Angkat Potensi Lokal Kampar, Mahasiswa UIN Suska Riau Raih Juara Umum Esai Nasional
Nolpitos Hendri July 14, 2026 08:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Potensi lokal Riau kembali mendapat perhatian di tingkat nasional. Kali ini, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau berhasil meraih juara umum dalam kompetisi esai nasional.

Prestasi itu diraih lewat sejumlah inovasi. Mulai dari pengembangan ikan salai patin, bioplastik daun katuk, tradisi Balimau Kasai, hingga pelestarian musik Calempong Oguong.

Kompetisi berlangsung di Kota Padang, Sumatera Barat, pada 11–12 Juli 2026. Ajang tersebut digelar Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda), BEM Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim, INSAN Universiti Sains Islam Malaysia, serta FKI Rabbani Universitas Andalas.

Tim UIN Suska Riau diperkuat enam mahasiswa. Mereka adalah M. Duta Ardandi Pratama, Zera Erika, Deswara Alfareza Putra Arifin, M. Falhan Arifin, Miftahul Jannah, dan Resti Audia.

Dalam kompetisi tersebut, tim membawa tujuh inovasi. Seluruh karya diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Empat karya berhasil menembus babak final. Masing-masing pada kategori lingkungan, pangan, budaya, dan pariwisata.

Hasilnya, UIN Suska Riau memborong sejumlah penghargaan. Tim meraih juara umum dan Juara Harapan III seluruh kategori.

Mereka juga membawa pulang satu Gold Medal kategori pangan. Tiga Silver Medal diraih dari kategori lingkungan, budaya, dan pariwisata.

Selain itu, dua karya meraih Best Favorite Poster pada kategori budaya dan pariwisata. Tim juga mendapatkan penghargaan Best Paper kategori pariwisata dan budaya.

Salah satu karya unggulan tim adalah Reinventing Ikan Salai Patin. Inovasi pangan fungsional ini dikembangkan dari potensi lokal Kabupaten Kampar.

Inovasi tersebut tidak hanya memanfaatkan daging ikan patin. Kulit ikan yang memiliki kandungan protein tinggi juga diolah menjadi produk bernilai tambah.

Konsep itu diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan berkelanjutan. Sekaligus mengembangkan produk lokal agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Melalui karya Reinventing Ikan Salai Patin, tim UIN Suska Riau berhasil masuk sembilan besar nasional.

Pada babak penentuan, para peraih Gold Medal dari masing-masing kategori kembali bersaing. Tim UIN Suska Riau akhirnya keluar sebagai juara umum.

Ketua tim, M. Duta Ardandi Pratama, Selasa (14/7/2026) mengatakan prestasi tersebut diraih melalui proses panjang. Tim tidak ingin karya yang dibuat hanya menjadi tulisan untuk perlombaan.

"Kami ingin membuktikan bahwa sebuah esai tidak hanya berhenti sebagai tulisan. Inovasi yang kami angkat harus mampu diwujudkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi tersebut.

Karena itu, tim turun langsung ke lapangan. Mereka melakukan observasi dan survei di sejumlah wilayah Kabupaten Kampar.

Riset banyak dilakukan di Kecamatan XIII Koto Kampar dan Desa Koto Mesjid. Tim juga berdiskusi dengan berbagai pihak untuk memahami potensi serta persoalan di daerah.

"Kami melakukan observasi, survei lapangan, hingga berdiskusi dengan berbagai pihak agar inovasi yang kami tawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan daerah," katanya.

Selain ikan salai patin, tim UIN Suska Riau juga menawarkan inovasi KATUKPOLI pada bidang lingkungan.

KATUKPOLI merupakan konsep bioplastik berbahan selulosa daun katuk. Produk tersebut ditawarkan sebagai alternatif pengganti plastik konvensional yang sulit terurai.

Inovasi ini memanfaatkan potensi hayati lokal. Pada saat bersamaan, konsep tersebut mencoba menjawab persoalan sampah plastik.

Pada bidang pariwisata, mahasiswa UIN Suska Riau membawa konsep ECO-BALIMAU KASAI.

Inovasi ini mencoba merekonstruksi tradisi Balimau Kasai melalui konsep green event management. Pelaksanaan kegiatan budaya didorong agar lebih memperhatikan kelestarian lingkungan.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan generasi muda menjadi bagian penting dalam konsep tersebut. Tujuannya agar festival budaya tetap hidup tanpa mengabaikan dampak terhadap lingkungan.

Sementara pada bidang budaya, tim mengangkat Calempong Oguong. Alat musik tradisional khas Kampar itu dikembangkan melalui konsep Youth-Driven Innovation.

Musik tradisional dipadukan dengan unsur musik modern. Cara tersebut diharapkan mampu menarik perhatian generasi muda. Namun, nilai budaya dan identitas Calempong Oguong tetap dipertahankan.

Duta menjelaskan, persiapan kompetisi dilakukan selama sekitar dua bulan. Proses dimulai dari menyusun ide. Setelah itu, setiap konsep diperkuat melalui mini riset dan konsultasi.

Tim kemudian menyempurnakan naskah ilmiah. Mereka juga berlatih untuk menghadapi presentasi pada babak final.

Sebelum mengikuti kompetisi, tim turut melakukan audiensi dengan sejumlah pemangku kepentingan.

Di antaranya Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Kampar, Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Riau, serta Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Riau.

Menurut Duta, dukungan berbagai pihak menjadi motivasi bagi tim. Mereka berharap inovasi yang dibawa tidak berhenti setelah kompetisi selesai.

Tim dibimbing Nadia Omara, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau. Pendampingan juga diberikan Misel Friledia Rahmadhani atau yang akrab disapa Kak Icen. Alumni UIN Suska Riau tersebut memiliki pengalaman dalam berbagai kompetisi karya tulis ilmiah tingkat nasional.

Keduanya memberikan arahan dalam penyusunan konsep inovasi. Pendampingan juga dilakukan hingga tahap penyempurnaan karya ilmiah.

Bagi Duta dan kawan-kawan, gelar juara umum menjadi kebanggaan tersendiri. Prestasi tersebut dinilai bukan hanya membawa nama tim.

"Prestasi ini bukan hanya milik tim kami, tetapi juga milik UIN Suska Riau dan Provinsi Riau," katanya.

Ia berharap inovasi yang telah dirancang dapat dikembangkan lebih lanjut. Kolaborasi pemerintah, akademisi, tokoh adat, dan generasi muda dinilai sangat dibutuhkan.

"Kami berharap inovasi-inovasi ini dapat dikembangkan bersama pemerintah, akademisi, tokoh adat, dan generasi muda sehingga benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Duta juga mendorong mahasiswa agar berani mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah. Namun, karya yang dibuat harus berangkat dari persoalan nyata.

"Jangan hanya menulis sebuah karya untuk lomba. Dalami masalahnya, lakukan riset, hadirkan solusi yang realistis, dan pikirkan bagaimana ide itu dapat direalisasikan," katanya.

Menurutnya, sebuah karya ilmiah harus memiliki manfaat jangka panjang.

"Esai yang baik adalah esai yang mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat," katanya. 

Keberhasilan mahasiswa UIN Suska Riau menunjukkan potensi lokal dapat menjadi sumber inovasi. Ikan patin, daun katuk, Balimau Kasai, hingga Calempong Oguong tidak hanya dilihat sebagai kekayaan daerah.

Di tangan generasi muda, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi inovasi baru. Karya yang diharapkan mampu menjawab persoalan lingkungan, pangan, budaya, dan pariwisata secara berkelanjutan.  

(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.