- Serangan udara Arab Saudi ke wilayah Yaman dilaporkan mendapat dukungan langsung dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dukungan tersebut diberikan setelah Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Trump sebelum operasi militer dimulai pada Minggu (12/7).
Menurut laporan Axios, MBS berkoordinasi dengan Washington untuk memperoleh legitimasi politik sebelum jet tempur Saudi membombardir sejumlah sasaran di Yaman.
Langkah itu dipicu kekhawatiran Riyadh terhadap dugaan pengiriman persenjataan canggih Iran kepada kelompok Houthi.
Ketegangan semakin meningkat setelah pesawat komersial Iran, Mahan Air, mendarat di Bandara Sanaa yang dikuasai Houthi.
Penerbangan tersebut diduga tidak hanya membawa delegasi Houthi dari Teheran, tetapi juga komponen rudal balistik, drone, dan penasihat militer dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sebagai respons, jet tempur koalisi Saudi membombardir landasan pacu Bandara Sanaa untuk menghalangi pergerakan pesawat tersebut.
Akibatnya, pesawat Iran terpaksa mengalihkan pendaratan ke Al Hudaydah di pesisir Laut Merah Yaman.
Beberapa jam kemudian, kelompok Houthi melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik dan drone yang menyasar Bandara Internasional Abha di barat daya Arab Saudi.
Houthi juga memperingatkan maskapai internasional agar tidak melintasi wilayah udara Arab Saudi hingga blokade terhadap Bandara Sanaa dicabut.
Di tengah eskalasi tersebut, IRGC dilaporkan meluncurkan gelombang serangan rudal balistik dan rudal jelajah yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Yordania.