Yatim Piatu Seketika, Kaki Kanan Bocah 10 Tahun Korban Kecelakaan Maut di Ciperna Harus Diamputasi
Ravianto July 14, 2026 08:46 PM

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Tragedi kecelakaan maut truk pengangkut air mineral di Jalan Raya Cirebon-Kuningan, Desa Ciperna, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, menyisakan duka yang sulit dibayangkan.

Seorang bocah perempuan berusia 10 tahun 11 bulan kini menjadi satu-satunya anggota keluarga yang selamat setelah ayah, ibu dan adiknya yang masih bayi meninggal dunia.

Di tengah kehilangan tersebut, bocah itu juga harus menjalani amputasi kaki kanan akibat luka yang sangat parah.

Ketua Tim Kerja Evaluasi Pelayanan dan Sarana Prasarana Medis RSD Gunung Jati Cirebon, dr. Ika Komala, Sp.KN-TM, mengungkapkan seluruh anggota keluarga korban sempat dibawa ke rumah sakit usai kecelakaan.

"Yang dua sudah meninggal di tempat, yaitu ibu dan bayi, sehingga langsung dibawa ke ruang jenazah. Sedangkan ayah dan anak dibawa ke IGD karena masih hidup."

"Ayahnya mendapatkan perawatan sekitar satu jam, tetapi tidak bertahan dan meninggal dunia di ruang gawat darurat."

"Sementara anaknya sempat dirawat di PICU dan hari ini sudah menjalani operasi amputasi kaki kanan. Operasinya sudah selesai dan sekarang kembali dirawat di PICU," ujar dr. Ika saat diwawancarai media, Selasa (14/7/2026).

Baca juga: SAKSI KATA: Tragedi Truk Rem Blong di Gronggong Cirebon Tewaskan Satu Keluarga, Pelukan Terakhir Ibu

Menurutnya, keputusan amputasi diambil setelah tim dokter menilai kondisi kaki kanan korban sudah tidak mungkin lagi dipertahankan.

"Waktu datang, anak ini dalam kondisi sadar. Tetapi kaki kanannya sudah hancur bagian bawahnya sampai mendekati lutut. Kondisinya memang sudah tidak bisa kami selamatkan. Untuk mencegah infeksi dan komplikasi lainnya, akhirnya diputuskan dilakukan tindakan amputasi," ucapnya.

Dr. Ika menjelaskan, operasi berlangsung sekitar tiga jam, dimulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB.

"Tadi operasinya dari jam delapan sampai sekitar jam sebelas. Saat keluar dari kamar operasi masih dalam pengaruh anestesi, jadi masih tidur. Namun kondisinya sudah aman dan secara bertahap akan kembali sadar," jelas dia.

Meski mengalami cedera berat pada kaki, korban tidak mengalami trauma serius pada organ tubuh lainnya.

"Secara umum tidak ada laporan trauma di perut atau bagian tubuh lainnya. Yang ada hanya luka-luka lecet di wajah dan beberapa bagian tubuh. Luka beratnya memang di kaki," katanya.

Ia menambahkan, setelah kondisi pasien stabil, rumah sakit akan memindahkan korban dari ruang PICU ke ruang perawatan biasa sebelum akhirnya diizinkan pulang.

Namun, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada kondisi fisik.

Rumah sakit juga akan memberikan pendampingan psikologis mengingat korban baru saja kehilangan seluruh keluarga intinya dalam satu peristiwa.

"Kalau nanti kondisinya sudah stabil akan dipindahkan ke ruang biasa. Sebelum pulang, kami juga akan memastikan kondisi kejiwaannya. Di rumah sakit ada psikolog yang akan melakukan asesmen agar pasien pulang dalam kondisi yang aman, baik secara fisik maupun psikis," ujarnya.

Dr. Ika juga mengungkapkan, saat ini keluarga dari pihak ayah maupun ibu terus mendampingi korban selama menjalani perawatan di rumah sakit.

"Ada keluarga dari pihak ayah dan dari pihak ibu yang mendampingi pasien," ucap dr Ika.

Sementara itu, tiga anggota keluarga korban yang meninggal dunia telah dimakamkan oleh pihak keluarga.

"Informasi dari keluarga, ketiganya sudah dimakamkan hari ini," jelas dia. 

Kronologi

Truk pengangkut ribuan botol air mineral yang melaju dari arah Kuningan menuju Kota Cirebon diduga kehilangan kendali sebelum menghantam sejumlah sepeda motor dan sebuah warung di pinggir jalan.

Dalam penyelidikan terbaru, polisi mengungkap pengakuan sopir yang menyebut truk mulai kehilangan kendali sekitar 120 meter sebelum lokasi tabrakan.

Namun, hasil pemeriksaan awal Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon belum menemukan bukti bahwa kecelakaan dipicu rem blong.

Dishub justru menemukan kejanggalan pada sistem angin kendaraan, yakni tabung angin yang digunakan secara bersamaan untuk rem dan klakson, sehingga pemeriksaan lanjutan masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan.

Tragedi tersebut menewaskan tiga orang dari satu keluarga, yakni seorang ibu, bayi berusia tujuh bulan, serta sang ayah yang sempat menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kini, hanya sang anak yang masih bertahan dan harus memulai hidup baru dengan luka fisik sekaligus kehilangan orang-orang terdekatnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.