamanan di SMK Negeri 1 Manggar.

Bagi Jaya, terjebak di tengah antrean panjang SPBU harus ia lalui. Ia kemudian mengaku sudah menghabiskan waktu yang tidak sebentar hanya untuk mendapatkan beberapa liter Pertalite.

"Ada lah sekitar setengah jam lebih saya mengantre di sini. Antreannya memang panjang sekali hari ini, tadi waktu saya baru datang posisinya bahkan sudah sampai keluar dari area pom bensin," ujar Jaya kepada Posbelitung.co, Selasa (14/7/2026). 

Lamanya waktu mengantre diakui Jaya cukup menyita waktu. Meski begitu, ia mengaku tidak memiliki pilihan lain selain tetap bertahan di dalam barisan mobil yang mengular tersebut.

Di sisi lain, Jaya tidak kepikiran untuk membeli BBM dari kios-kios luar. Selain karena keadaan pengecer di Manggar yang hari ini tidak tersedia, ia juga tidak rela membeli BBM yang menurutnya memiliki selisih harga cukup besar. 

"Tidak terpikir untuk beli di kios luar. Harganya jauh sekali bedanya. Di luar itu bensin eceran biasa dijual sampai Rp13 ribu per liter, sedangkan di pom bensin ini harganya Rp10 ribu," jelasnya. 

Jaya mengaku, perbedaan harga tersebut cukup terasa jika diakumulasikan dalam sekali pengisian. Oleh karena itu, ia rela meluangkan waktu demi menghemat pengeluaran. 

"Biar antrenya panjang dan lama, ya rela lah tetap mengantre di sini. Apa boleh buat, keadaan memang sedang seperti ini sekarang," ucapnya. 

Kebutuhan akan Pertalite memang sudah hal yang wajib untuk Jaya. Sebab, tepat hari ini, Selasa (14/7/2026), indikator bahan bakar di dasbor mobil miliknya sudah menunjukkan kondisi kritis, sehingga pengisian tidak bisa lagi ditunda hingga esok hari.

"Kebetulan indikator bensin di dasbor tadi jalannya sudah tinggal segaris saja, jadi memang sudah sangat tipis sekali," ungkapnya. 

Jaya menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, dirinya biasanya melakukan pengisian bahan bakar mobilnya setiap tiga hari sekali. Secara kebetulan, hari ini adalah harinya melakukan pengisian kembali. 

"Kalau hari ini saya tidak memaksa mengantre sampai dapat bensin, besok otomatis tidak bisa dipake untuk antar anak-anak sama istri. Kalau pake motor lumayan sulit karena pertama saya nganternya jauh, kedua ya kalau pake mobil kan bisa nganter sekaligus. Apalagi semuanya harus pagi-pagi sekali besok," terangnya. 

Oleh karena itu, Jaya berharap pihak Pertamina maupun jajaran Pemerintah Kabupaten Belitung Timur, termasuk Bupati Belitung Timur, dapat segera duduk bersama mencari solusi terbaik terkait masalah antrean BBM ini.

"Harapan saya kedepan tentu kondisi ini bisa diperbaiki lagi agar menjadi lebih baik. Kasihan masyarakat kalau setiap mau mengisi bensin harus mengantre panjang seperti ini terus. Semoga ada solusi terbaik dari pemerintah atau Pertamina," harapnya.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.