Lulusan Cumlaude Asal Palembang Ungkap Alasan Pilih Profesi Apoteker UM Bandung
Nolpitos Hendri July 14, 2026 08:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANDUNG - Pengalaman menjalani Pendidikan Profesi Apoteker di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menjadi bekal penting bagi Zakiatun Nufus dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Lulusan cumlaude Program Studi Farmasi STIK Siti Khadijah Palembang itu menilai kampus tersebut tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi kefarmasian, tetapi juga membangun karakter dan etika profesi.

Zakiatun, yang akrab disapa Kia, mengatakan pilihannya melanjutkan studi ke Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) UM Bandung didasarkan pada kualitas tenaga pengajar yang dimiliki kampus tersebut.

"Saya melihat dosen-dosen di UM Bandung memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik. Mayoritas merupakan lulusan perguruan tinggi negeri dan swasta ternama di Indonesia. Itu menjadi salah satu alasan saya yakin kuliah di sini," ujarnya saat menjalani Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di RSJ Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (14/7/2026).

Menurut Kia, proses pembelajaran di UM Bandung berlangsung interaktif. Selain menyampaikan materi, para dosen juga berbagi pengalaman praktik sehingga mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai dunia kerja profesi apoteker.

Ia juga mengaku terbantu dengan fasilitas laboratorium dan sarana praktik yang mendukung pengembangan keterampilan selama mengikuti pendidikan profesi.

Bagi Kia, salah satu keunggulan PSPPA UM Bandung adalah adanya penguatan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) yang dikaitkan dengan etika profesi apoteker.

"Menurut saya, itu yang menjadi keunggulan Prodi Apoteker UM Bandung. Kami tidak hanya belajar tentang obat dan pelayanan kefarmasian, tetapi dibekali pemahaman agama yang berkaitan dengan etika profesi. Bekal itu penting karena apoteker nantinya akan berhadapan langsung dengan masyarakat," tuturnya.

Selama mengikuti pendidikan profesi, Kia merasakan kampus memberikan pembekalan yang memadai sebelum mahasiswa menjalani Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA).

Saat ini, ia tengah menjalani PKPA di Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Aktivitas praktik berlangsung setiap Senin hingga Jumat sebagai bagian dari proses pembentukan kompetensi profesional calon apoteker.

Selain itu, persiapan menghadapi Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI) juga dilakukan melalui pendampingan intensif bersama dosen akademisi maupun dosen praktisi. Mahasiswa rutin mengikuti diskusi, pembahasan kasus, hingga latihan soal.

"Jadi, kami tidak dilepas begitu saja. Sebelum menjalani praktik ataupun menghadapi Uji Kompetensi Apoteker Indonesia atau UKAI, kami mendapat berbagai pembekalan, pendampingan, dan diskusi intensif bersama dosen. Proses itulah yang membuat kami lebih siap dan lebih percaya diri," ujar Kia yang lulus dengan IPK 3,57 dan pernah menjadi asisten dosen.

Menurutnya, prospek karier profesi apoteker masih terbuka luas. Lulusan profesi dapat bekerja di rumah sakit, puskesmas, apotek, industri farmasi, pedagang besar farmasi, dinas kesehatan, hingga BPOM. Selain itu, peluang menjadi wirausaha dengan mendirikan apotek juga tersedia bagi apoteker yang memenuhi ketentuan profesi.

Karena itu, Kia mengajak lulusan Sarjana Farmasi yang ingin berkarier sebagai apoteker untuk tidak menunda melanjutkan pendidikan profesi.

"Kalau ingin berkarier sebagai apoteker, jangan ragu melanjutkan ke pendidikan profesi. Selain menjadi syarat legal untuk bekerja, peluang kariernya juga sangat luas. Bahkan, kita juga punya kesempatan membangun usaha sendiri di bidang farmasi," ujarnya.

Bagi Kia, pendidikan profesi bukan sekadar jalan untuk memperoleh gelar tambahan, tetapi menjadi proses membentuk tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi, etika, dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. (Tribunpekanbaru.com/hes)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.